Adanya dalih “Agama
ini telah sempurna”, “Jika perbuatan baik, niscaya Rasulullah saw akan mencontohkannya
lebih dulu”. Atau “Jika hal itu benar, maka Rasulullah akan memerintahkannya”,
sebegitu lebih tahunya mereka dari apa yang akan dilakukan Rasulullah. Hebat
sekali mereka, dapat memastikan apa yang akan dilakukan Rasul. Sekolompok oknum
ini yang meresahkan ummat dan membuat bingung, dengan cara pandang mereka yang
saling beretentangan statement mereka satu sama lain, padahal mereka mengaku
satu kelompok yang sama yang bernama Manhaj.
Memvonis sesuatu yang
baru sebagai bid’ah dengan argumen diatas adalah lemah. Sebagaimana banyaknya
amal baik yang Rasulullah saw tidak mencontohkan, akan tetapi beliau meridoi
dan itupun bermula dari muslim lain semasa beliau, yang teriwayatkan dalam
hadis dan fakta sejarah. Tapi, sungguh jahatnya mereka dengan menyembunyikan
hal sejarah tersebut. Hingga menyebabkan bodohnya pemahaman muslim tentang
hukum, dan membuat kita terpecah belah.
Mari kita simak hadis
berikut tentang pernyataan Rasulullah dan tanggapan para sahabat.
Imam
Muslim dan Abdurr Razzaq Ash Shana’ni dari Ibnu Umar :
Ada seorang laki-laki
datang, sementara yang lain sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaff
ia berkata : Allahu akbar kabiira walhamdulillahi katsira wasubhanallahibukratan
waashila (do’a iftitah yang biasa kita baca). Kemudian setelah shalat nabi
bersabda “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?”.
Orang itu berkata, “Aku
wahai ya Rasulullah, aku tidak mengucapkannya melainkan aku menginginkan
kebaikan”.
Rasulullah bersabda, “Aku
benar-benar menyaksikan pintu langit terbuka untuk menyambutnya”. Lalu Ibnu
Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya(doa
iftitah tersebut).
Dalam riwayat lain An Nasa’i menyatakan dengan redaksi
yang berbeda, dalam bab ucapan pembuka shalat, dengan kata-kata seperti ini, “Kalimat-kalimat
itu direbut oleh dua belas malaikat”. Adapula yang mengucapkan dengan redaksi yang berbeda yaitu dengan
menyebutkan dengan kata-kata terbukanya pintu langit atas
kejadian tersebut.
Disini dengan jelas
telah diriwayatkan, tentang sahabat yang menambahkan dzikir dalam iftitah
shalat yang tidak pernah dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah. Bahkan
itu adalah terbesit dari kinginan mulianya sendiri. Akan tetapi, Rasulullah
mengamininya dengan berkata memuji secara tidak langsung atas tindakannya
tersebut. Itu adalah hal yang dibolehkan dalam Islam asal sesuai dengan Qur’an
dan Hadis serta riwayat dan panduan hukum para Ulama sebagai warasatul anbiya.
Imam
Bukhari meriwayatkan dalam kitab shohehnya, dalam bab menggabungkan dua surah dalam satu
rakaat dari Anas, ia berkata: “Ada seorang dari suku Anshar memimpin
shalat di masjid Quba, setiap kali shalat ia mengawali bacaannya dengan surah
Qulhu sampai selesai, kemudian membaca surah lainnya bersamanya. Teman-temannya
menegurnya kemudian dengan berkata”Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah
itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih. Membaca
surah itu saja, atau surah yang lainnya saja. ia menjawab, “Aku tidak akan
meningglkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kalian tidak keberatan aku
mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam kalian”.
Sementara mereka yakin hanya orang ini yang pantas menjadi imam shalat, akan tapi mereka
keberatan dengan apa yang dialakukannya.
Ketika mereka
mendatangi Nabi saw, mereka melaporkannya. Lalu nabi menegurnya “Hai fulan, apa
yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu?apa yang
mendorongmu membaca surah itu pada setiap rakaat?”, Ia menjawab “Aku mencintainya”
maka nabi saw bersabda “Kecintaanmu kepadanya memasukanmu kesurga”.
Itulah contoh sunnah
dan jalan Nabi dalam menyikapi suatu kebaikan, dan amal keta’atan, walaupun
tidak khusus diajarkan oleh beliau. Akan tetapi, selama amalan itu sejalan
dengan ajaran kebaikan secara umum yang Rasulullah bawa. Maka beliau selalu merestuinya. Jawaban
tersebut membuktikan motivasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik,
kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah tersebut dari Rasulullah. Tetapi,
ia menyimpulkannya berdasarkan dalil umum Hadis Rasul yang menganjurkan
berbanyak-banyak melakukan kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan
khusus dalam syari’at Islam.
Walaupun demikian, tak
seorangpun ulama yang menyatakan bahwa memulai bacaan dengan surah Al Ikhlas
kemudian surah lain selanjutnya, adalah hal sunnah yang tetap!. Sebab apa yang
kontinyu dilakukan Nabi saw lah adalah yang seharusnya dipelihara. Akan tetapi,
menurut kaidah umum dan bukti nyata hadis riwayat yang menyatakan
praktik-praktik dalam ragamnya yang bermacam-macam, walaupun seakan secara
lahiriyah dan pandangan mata biasa berbeda dengan yang dilakukan Nabi saw, tapi
dalam makna dan perbatasan(had hukum)Islam, itu tidak berarti bid’ah(sesat). Karena jelas Nabi membiarkan
dan membolehkan hal itu, dengan bukti nyata sebuah riwayat, yang bahkan para oknum ini mengakui
keshohehan ulama yang meriwayatkannya. Nah, disini lah landasan adanya
fardu ain, fardu kipayah, sunnah muakad dll.
Imam
Bukhori dalam kitab At
Tauhid dari Ummul Mukminnin Aisyah
ra :
Bahwasanya Nabi saw
mengutus seorang pemimpin sebuah pasukan, selama perjalanan apabila memimpin
shalat orang itu membaca surah tertentu, kemudian mengakhirinya dengan surah Al Ikhlas. Ketika pulang, mereka
melaporkannya pada Nabi.
Maka beliau bersabda, ”Tanyakan
kepadanya, mengapa ia melakukannya?” ketika mereka menanyakannya, orang itu
menjawab “Sebab surah itu memuat sifat Ar Rahman (Allah), dan aku suka
membacanya,”lalu Nabi saw bersabda “Beritahukan kepadanya bahwa Allah
mencintainya”.(Hadis Muttafaq alaihi)/(disepakati).
Apa yang dilakukan sahabat
itu tidak pernah dilakukan Rasul. Akan tetapi, karena sesuai dengan aturan dan
tak melanggar norma serta ajaran Rasul. Maka diperbolehkan Rasul dengan
mengatakan bahwa Allah mencintaimu
(terhadap orangnya dan yang di lakukannya). Nah, tak ada lagi bantahan apalagi
memalsukan hadis. Karena ini sangat lah shoheh dan mashyur.
Maka pertanyakanlah
pada mereka mengenai hadis-hadis ini, mengapa mereka tidak menjabarkannya?,
sehingga timbul anti pati terhadap mukmin lain oleh pandangan jama’ah setia
mereka, dan oleh mereka(oknum)itu sendiri.
Melihat titlenya sebagai sarjana dan dokter agama Islam saja, jelaslah
mereka tahu bahwa ada hadisnya dan syah dimata hukum Islam yang berlaku dari
dulu. Tapi, ia bantah keberadaannya dan bahkan ada indikasi pembodohan dengan
secara tidak gamblang dan jujur dalam menyampaikan riwayat yang tidak utuh
kepada ummat. Sehingga, terjadi diskriminasi terhadap satu golongan. Itulah
tipu daya setan.
Sebagaimana dalam Hadis Shoheh Muslim 111 bab 4 hal 6 sarah
An nawawi, “Sayaquuluu fii akhiriz zamani dajjallun kaddzabun”. Nanti di
akhir zaman akan muncul dajjal(orang yang pandai bicara)yang pandai berbohong(pengertian
dajjal disini majaz). Sebagaimana Rasul mengatakan akan ada banyak orang pintar
bicara dengan intelektualitas tentang agama Islam dengan tujuannya merusak dan
bahkan berperangai bodoh namun meyakinkan, dan pandai bicara tapi sebenarnya
tak faham akan agama. Untuk lebih jelas tentang perangai mereka simak saja
video di bawah ini, meskipun sebentar tapi sangat berbobot dan bermanfaat.
Silahkan like dan share
ya!
https://youtu.be/DNcPtrZ0wOs

No comments:
Post a Comment