Asal
Mula Maulid Barjanzi
Mauludan atau sering
dikenal dengan muludan, merupakan hal yang sudah melembaga dan di tetapkan
sebagai hari nasional di Indonesia. Setiap bulan rabi’ul awal, semua mayoritas
muslim seperti ormas Islam, masjid, pesantren, institusi pendidikan, majlis ta’lim,
telah siap sedia untuk menyambut hari kelahiran Nabi itu dengan kegiatan yang
dikemas dari berbagai sunnah Nabi dan do’a, serta tak lupa acara pengajian
serta acara yang mendekatkan generasi muda kita mengenal sosok jungjunan kita
Nabi Muhammad saw.
Sebagaimana maulid ini
berlangsung karena rasa hormat dan rasa cinta, serta bertujuan melestarikan
ajaran agama dan mengembangkan jiwa teladan pada diri muslim, khususnya
anak-anak. Dalam rangka mengenal dan menanamkan sifat teladan Rasulullah dalam
benak kehidupan kita.
Maka selayaknya kita
lihat esensinya terlebih dahulu dibanding adat kebiasaan lain yang muncul,
seperti adanya pembagian makanan, itupun karena agar menumbuhkan rasa
kebersamaan dan serta cara memuliakan tamu. Dan tentunya masih dalam batas
wajar secara norma dan diperbolehkan secara syar’i.
Maka jangan mudah
terhasut orang yang nyatanya jelas menjadikan kita terpisah dan bahkan menjauh
dari sunnah secara lahir batin, apalagi sampai menduakan Allah dengan cara berfikir
yang sempit dan dangkal terhadap keberadaan Nya. Dengan cara membuat kita
berfikir bahwa Allah mmpunyai kesamaan dengan mahluk ciptaan Nya.
Dan diantara tradisinya
yaitu membaca Al Barzanji (Iqd Al Jawahir/kalung permata) (selain kegiatan
tradisi seperti pawai obor) yang tak boleh ketinggalan pelaksanaannya. Karena
esensi dari berzanji itu sendiri adalah perjalan hidup Nabi, nasabnya,
kehidupan dari kanak-kanak hingga menjadi Rasul, serta sifat mulianya yang
selalu menjadi teladan kita (manusia) dalam agama, yang mestinya kita sambut
dengan rasa hikmat. Bukan dengan menghujat kegiatan yang disangka bidah ini.
Seiring
perkembangannya, nama pengarangnya ternyata lebih mashyur ketimbang nama kitabnya
sendiri. Yaitu Syeikh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul ibn Karim ibn Muhammad Al Barzanji.
Beliau adalah seorang sufi yang lahir di Madinah 1690 M dan wafat 1766 M. Yang
menjadi tempat belajar para sarjana agama Islam (yang asli).
Perlu diketahui ada
catatan yang harus sangat diketahui. Dari Nico
capitein, seorang orientalis dari Universitas
Ladein, dalam bukunya yang berjudul”Perayaan
Hari Lahir Nabi Muhammad saw”(inis 1994). Menurut dia maulid Nabi pada
awalnya adalah perayaan kaum Syiah Fatimiyah
(909-117M) di Mesir. Ini hanyalah untuk menegaskan bahwa dinasti tersebut benar
keturunan Nabi, dan ini bernuansa politik yang sangat kental.
Karena pada
kenyataannya, yang mengawali dan memprakarsai kegiatan mauludan ini adalah dari
kalangan Sunni pertama kali diselenggarakan di Suriah oleh Nuruddin abad XI,
juga di gelar di Mosul Irak, Mekah dan seluruh penjuru Islam pada abad yang
sama. Kendati demikian, ada pula yang menolak karena menilai bid’ah dan ada
pula yang dengan niat memfitnah sebagaimana yang diutarakan seorang orientalis
tadi, dengan menyebut itu bermula dari kaum
Syiah dengan maksud memprovokasi, seperti yang dilakukan Wahabi saat ini. Ingat itu yang menyebutkan adalah seorang orientalis yang bahkan tak
bisa menjadi rujukan hukum Islam.
Berzanji tidak hanya
diselenggarakan ketika mauludan saja, akan tetapi juga dalam acara akikah
kelahiran anak yang sering dikenal dengan nama Marhabaan, potong rambut bayi, syukuran
bahkan pernikahan, dan pada malam jumat yang menjadi hari penuh barokah bagi
kaum muslimin. Bahkan, dikalangan pesantren hal ini menjadi kurikulum wajib
sebagaimana melihat banyaknya pesan positif yang dapat menjadi suri teladan
bagi kita. Selain Al Barzanji, adapula kitab lain sejenis yang bertutur juga
tentang kehidupan Nabi. Diantaranya yaitu Al Burdah karya Al Bushiri, Al Diba
karya Abdurrohman Al Diba’iy, dan Shimtualdurar karya Al Habib Ali bin Muhammad
bin Husain Al Habsyi (syair Maulud Al Habsyi).
Esensi maulid merupakan
penghijauan sejarah dan penyegaran ketokohan Nabi, sebagai satu- satunya
teladan dan idola bagi kaum muslim yang ajarannya harus dibumikan. Tidak lain
ini adalah diantara tingkah sunnah untuk melestarikan ajaran Islam, dan
menghindari dari hilangnya sejarah serta praktek pemalsuan sejarah seperti yang
banyak dilakukan sekarang.
Sekilas tentang
biografi sang pengarang Al Barzanji.
Beliau bernama
Syeikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim
bin Muhammad bin Sayid Rasul bin Abdul Syed bin Abdul Rasul bin Qalandar bin
Abdul Syed bin Isa bin Husain bin Bayazid bin Abdul Karim bin Isa bin Ali bin
Yusuf bin Mansur bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Ismail bin Al Imam Musa Al
Kazim bin Al Imam Al Ja’far Ash Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al
Imam Zaenal Abidin bin Al Imam Husain bin Sayyidina Ali ra wa Sayyidatina
Fatimah binti Rasulullah saw. Dinamakan Al Barzanji karena dinisbatkan pada
nama desa sang pengarang yang terletak di
Barjanziyah kawasan Akrad (Kurdistan).
Lahir di Madinah Al Munawwaroh,
hari kamis awal bulan Zulhijjah 1126 H, beliau menghafal Al Qur’an kepada
Syeikh Ismail Al Yamaniy dan Tashih Quran (Mujawwad) kepada Syeikh Yusuf
Asho’idiy, lalu Ilmu Naqliyah (Qur’an dan Hadis) dan Aqliyah pada ulama-ulama
masjid Nabawi Madinah (yang kata nya menjadi guru para Wahabi), dan tokoh
Qabilah wilayah Al Barjanzi, kemudian belajar Ilmu Sharaf, Nahu, Mantiq, badi’,
Ma’ani, Faraid, Khat, Hisab, Fiqih, Usul Fiqih, Falsafah, Ilmu Hikmah seperti
Tassawuf, Ilmu Teknik, Lughah, Mustalah Hadis, Tafsir Hadis, Ilmu Hukum, Sirah
Nabawi, dan Ilmu Sejarah semua itu beliau pelajari semasa ikut belajar bersama
ulama masjid Nabawi. Dan ketika umurnya mencapai 31 tahun 1159M, barulah beliau
menjadi seorang Alim wal Allamah dan ulama besar.
Disini sangat jelas,
bagaimana keilmuan beliau yang bahkan jelas bertentangan dengan pemikiran ulama
Wahabiyah yang mengaku lulusan Madinah yang sangat dibanggakan. Karena jelas,
tak sedikitpun penjelasan mereka menyiratkan adanya ilmu seperti Bayan dan Ma’ani
serta Nahu Mantek (Ilmu Pan Arobiy) yang mereka pakai. Karena, jika mereka
benar menguasai Ilmu tersebut dan bersandar pada Ilmu yang menunjang penukilan
makna Qur’an dan Hadis tersebut, niscaya mereka akan sama dengan pemahaman kita
jika benar mereka bersandar ilmu tersebut seperti Syeik Al Barjanzi yang
langsung belajar dusana dengan Imam terdahulu sebelum mereka yang pemahamannya
jelas lebih baik. Bahkan, anehnya pemahaman wahabiyah ini sangat susah diterima
akal, dan anak kecil pun menjadi kebingungan dengan penjelasan mereka apalagi
tentang sifat wujud Allah yang mana mereka samakan dengan sifat wujud manusia
sebagai mahluk yang mempunyai alat indera. Naudzubillahi min dzalika.
Kitab Al Barzanji ini
juga di syarahi lagi oleh banyak para ulama kenamaan Islam, diantaranya adalah
Syeikh Muhammad bin Ahmad ‘llyisy Al Maliki Al Asya’ri Asy Syadzili Al Azhari
dengan kitab syarahnya Al Qawl Al Munji a’la Mawlid Al Barzanji. Beliau adalah
seorang ulama besar jebolan Al Azhar Asy Syarif, bermadhab fiqih Maliki, dan
bermadzhab Tauhid Asy’ari dan menjalankan Thoriqah Asy Syadzili.
Dan selain beliau, juga
tak kalah andilnya dalam mensyarahi kitab barzanji ini adalah ulama kita yang
mashyur yaitu Sayyidul Ulamail Hijaz, An Nawawi Ats Tsani Syeikh Muhammad
Nawawi Al Bantani Al Jawi dengan syarahnya Madaarijush Shu’uud ila Iktisaa’il Buruud.
Dan ada banyak lagi ulama yang mensyarahinya.
Kembali kepada biografi
Syeikh Al Barzanji, selain beliau dipandang sebagai mufti, juga beliau menjadi
khatib di masjid Nabawi dan mengajar di masjid tersebut. Beliau juga terkenal bukan
saja karena ilmu, ahlak, dan ketakwaannya, akan tetapi juga dengan kemakbulan
do’anya. Maka sungguh aneh jika para Wahabi tidak mengenal beliau yang tumbuh
dan beramal shaleh di mesjid Nabawi Madinah, yang mereka sebut tempat mereka
menimba ilmu daripada Imam disana. Nah, maka tidak masuk akal jika mereka
menapikan sejarah beliau yang notabennya cucu Rasulullah saw, bahkan membid’ahkan
tuntunan ilmu beliau yang bahkan mashyur dan menjadi teladan dikalangan
penduduk Madinah. Sungguh anehnya mereka(Wahabi)jika demikian.
Untuk artikel kali ini,
dicukupkan sekian. Karena dirasa cukup menjelaskan dan dapat ditelusuri
kebenarannya. Akhirul kalam billahi attaufik wal hidayah.
wassalamualaikum

No comments:
Post a Comment