Wednesday, January 3, 2018

Mengenal Makna Bid'ah



Mengenal Makna Bid’ah
Adanya dalih “Agama ini telah sempurna”, “Jika perbuatan baik, niscaya Rasulullah saw akan mencontohkannya lebih dulu”. Atau “Jika hal itu benar, maka Rasulullah akan memerintahkannya”, sebegitu lebih tahunya mereka dari apa yang akan dilakukan Rasulullah. Hebat sekali mereka, dapat memastikan apa yang akan dilakukan Rasul. Sekolompok oknum ini yang meresahkan ummat dan membuat bingung, dengan cara pandang mereka yang saling beretentangan statement mereka satu sama lain, padahal mereka mengaku satu kelompok yang sama yang bernama Manhaj.
Memvonis sesuatu yang baru sebagai bid’ah dengan argumen diatas adalah lemah. Sebagaimana banyaknya amal baik yang Rasulullah saw tidak mencontohkan, akan tetapi beliau meridoi dan itupun bermula dari muslim lain semasa beliau, yang teriwayatkan dalam hadis dan fakta sejarah. Tapi, sungguh jahatnya mereka dengan menyembunyikan hal sejarah tersebut. Hingga menyebabkan bodohnya pemahaman muslim tentang hukum, dan membuat kita terpecah belah.
Mari kita simak hadis berikut tentang pernyataan Rasulullah dan tanggapan para sahabat.
Imam Muslim dan Abdurr Razzaq Ash Shana’ni dari Ibnu Umar :
Ada seorang laki-laki datang, sementara yang lain sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaff ia berkata : Allahu akbar kabiira walhamdulillahi katsira wasubhanallahibukratan waashila (do’a iftitah yang biasa kita baca). Kemudian setelah shalat nabi bersabda “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?”.
Orang itu berkata, “Aku wahai ya Rasulullah, aku tidak mengucapkannya melainkan aku menginginkan kebaikan”.
Rasulullah bersabda, “Aku benar-benar menyaksikan pintu langit terbuka untuk menyambutnya”. Lalu Ibnu Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya(doa iftitah tersebut).
Dalam riwayat lain An Nasa’i menyatakan dengan redaksi yang berbeda, dalam bab ucapan pembuka shalat, dengan kata-kata seperti ini, “Kalimat-kalimat itu direbut oleh dua belas malaikat”. Adapula yang mengucapkan dengan redaksi yang berbeda yaitu dengan menyebutkan dengan kata-kata terbukanya pintu langit atas kejadian tersebut.
Disini dengan jelas telah diriwayatkan, tentang sahabat yang menambahkan dzikir dalam iftitah shalat yang tidak pernah dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah. Bahkan itu adalah terbesit dari kinginan mulianya sendiri. Akan tetapi, Rasulullah mengamininya dengan berkata memuji secara tidak langsung atas tindakannya tersebut. Itu adalah hal yang dibolehkan dalam Islam asal sesuai dengan Qur’an dan Hadis serta riwayat dan panduan hukum para Ulama sebagai warasatul anbiya.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shohehnya, dalam bab menggabungkan dua surah dalam satu rakaat dari Anas, ia berkata: “Ada seorang dari suku Anshar memimpin shalat di masjid Quba, setiap kali shalat ia mengawali bacaannya dengan surah Qulhu sampai selesai, kemudian membaca surah lainnya bersamanya. Teman-temannya menegurnya kemudian dengan berkata”Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih. Membaca surah itu saja, atau surah yang lainnya saja. ia menjawab, “Aku tidak akan meningglkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kalian tidak keberatan aku mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam kalian”. Sementara mereka yakin hanya orang ini yang pantas  menjadi imam shalat, akan tapi mereka keberatan dengan apa yang dialakukannya.
Ketika mereka mendatangi Nabi saw, mereka melaporkannya. Lalu nabi menegurnya “Hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu?apa yang mendorongmu membaca surah itu pada setiap rakaat?”, Ia menjawab “Aku mencintainya” maka nabi saw bersabda “Kecintaanmu kepadanya memasukanmu kesurga”.
Itulah contoh sunnah dan jalan Nabi dalam menyikapi suatu kebaikan, dan amal keta’atan, walaupun tidak khusus diajarkan oleh beliau. Akan tetapi, selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan secara umum yang Rasulullah bawa.  Maka beliau selalu merestuinya. Jawaban tersebut membuktikan motivasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik, kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah tersebut dari Rasulullah. Tetapi, ia menyimpulkannya berdasarkan dalil umum Hadis Rasul yang menganjurkan berbanyak-banyak melakukan kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan khusus dalam syari’at Islam.
Walaupun demikian, tak seorangpun ulama yang menyatakan bahwa memulai bacaan dengan surah Al Ikhlas kemudian surah lain selanjutnya, adalah hal sunnah yang tetap!. Sebab apa yang kontinyu dilakukan Nabi saw lah adalah yang seharusnya dipelihara. Akan tetapi, menurut kaidah umum dan bukti nyata hadis riwayat yang menyatakan praktik-praktik dalam ragamnya yang bermacam-macam, walaupun seakan secara lahiriyah dan pandangan mata biasa berbeda dengan yang dilakukan Nabi saw, tapi dalam makna dan perbatasan(had hukum)Islam, itu tidak berarti  bid’ah(sesat). Karena jelas Nabi membiarkan dan membolehkan hal itu, dengan bukti nyata sebuah riwayat, yang bahkan para oknum ini mengakui keshohehan ulama yang meriwayatkannya. Nah, disini lah landasan adanya fardu ain, fardu kipayah, sunnah muakad dll.
Imam Bukhori dalam kitab At Tauhid dari Ummul Mukminnin Aisyah ra :
Bahwasanya Nabi saw mengutus seorang pemimpin sebuah pasukan, selama perjalanan apabila memimpin shalat orang itu membaca surah tertentu, kemudian mengakhirinya dengan surah Al Ikhlas. Ketika pulang, mereka melaporkannya pada Nabi.
Maka beliau bersabda, Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” ketika mereka menanyakannya, orang itu menjawab “Sebab surah itu memuat sifat Ar Rahman (Allah), dan aku suka membacanya,”lalu Nabi saw bersabda “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya”.(Hadis Muttafaq alaihi)/(disepakati).
Apa yang dilakukan sahabat itu tidak pernah dilakukan Rasul. Akan tetapi, karena sesuai dengan aturan dan tak melanggar norma serta ajaran Rasul. Maka diperbolehkan Rasul dengan mengatakan bahwa Allah mencintaimu (terhadap orangnya dan yang di lakukannya). Nah, tak ada lagi bantahan apalagi memalsukan hadis. Karena ini sangat lah shoheh dan mashyur.
Maka pertanyakanlah pada mereka mengenai hadis-hadis ini, mengapa mereka tidak menjabarkannya?, sehingga timbul anti pati terhadap mukmin lain oleh pandangan jama’ah setia mereka, dan oleh mereka(oknum)itu sendiri.  Melihat titlenya sebagai sarjana dan dokter agama Islam saja, jelaslah mereka tahu bahwa ada hadisnya dan syah dimata hukum Islam yang berlaku dari dulu. Tapi, ia bantah keberadaannya dan bahkan ada indikasi pembodohan dengan secara tidak gamblang dan jujur dalam menyampaikan riwayat yang tidak utuh kepada ummat. Sehingga, terjadi diskriminasi terhadap satu golongan. Itulah tipu daya setan.
Sebagaimana dalam Hadis Shoheh Muslim 111 bab 4 hal 6 sarah An nawawi, “Sayaquuluu fii akhiriz zamani dajjallun kaddzabun”. Nanti di akhir zaman akan muncul dajjal(orang yang pandai bicara)yang pandai berbohong(pengertian dajjal disini majaz). Sebagaimana Rasul mengatakan akan ada banyak orang pintar bicara dengan intelektualitas tentang agama Islam dengan tujuannya merusak dan bahkan berperangai bodoh namun meyakinkan, dan pandai bicara tapi sebenarnya tak faham akan agama. Untuk lebih jelas tentang perangai mereka simak saja video di bawah ini, meskipun sebentar tapi sangat berbobot dan bermanfaat.
Silahkan like dan share ya!
 https://youtu.be/DNcPtrZ0wOs

No comments:

Post a Comment

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat Perlunya ada pelurusan tentang tawassul, karena banyaknya saudara kita yang ...