Tuesday, January 16, 2018

Asal Mula Maulid Al Berjanzi



Asal Mula Maulid Barjanzi

Mauludan atau sering dikenal dengan muludan, merupakan hal yang sudah melembaga dan di tetapkan sebagai hari nasional di Indonesia. Setiap bulan rabi’ul awal, semua mayoritas muslim seperti ormas Islam, masjid, pesantren, institusi pendidikan, majlis ta’lim, telah siap sedia untuk menyambut hari kelahiran Nabi itu dengan kegiatan yang dikemas dari berbagai sunnah Nabi dan do’a, serta tak lupa acara pengajian serta acara yang mendekatkan generasi muda kita mengenal sosok jungjunan kita Nabi Muhammad saw.
Sebagaimana maulid ini berlangsung karena rasa hormat dan rasa cinta, serta bertujuan melestarikan ajaran agama dan mengembangkan jiwa teladan pada diri muslim, khususnya anak-anak. Dalam rangka mengenal dan menanamkan sifat teladan Rasulullah dalam benak kehidupan kita.
Maka selayaknya kita lihat esensinya terlebih dahulu dibanding adat kebiasaan lain yang muncul, seperti adanya pembagian makanan, itupun karena agar menumbuhkan rasa kebersamaan dan serta cara memuliakan tamu. Dan tentunya masih dalam batas wajar secara norma dan diperbolehkan secara syar’i.
Maka jangan mudah terhasut orang yang nyatanya jelas menjadikan kita terpisah dan bahkan menjauh dari sunnah secara lahir batin, apalagi sampai menduakan Allah dengan cara berfikir yang sempit dan dangkal terhadap keberadaan Nya. Dengan cara membuat kita berfikir bahwa Allah mmpunyai kesamaan dengan mahluk ciptaan Nya.
Dan diantara tradisinya yaitu membaca Al Barzanji (Iqd Al Jawahir/kalung permata) (selain kegiatan tradisi seperti pawai obor) yang tak boleh ketinggalan pelaksanaannya. Karena esensi dari berzanji itu sendiri adalah perjalan hidup Nabi, nasabnya, kehidupan dari kanak-kanak hingga menjadi Rasul, serta sifat mulianya yang selalu menjadi teladan kita (manusia) dalam agama, yang mestinya kita sambut dengan rasa hikmat. Bukan dengan menghujat kegiatan yang disangka bidah ini.
Seiring perkembangannya, nama pengarangnya ternyata lebih mashyur ketimbang nama kitabnya sendiri. Yaitu Syeikh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul ibn Karim ibn Muhammad Al Barzanji. Beliau adalah seorang sufi yang lahir di Madinah 1690 M dan wafat 1766 M. Yang menjadi tempat belajar para sarjana agama Islam (yang asli).
Perlu diketahui ada catatan yang harus sangat diketahui. Dari Nico capitein, seorang orientalis dari Universitas Ladein, dalam bukunya yang berjudul”Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad saw”(inis 1994). Menurut dia maulid Nabi pada awalnya adalah perayaan kaum Syiah Fatimiyah (909-117M) di Mesir. Ini hanyalah untuk menegaskan bahwa dinasti tersebut benar keturunan Nabi, dan ini bernuansa politik yang sangat kental.
Karena pada kenyataannya, yang mengawali dan memprakarsai kegiatan mauludan ini adalah dari kalangan Sunni pertama kali diselenggarakan di Suriah oleh Nuruddin abad XI, juga di gelar di Mosul Irak, Mekah dan seluruh penjuru Islam pada abad yang sama. Kendati demikian, ada pula yang menolak karena menilai bid’ah dan ada pula yang dengan niat memfitnah sebagaimana yang diutarakan seorang orientalis tadi, dengan menyebut itu bermula dari kaum Syiah dengan maksud memprovokasi, seperti yang dilakukan Wahabi saat ini. Ingat itu yang menyebutkan adalah seorang orientalis yang bahkan tak bisa menjadi rujukan hukum Islam.
Berzanji tidak hanya diselenggarakan ketika mauludan saja, akan tetapi juga dalam acara akikah kelahiran anak yang sering dikenal dengan nama Marhabaan, potong rambut bayi, syukuran bahkan pernikahan, dan pada malam jumat yang menjadi hari penuh barokah bagi kaum muslimin. Bahkan, dikalangan pesantren hal ini menjadi kurikulum wajib sebagaimana melihat banyaknya pesan positif yang dapat menjadi suri teladan bagi kita. Selain Al Barzanji, adapula kitab lain sejenis yang bertutur juga tentang kehidupan Nabi. Diantaranya yaitu Al Burdah karya Al Bushiri, Al Diba karya Abdurrohman Al Diba’iy, dan Shimtualdurar karya Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi (syair Maulud Al Habsyi).
Esensi maulid merupakan penghijauan sejarah dan penyegaran ketokohan Nabi, sebagai satu- satunya teladan dan idola bagi kaum muslim yang ajarannya harus dibumikan. Tidak lain ini adalah diantara tingkah sunnah untuk melestarikan ajaran Islam, dan menghindari dari hilangnya sejarah serta praktek pemalsuan sejarah seperti yang banyak dilakukan sekarang.
Sekilas tentang biografi sang pengarang Al Barzanji.
Beliau bernama Syeikh  Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim bin Muhammad bin Sayid Rasul bin Abdul Syed bin Abdul Rasul bin Qalandar bin Abdul Syed bin Isa bin Husain bin Bayazid bin Abdul Karim bin Isa bin Ali bin Yusuf bin Mansur bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Ismail bin Al Imam Musa Al Kazim bin Al Imam Al Ja’far Ash Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Zaenal Abidin bin Al Imam Husain bin Sayyidina Ali ra wa Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah saw. Dinamakan Al Barzanji karena dinisbatkan pada nama desa sang pengarang yang terletak di  Barjanziyah kawasan Akrad (Kurdistan).
Lahir di Madinah Al Munawwaroh, hari kamis awal bulan Zulhijjah 1126 H, beliau menghafal Al Qur’an kepada Syeikh Ismail Al Yamaniy dan Tashih Quran (Mujawwad) kepada Syeikh Yusuf Asho’idiy, lalu Ilmu Naqliyah (Qur’an dan Hadis) dan Aqliyah pada ulama-ulama masjid Nabawi Madinah (yang kata nya menjadi guru para Wahabi), dan tokoh Qabilah wilayah Al Barjanzi, kemudian belajar Ilmu Sharaf, Nahu, Mantiq, badi’, Ma’ani, Faraid, Khat, Hisab, Fiqih, Usul Fiqih, Falsafah, Ilmu Hikmah seperti Tassawuf, Ilmu Teknik, Lughah, Mustalah Hadis, Tafsir Hadis, Ilmu Hukum, Sirah Nabawi, dan Ilmu Sejarah semua itu beliau pelajari semasa ikut belajar bersama ulama masjid Nabawi. Dan ketika umurnya mencapai 31 tahun 1159M, barulah beliau menjadi seorang Alim wal Allamah dan ulama besar.
Disini sangat jelas, bagaimana keilmuan beliau yang bahkan jelas bertentangan dengan pemikiran ulama Wahabiyah yang mengaku lulusan Madinah yang sangat dibanggakan. Karena jelas, tak sedikitpun penjelasan mereka menyiratkan adanya ilmu seperti Bayan dan Ma’ani serta Nahu Mantek (Ilmu Pan Arobiy) yang mereka pakai. Karena, jika mereka benar menguasai Ilmu tersebut dan bersandar pada Ilmu yang menunjang penukilan makna Qur’an dan Hadis tersebut, niscaya mereka akan sama dengan pemahaman kita jika benar mereka bersandar ilmu tersebut seperti Syeik Al Barjanzi yang langsung belajar dusana dengan Imam terdahulu sebelum mereka yang pemahamannya jelas lebih baik. Bahkan, anehnya pemahaman wahabiyah ini sangat susah diterima akal, dan anak kecil pun menjadi kebingungan dengan penjelasan mereka apalagi tentang sifat wujud Allah yang mana mereka samakan dengan sifat wujud manusia sebagai mahluk yang mempunyai alat indera. Naudzubillahi min dzalika.
Kitab Al Barzanji ini juga di syarahi lagi oleh banyak para ulama kenamaan Islam, diantaranya adalah Syeikh Muhammad bin Ahmad ‘llyisy Al Maliki Al Asya’ri Asy Syadzili Al Azhari dengan kitab syarahnya Al Qawl Al Munji a’la Mawlid Al Barzanji. Beliau adalah seorang ulama besar jebolan Al Azhar Asy Syarif, bermadhab fiqih Maliki, dan bermadzhab Tauhid Asy’ari dan menjalankan Thoriqah Asy Syadzili.
Dan selain beliau, juga tak kalah andilnya dalam mensyarahi kitab barzanji ini adalah ulama kita yang mashyur yaitu Sayyidul Ulamail Hijaz, An Nawawi Ats Tsani Syeikh Muhammad Nawawi Al Bantani Al Jawi dengan syarahnya Madaarijush Shu’uud ila Iktisaa’il Buruud. Dan ada banyak lagi ulama yang mensyarahinya.
Kembali kepada biografi Syeikh Al Barzanji, selain beliau dipandang sebagai mufti, juga beliau menjadi khatib di masjid Nabawi dan mengajar di masjid tersebut. Beliau juga terkenal bukan saja karena ilmu, ahlak, dan ketakwaannya, akan tetapi juga dengan kemakbulan do’anya. Maka sungguh aneh jika para Wahabi tidak mengenal beliau yang tumbuh dan beramal shaleh di mesjid Nabawi Madinah, yang mereka sebut tempat mereka menimba ilmu daripada Imam disana. Nah, maka tidak masuk akal jika mereka menapikan sejarah beliau yang notabennya cucu Rasulullah saw, bahkan membid’ahkan tuntunan ilmu beliau yang bahkan mashyur dan menjadi teladan dikalangan penduduk Madinah. Sungguh anehnya mereka(Wahabi)jika demikian.
Untuk artikel kali ini, dicukupkan sekian. Karena dirasa cukup menjelaskan dan dapat ditelusuri kebenarannya. Akhirul kalam billahi attaufik wal hidayah.
wassalamualaikum



No comments:

Post a Comment

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat Perlunya ada pelurusan tentang tawassul, karena banyaknya saudara kita yang ...