Monday, January 1, 2018

Penjelasan Mengada-adakan Ajaran Agama



Mengada-adakan Ajaran Agama Menurut Hukum Islam


HR.Bukhori
Barang siapa menimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan(agama)kita yang bukan dari ajarannya, maka tertolak”.
Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitabullah, dan sebaik-baiknya jalan hidup ialah jalan hidup Nabi Muhammad, sedangkan seburuk-buruknya urusan agama adalah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan(menjurus)ke neraka.
Hr Ath Thahawi
Apabila kamu melihat orang yang ragu dalam agamanya dan ahli bid’ah sesudah aku (Rasulullah), tiada maka tunjukanlah sikap menjauh(bebas)dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan kata tentang mereka kasusnya. Dustakanlah mereka agar mereka tidak makin merusak(citra)Islam. Waspadai pula orang-orang yang meniru bid’ah mereka. Dengan demikian Allah akan mencatat bagimu pahala dan akan meningkatkan derajat kamu di akhirat.
HR Bukhari
Kamu akan mengikuti perilaku orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, “ Siapa ‘mereka’ yang engkau maksudkan itu, Ya Rasulullah?”, Beliau menjawab “Orang-orang yahudi dan nasrani”.
Ar Ridha
Tiga perkara yang aku takuti akan menimpa ummatku  setelah aku tiada, kesesatan setelah memperoleh pengetahuan, fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan syahwat perut serta seks.
Hr Daruquthin dari Anas
Barang siapa menipu ummatku, maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Ditanyakan “ Ya Rasulullah, apa pengertian tipuan ummatmu itu?”, Beliau menjawab “mengada-adakan amalan bid’ah, lalu melibatkan orang-orang kepadanya”.
Inilah yang menjadi sandaran para pemitnah aswaja, yang seolah-olah mereka yang melakukannya lebih baik daripada para ulama sekalipun dengan menyamakan tingkah mereka sesuai sunnah yang padahal ajaran dan apa yang disampaikan nya menjauh dari kata sunnah, dan menyalahi hal yang secara agama benar dan syah dimata hukum Islam yang ada.
Jelas para ulama tidak membenarkan bid’ah dhalalah, persis dengan hadis diatas yaitu menolak perilaku menciptakan ibadah baru yang bertentangan dengan Islam. Contoh, pelaksanaan do’a bersama muslim dan non muslim. Faala taq’uduu ma’ahum hatta yakhuduu fii haditsin goirihi, artinya jangan lah kalian duduk dengan mereka non muslim dalam ritualnya, hingga mereka membicarakan pembahasan lain yang bukan ritual. Jelas hal ini tidak ada sama sekali tuntunannya dalam islam.
Tapi kalau bid’ah hasanah seperti tahlilan, maulid dan tawassul tetap kami laksanakan, karena tidak bertentangan dengan hukum syar’i yang ada. Bahkan malah berdasarkan riwayat yang membolehkan nya. Perlu kita ketahui apa itu tahlilan?. Tahlilan adalah merupakan pengumpulan masyarakat untuk menghadiri majlis dzikir dan ta’lim. Apa menurut anda ini tidaklah sunnah?.
Maka hal yang perlu anda ketahui pasti adalah apa definisi asli mnurut islam tentang tahlilan, bukan melihat dengan apa yang dikatakan orang yang mengaku sunnah yang menjelekan kaum muslim lainnya. Hal seperti berkumpul dan makan bersama, serta memberikan makanan itu tidak wajib bagi orang yang berduka, justru karena seorang yang berduka tersebut menginginkan berkah dari orang yang mendo’akan, dan keinginan besarnya menyampaikan rasa terimakasih atas kehadiran para tamu undangan, yang senantiasa mau mendo’akan sang ahli kubur dengan ikhlas.
Maka mereka dengan senang hati, menjamu tamu yang wajib dimuliakan sebagimana tata cara taadzub muslim memuliakan tamu. Adapun jika tak mampu, tetaplah para undangan dan yang mengetahui kemampuan orang tersebut tetap datang, karena saling membantu sesama muslim dan hanyalah karena Allah. Bukan karena menginginkan hidangannya.
Jelas sekali, apa yang saya sampaikan itu sangat bertentangan dengan beberapa oknum yang memandang bid’ah tahlilan, tanpa tahu apa dan bagaimana pandangan hukum syar’i terhadap hal itu.
Dan coba anda cerna dengan hati yang bersih hadis ini. “Idza maratum bi riyaadhil jannah ya Rasulullah? “Qaala hilaqud dzikr”. Artinya, jika kalian mendapati taman surga, maka masuklah. Mereka bertanya, apa itu(riyadhul jannah)taman surga, wahai Rasulullah? Beliau menjawab majlis dzikir.
Membaca Al Fatihah dan Yasin itu apakah bukan perintah syari’at? Faaqra’u ma tasayyaro minal Qur’an (Bacalah apa yang mudah/ringan dari ayat Al Qur’an). Adapun yang mereka salahkan adalah salah tafsir dalam memahami kegiatan tersebut. Bukankah saling menolong dan mendoakan sesama muslim itu ajaran kita?, lalu bagaimana cara rasul mengajarkan kita untuk menghormati tamu(Ikramu Dhoif)? apalagi yang mendo’akan. Dan bagaimana cara mereka berterimakasih kepada tamu sesuai yang diajarkan rasul. Jika mereka mampu menghidangkan sedikit makanan lezat yang tak akan sebanding dengan keikhlasan para tamu untuk mendo’akan. Apakah itu salah? Sedangkan rasul sendiri menganjurkan?. Maka itu kembali pada hati anda.
Nah, jika amalan dan anjuran rasul yang hadisnya terpisah tapi pelaksanaan nya dapat di kemas dalam satu acara yang tidak menyalahi aturan yang dibolehkan menurut Islam seperti tahlilan, maka itu boleh menurut hukum Islam. Meskipun nabi tak pernah melakukan tahlil seperti kita, namun setiap komponen nya mengandung ajaran Rasulullah yang shahih, maka inilah contoh bid’ah hasanah,dan diperbolehkan oleh hukum syari’at Islam.
Contoh lain, bagaimana dengan ibadah haji yang amat berbeda dengan ibadah haji jaman mewah nilainya. Lalu mengapa ulama membiarkan dan membolehkan?jika itu bid’ah dolalah?, tidak lain karena itu aman dan dibolehkan dalam syariat.
Lalu siapakah yang memulai melakukan bid’ah hasanah ini? Tidak lain adalah sahabat Umar ra, tatkala ia tahu nabi mengajarkan shalat tarawih 20 rakaat di bulan ramadan. Namun nabi melaksanakannya dengan sendirian di mesjid. Setelah beberapa kali beliau melakukan taraweh sendiri, kemudian ada yang ikut jadi makmum, kemudian nabi melaksanakan nya 8 rakaat di mesjid, selebihnya dilakukan dirumah sendirian.
Lau para sahabat pun melakukan hal tersebut, hingga saat kekhalifahan sahabat Umar, beliau berinisiatif mengumpulkan masyarakat untuk melakukannya secara berjamaah. Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini(taraweh berjamaah yang dilakukan mereka selama sebulan penuh di mesjid).
Bid’ah nya ini ternyata lestari sampai sekarang, bahkan yang melakukan nya pun kita tahu sebagaimana arab saudi melaksanakan nya taraweh berjamaah selama sebulan penuh di masjid, dan bahkan disertai dengan mengkhatamkan Al Qur’an. Bahkan, lucunya orang yang suka membid’ahkan tersebut ternyata melaksanakannya juga. Nah jelaslah kita patut pertanyakan atas dasar apa pemikiran sempit mereka? Yang bahkan menentang riwayat dan hadis lain yang ada. 
Nah, hal ini sama lestarinya dengan bid’ah hasanah para wali songo(yang mereka oknum pembid’ah anggap tak ada) yang mengajarkan tahlilan pada kita. Mereka mengatakan itu, karena mereka tidak tahu. Dan dengan kedangkalan ilmu yang mereka sombongkan itu, mereka membuat kesimpulan yang tak berdasar. Bahkan jika anda tahu, para wali itu siapa dan keturun dari siapa, maka anda akan mengetahui kebenaran sejarah datangnya Islam kepada kita.
Man sanna fiil Islami sunnatan hasanatan, fa lahu ajruha wa ajru man amila biha bakdahu min goiri yankusu min ujurihim syaik
Artinya, “Barang siapa yang mencontohkan sunanatan hasanatan (perbuatan baru yang baik) dalam Islam (yang tak bertentangan dengan syariat), maka ia akan dapat pahalanya, dan kiriman pahala dari orang yang mengamalkan ajarannya, tanpa mengurangi pahala para pengikutnya sedikitpun”.
Tentulah sahabat Umar, dan para wali telah mengumpulkan pundi-pundi pahala dari umat islam yang mengamalkan ajarannya menuju sunnah itu sampai kini. Nah, saya pertanyakan apakah para oknum tersbut lebih baik dan lebih terpercaya ilmunya dari pada mereka? Bahkan oknum mereka, hanya berbekal ilmu copas dari google dan lulus sarjana. 
Lalu mereka dengan mudahnya meniadakan hukum ilmu usul yang jelas dibuat ulama sunnah pada jaman tabi'in, dengan bekal ilmu terjemah. Dan pendapat mereka yang tak berdasar makna yang sesuai itu, dengan tanpa rasa hormat terhadap ilmu yang telah membimbing kita mengenal Islam, mereka membandingkan kitab berumur ratusan tahun dengan dasar sunnah dan idzin para umaro (seperti usul dan nahu), yang atas dasar perintah(sahabat Ali ra pada saat itu).
Dengan hanya berdasar pengetahuan mereka yang bahkan para ulama asal mereka belajar pun menghujat kelakuan mereka itu, dengan mudahnya mereka memfitnah dan menyebarkan faham mereka dengan seenaknya. Hingga membuat kisruh ummat Islam yang tidak begitu menerti dengan seluk beluk hukum Islam. sungguh hal yang tak pantas kita lakukan terhadap ulama dan ummat.
Contoh bid’ah hasanah yang dilakukan dulu adalah, pembukuan Al Qur’an, sejarah pengumpulan ayat-ayat Al Qur’an, kemudian penomoran ayat, harakat dan tanda baca. Yang dilakukan sejak era kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khatab hingga Ustman bin Affan(yang bahkan tak dianjurkan dan dicontohkan Rasulullah).
Nah, ini membuktikan dan menjawab semuannya yang dituduhkan oknum tersebut pada muslimin. Nah, kalo kita berfikir secara benar dan dengan hati yang bersih, maka kita tak layak berpendapat demikian. Bagaimana mereka bisa membid’ah kan ilmu yang juga tak pernah Rasul memerintah pembuatannya(seperti tajwid dan ilmu qira’ah serta ilmu tatabahasa)?, yang bahkan mengajarkan mereka pandai membaca Al Qur’an. Sungguh aneh, perangai mereka ini. Apalagi setiap argumen mereka selalu bertentangan dengan anggota mereka sendiri, sungguh aneh luar biasa.
Maka saya tekankan dengan jelas, sungguh mereka hanya orang yang mengatasnamakan pangkat title sekolah mereka, sebagai tameng dan topeng kejahilan. Saya kasih contoh nyata, dari kehidupan sekarang. Di sukabumi, salah satu pesantren bahkan mempunyai guru seorang yang tak tamat pendidikan dasar, akan tetapi dalam hal Islam dan pengetahuan yang dikembangkan Islam seperti ilmu hindasat, para dosen fakultas dan dokterpun mengambil ilmu dari beliau dan bahkan menganjurkan anak didiknya untuk menimba ilmu diluar kuliah kepada beliau.
Manfaat ilmu dan banyaknya ilmu manfaat itu tidak terletak dari status, melainkan dari ahlak dan derajatnya di hadapan Allah swt. Ini menunjukan sungguh jahil dan sombongnya mereka dengan tutur kata yang membuai dengan tujuan menyesatkan orang yang awam dalam hal ilmu agama. Adapun jika mereka tak bermaksud demikian, jelaslah mereka berbangga dan sombong dengan ilmunya yang mereka dapat, padahal tak sesuai kenyataanmya.
Lalu saya beri contoh untuk anda, berapa perbedaan usia para istri rasul dengan rasul? Dan atas dasar apa beliau menikah?. Bukan atas dasar seperti kita mengatasnamakan Al Quran dan sunnah untuk menikahi wanita cantik dan kaya serta mapan untuk berpoligami. Padahal banyak janda tua miskin yang lebih membutuhkan. Maka, ada baiknya hal poligami ini tidak sembarang diutarakan jika dengan keilmuan dan faham yang dangkal dalam menyikapinya.
Lalu bagaimana dengan pengumpulan hadis dari satu riwayat ke riwayat lain, dan pemberian derajat hadis yang bahkan pernah dilarang rasul karena takut bercampur dengan Al Qur’an. Kemudian ada penulisan sirah nabawi, tat bahasa arab seperti nahu saraf, dan tajwid yang tak pernah ada di jaman Rasul, tapi manfaatnya bagi orang bodoh dan awam seperti kita sangatlah banyak. Apakah masih semudah berkicaunya burung yang tak diberi akal, kita menyebutkan Bid’ah?. Semoga terbuka hati dan fikiran kawan sekalian.
Sungguh berbeda antara Rasul yang diperintah langsung(amar hadir)oleh Allah, dengan kita yang diperintah(amar ghaib)tapi sudah jelas ahlak dan hati kita berbeda dengan ulama. Maka kayyid nya jika anda berpoligami, hendaklah anda berkaca diri dahulu. Kita berbeda(tingkat keimanannya)dengan rasul, sahabat, ulama, dan para wali. Maka berkacalah kita, atas dasar kerendahan hati. Karena tak semuanya tingkah dan sunnah Rasul mampu kita ikuti dengan sempurna. Contoh hal, dalam tingkah hati nya yang jelas banyak perbedaan keimanan dengan kita.
Hati rasul dicuci dengan air zam-zam oleh malaikat jibril, nah hati kita sudahkah dicuci dari hal yang negatif belum?, sehingga dalam hal yang harus benar-benar bersifat sensitif ini kita merasa mampu?. Maka ada banyak kesimpulan bijak dalam hal ini bagi kita, sesuai nisbat hukmiyahnya.
Maka dari itu, para ulama tak sembarangan menyampaikan jika tak dengan jelas. Karena akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat. Waspadalah!, karena setan telah menyusun barisan untuk menyesatkan kita dari mulai badan dan hati serta pemikiran kita, dengan kenikmatan dan keindahan. Baik berupa harta, wanita, pangkat, ilmu, bahkan yang terlihat baik akan tetapi sebenarnya mempunyai maksud.
Maka dari itu jika kita sadar akan pengetahuan kita yang kurang, maka bertanyalah pada ulama yang benar. Man arroda ddunya faalaiha bi ilmi, wa man arroda al akhirat faalaiha bi ilmi.
“Barang siapa yang menginginkan dunya maka dapatkanlah dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat maka dapatkan lah dengan ilmu”.
Semoga bermanfaat dan menjadikan hati kita bercermin pada perbuatan dan kemampuan iman kita sendiri.
Jangan lupa baca artikel lainnya ya! Semoga menambah pengetahuan anda.
Wassalamualaikum.

No comments:

Post a Comment

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat Perlunya ada pelurusan tentang tawassul, karena banyaknya saudara kita yang ...