Awal Mula Pendirian Aswaja
Al Imam Abu Hasan Al Asy'ari lahir pada tahun 260 H. Pada mulanya beliau
adalah seorang pengikut Madzhab Mu'tazilah, yang diajarkan oleh ayah tirinya yaitu
Imam Ali Al Jubba'i Al Mu'tazili. Bahkan Al Imam Al Asy'ari sering menggantikan
ayah tirinya itu untuk menghadiri Majelis perdebatan, dan semua orang mengakui
kecerdesannya dan ilmunya. Sehingga, sempat sampai pada usia 40 tahun Al Imam Al Asy'ari menjadi Imam
Mu'tazilah. Akhirnya, beliau keluar dari Madzhab Mu'tazilah dikarenakan muncul
sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh ayah tirinya yaitu Ali Al Jubba'i,
yang mengundang keraguan hati dan akal fikir beliau.
Beliau bertanya
kepada Ali Al Jubba'i mengenai bagaimana tanggapan ayahnya tentang tiga
bersaudara yang meninggal dalam keadaan yang berbeda. Ini pertanyaan beliau:
Pertama mengenai orang yang mati dalam keadaan taat.
Kedua mengenai orang yang mati dalam keadan bermaksiat.
Ketiga mengenai anak kecil (belum baligh) yang sudah mati.
Ali Al Jubba'i menjawabnya : Orang yang pertama mati dalam keaadan taat masuk surga, sedangkan yang kedua masuk neraka karna bermaksiat dan yang ketiga anak yang mati masih kecil tidak masuk surga tidak pula neraka. Tentu saja jawaban itu membuahkan keganjilan dalam hati beliau yang mana dalam alqurn dal hadis banyak pernyataan yang menempatkan posisi seorang anak yang meninggal berada didalam keadaan fitrah, karena belum terjamah dosa.
Timbul pertayaan lagi di benak Imam Asy'ari, jika orang yang mati dalam keadaan kecil kemudian dia menggugat kepada Allah : "Wahai Tuhanku kenapa engkau tidak matikan saya dalam keadaan besar saja, maka aku akan selalu berbuat t'at kepadaMu, sehingga aku bisa masuk surga?".
Ali Al Jubba'i menjawabnya : "Maka, Allah akan menjawab : "Sesungguhnya aku lebih mengetahui dari pada engkau, jika Aku besarkan engkau niscaya engkau akan bermaksiat sehingga engkau akan masuk neraka, maka alangkah baiknya Aku wafatkan dirimu dalam keadaan kecil".
Kemudian Al Imam Al Asy'ari bertaya lagi : "Jika orang yang kedua yaitu orang yang mati dalam keadaan bermaksiat, kemudian dia juga menggugat kepada Allah : "Wahai Tuhanku, mengapa engkau tidak matikan diriku dalam keadaan kecil saja, sehingga aku dan para Ahli Neraka tidak masuk Neraka".
Akhirnya Imam Ali Al Jubba'i menjawabnya : "Wahai Asy'ari, kamu sudah menyalahi aturan Aqidah yang sudah ada".
Akhirnya Al Imam Asy'ari keluar dari Madzhab Mu'tazilah yang dikatakan bahwa Madzhab Mu'tazilah selalu mendahulukan/mengunggulkan Rasio (akal), tanpa melihat makna hadis yang lain dan banyak pernyataan sunnah dan alqurn yang bertentangan dengan tanggapan beliau Imam Al Jubba’i. Karena itu, terlihat dimata Imam Asy’ari bahwa pemahaman demikian hanya berdasarkan teori logika yang tak melihat banyaknya kayyid dalam sunnah yang tak terjamah logika mereka. Setelah perdebatan tersebut sudah tidak terpecahkan oleh ayah tirinya beliau Ali Al-Jubba'i, pada waktu itu Al-Imam Asy'ari keluar menuju Menara Masjid Jami' Bashroh, kemudian naik ke Mimbar dengan suara yang sangat keras seraya berkata :
"Wahai para Manusia, barang siapa yang kenal padaku sungguh aku telah mengenalnya dan barang siapa yang tidak kenal kepadaku maka aku akan perkenalkan diriku siapa aku sebenarnya. Aku adalah Ali Bin Isma'il Bin Abi Basyar Ishaq Bin Salim Bin Ismail Bin Abdullah Bin Musa Bin Bilal Bin Abi Burdah Bin Shohib Rosulallah Sollallahu Alaihi Wasallam Abi Musa Abdullah Bin Qois Al-Asy'ari, dan aku adalah orang yang mengatakan bahwa Al-Qur'an Al-Karim adalah Makhluq dan Allah SWT tidak bisa dilihat di akhirat dengan suatu pandangan, begitupun seorang hamba yang menjadikan pekerjaannya dengan kehendaknya sendiri. Semua perkataanku ini aku cabut dan aku bertaubat dari Madzhab Mu'tazilah, dan aku telah membantah mereka (Mu'tazilah) dengan kejelekan-kejelekan mereka".
"Wahai para manusia, jika di antara kalian tidak ada yang hadir pada saat ini sungguh aku telah mempunyai Dalil yang mencukupi untuk bekal hidup. Dan aku tidak mengunggulkan sesuatu apapun dengan sesuatu yang lain. Dengan dalil ini Allah telah memberikan petunjuk kepadaku menuju Aqidah yang lurus. Dan sungguh aku telah mencabut semuanya yang dulu aku yakini Aqidah Mu'tazilah sebagaimana aku mencabut baju yang dipenuhi kotoran dan telah aku buang jauh-jauh baju itu, dan yang aku ikuti sekarang adalah Madzhab yang benar yang merupakan Madzhabnya para Fuqoha' dan Muhadditsin".
Pertama mengenai orang yang mati dalam keadaan taat.
Kedua mengenai orang yang mati dalam keadan bermaksiat.
Ketiga mengenai anak kecil (belum baligh) yang sudah mati.
Ali Al Jubba'i menjawabnya : Orang yang pertama mati dalam keaadan taat masuk surga, sedangkan yang kedua masuk neraka karna bermaksiat dan yang ketiga anak yang mati masih kecil tidak masuk surga tidak pula neraka. Tentu saja jawaban itu membuahkan keganjilan dalam hati beliau yang mana dalam alqurn dal hadis banyak pernyataan yang menempatkan posisi seorang anak yang meninggal berada didalam keadaan fitrah, karena belum terjamah dosa.
Timbul pertayaan lagi di benak Imam Asy'ari, jika orang yang mati dalam keadaan kecil kemudian dia menggugat kepada Allah : "Wahai Tuhanku kenapa engkau tidak matikan saya dalam keadaan besar saja, maka aku akan selalu berbuat t'at kepadaMu, sehingga aku bisa masuk surga?".
Ali Al Jubba'i menjawabnya : "Maka, Allah akan menjawab : "Sesungguhnya aku lebih mengetahui dari pada engkau, jika Aku besarkan engkau niscaya engkau akan bermaksiat sehingga engkau akan masuk neraka, maka alangkah baiknya Aku wafatkan dirimu dalam keadaan kecil".
Kemudian Al Imam Al Asy'ari bertaya lagi : "Jika orang yang kedua yaitu orang yang mati dalam keadaan bermaksiat, kemudian dia juga menggugat kepada Allah : "Wahai Tuhanku, mengapa engkau tidak matikan diriku dalam keadaan kecil saja, sehingga aku dan para Ahli Neraka tidak masuk Neraka".
Akhirnya Imam Ali Al Jubba'i menjawabnya : "Wahai Asy'ari, kamu sudah menyalahi aturan Aqidah yang sudah ada".
Akhirnya Al Imam Asy'ari keluar dari Madzhab Mu'tazilah yang dikatakan bahwa Madzhab Mu'tazilah selalu mendahulukan/mengunggulkan Rasio (akal), tanpa melihat makna hadis yang lain dan banyak pernyataan sunnah dan alqurn yang bertentangan dengan tanggapan beliau Imam Al Jubba’i. Karena itu, terlihat dimata Imam Asy’ari bahwa pemahaman demikian hanya berdasarkan teori logika yang tak melihat banyaknya kayyid dalam sunnah yang tak terjamah logika mereka. Setelah perdebatan tersebut sudah tidak terpecahkan oleh ayah tirinya beliau Ali Al-Jubba'i, pada waktu itu Al-Imam Asy'ari keluar menuju Menara Masjid Jami' Bashroh, kemudian naik ke Mimbar dengan suara yang sangat keras seraya berkata :
"Wahai para Manusia, barang siapa yang kenal padaku sungguh aku telah mengenalnya dan barang siapa yang tidak kenal kepadaku maka aku akan perkenalkan diriku siapa aku sebenarnya. Aku adalah Ali Bin Isma'il Bin Abi Basyar Ishaq Bin Salim Bin Ismail Bin Abdullah Bin Musa Bin Bilal Bin Abi Burdah Bin Shohib Rosulallah Sollallahu Alaihi Wasallam Abi Musa Abdullah Bin Qois Al-Asy'ari, dan aku adalah orang yang mengatakan bahwa Al-Qur'an Al-Karim adalah Makhluq dan Allah SWT tidak bisa dilihat di akhirat dengan suatu pandangan, begitupun seorang hamba yang menjadikan pekerjaannya dengan kehendaknya sendiri. Semua perkataanku ini aku cabut dan aku bertaubat dari Madzhab Mu'tazilah, dan aku telah membantah mereka (Mu'tazilah) dengan kejelekan-kejelekan mereka".
"Wahai para manusia, jika di antara kalian tidak ada yang hadir pada saat ini sungguh aku telah mempunyai Dalil yang mencukupi untuk bekal hidup. Dan aku tidak mengunggulkan sesuatu apapun dengan sesuatu yang lain. Dengan dalil ini Allah telah memberikan petunjuk kepadaku menuju Aqidah yang lurus. Dan sungguh aku telah mencabut semuanya yang dulu aku yakini Aqidah Mu'tazilah sebagaimana aku mencabut baju yang dipenuhi kotoran dan telah aku buang jauh-jauh baju itu, dan yang aku ikuti sekarang adalah Madzhab yang benar yang merupakan Madzhabnya para Fuqoha' dan Muhadditsin".
Ini menyatakan
bahwa beliau menentang anggapan kaum Mu’tazilah tentang pemahaman mereka yang
hanya bersandar pada argumen dan logika mereka saja, tanpa melihat keterkaitan
dan kesimpulan hadis lain yang jelas bertentangan dengan akidah mereka. Seperti
hal nya banyak pernyataan para oknum pembid’ah menyimpulkan makna hadis hanya
dengan perubahan arti saja, tanpa melihat murod dan hadis lain yang saling
berkaitan.
Di antara murid Al-Imam Abul Hasan Al-Asy'ari
1. Al Imam Abu Hasan Al Bahili Al Bashri.
2. Al Imam Abu Abdullah Bin Mujahid Al Basri.
3. Al Imam Abu Muhammad Ath Thobari Al Ma'ruf Bil Iroqi.
4. Al Imam Abu Bakar Al Qoffal Asy Syasi.
5. Al Imam Abu Sahal Ash Shohluki An Naisaburi.
Di antara penerus Ulama' Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
1. Al Imam Al Qodi Abi bakar Al Bakilani Al Maliki.
2. Al Imam Abu Thoyyib Bin Abi Sahal Ash Shohluki.
3. Al Imam Abu Ali Ad-Daqqok.
4. Al Imam Al-Hakim An-Naisaburi.
5. Al Imam Abu bakar Bin Furok.
6. Al Imam Al-Hafidz Abu Nu'aim Al-Asbahani.
Beliau semua adalah murid dan murid dari muridnya Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari yang telah membangkitkan tegaknya Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di seluruh dunia, yang selalu menyampaikan Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di siang hari dan malam hari, mereka juga adalah orang yang menjunjung nama besar Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Komentar Ulama' tentang Al-Imam Abul Hasan Al Asy'ari
1. Al Imam Al Hafidz Ibnu 'Asakir berkata :
"Al
Imam Al Asy'ari adalah orang yang perpegang teguh dengan Al Qur'an dan
As-Sunnah, orang yang sabar atas Agamanya dan penyabar atas cobaan-cobaan dan
ujian yang menimpanya".
2. Al Imam Al Hafidz Al Baihaqi berkata :
2. Al Imam Al Hafidz Al Baihaqi berkata :
"Al
Imam Abul Hasan Al Asy'ari adalah Imam Mujaddid di abad ketiga dan Al Imam Al Asy'ari
tidak memperbarui Agama Allah dan tidak mendatangkan Bid'ah, bahkan Al Imam Al Asy'ari
mengumpulkan Qoul-Qoulnya para sahabat dan tabi'in dan penolong Qoul-Qoulnya
para Imam Mujtahid seperti Imam Abu Hanifah, Imam Sofyan Ats Tsauri dari Ahli
Kufah, dan Imam Al Auza'i dari Ahli Syam, dan Imam Malik, Imam Syafi'i dari
Ahli Haromain, dan Imam Ahmad Bin Hanbal Imam, Al Laits Bin Sa'at, Imam Abi Abdullah
Muhammad Bin Isma'il Al Bukhori dan Imam Abu Al Husain Muslim Bin Al Hujjaj An Naisaburi
dari Ahli hadist dan Atsar".
3. Sulthon Al Ulama' Al Imam Izzuddin berkata :
3. Sulthon Al Ulama' Al Imam Izzuddin berkata :
"Sesungguhnya
Aqidahnya Al-Imam Al-Asy'ari adalah Aqidah yang dikumpulkan dari Madzhab 4, yaitu
: Al Imam Abu Hanifah, Al Imam Malik, Al Imam Asy Syafi'i dan Al-Imam Ahmad Bin
Hanba. Sungguh telah disepakati pada masanya Al Imam Umar Bin Al-Hajib dari
kalangan Malikiyah dan juga disepakati pada masanya Al Imam Jamaluddin Al Husairi
dari kalangan Hanafiyah".
4. Al Imam Ibnu Kholkon berkata :
4. Al Imam Ibnu Kholkon berkata :
"Al
Imam Al Asy'ari adalah Sang Pendiri Ilmu Teologi (Ilmu Tauhid) dan penegak ilmu
Agama, pembela Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Memang awal mulanya Al Imam
Abu Hasan Al Asy'ari adalah penganut Madzhab Mu'tazilah tapi di kemudian hari
Al-Imam Abu Hasan Al Asy'ari bertaubat dari semua perkataanya".
5. Al Imam Ibnu Furok berkata :
5. Al Imam Ibnu Furok berkata :
"Pindahnya
Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari kepada Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dengan
Hujjah 'Aqliyah (Argumen Rasio/Akal)".
6. Al Imam Al Hafidz Adz Dhahabi juga berkata :
"Sesungguhya
Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari bertaubat dan menaiki Mimbar Masjid Jami' Bashroh
dan Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari berkata : "Sungguh aku bertaubat dari
apa yang aku katakan dan aku membantah Madzhab Mu'tazilah yang selalu
mengandalkan akalnya".
Beliau mempunyai karangan lebih dari 200 karangan diantaranya:
Beliau mempunyai karangan lebih dari 200 karangan diantaranya:
Kitab Al Ibanah,
tapi kitab ini sudah banyak yang di Tahrif (perubahan) oleh para Wahabi, sehinggan
seakan ada yang berbeda dan bahkan bertentangan dengan cetakan asli kitabnya
yang turun temurun depelihara keasliannya, cuman ada sebagian cetakan kitab Al Ibanah
sedikit yang ditahrif versi cetakan Baghdad.
Kitab Al Luma', yaitu kitab yang juga dikarang oleh Al Imam Al Asy'ari setelah mengarang kitab Al Ibanah.
Kitab Al Luma', yaitu kitab yang juga dikarang oleh Al Imam Al Asy'ari setelah mengarang kitab Al Ibanah.
Pemahaman
beliau yang bijaksana dan tak ada pertentangan dengan akal dan hadis serta al
quran, sehingga menjadi selaras dengan akal dan hati, serta menjadi temurun
pemahaman beliau dalam beragama hingga kini di seluruh dunia. Sehingga dalam
tauhid semuanya merujuk pada pemahaman beliau, meskipun berbeda thariqat yang
di tempuh tapi berdasar ketauhidan yang sama di seluruh dunia. Thariqat adalah
sebuah perjalanan menempuh kehidupan sesuai ajaran agama, yang diprakarsai oleh
seorang shalafu sholeh dengan faham tauhid yang tak menyekutukan Allah dengan
apapun dalam melaksanakan kehidupannya.
Jika anda
merasa kurang yakin, maka coba saja anda bandingkan kitab karangan dari beliau
cetakan dulu dari ulama aswaja dengan cetakan yang dibawa wahabi. Pasti akan
jelas ada perbedaan, apalagi sekarang sudah banyak bukti yang menyatakan
perbuatan pemalsuan mereka. Dan bagaimana mungkin kitab yang selama beratus
tahun lama nya isi nya sama, tiba-tiba menjadi berubah isinya dengan cetakan
yang dibawa oknum wahabi tersebut. Sehingga mengundang tanya akan apa yang
terjadi.
Wallahu a’lam
No comments:
Post a Comment