Friday, December 29, 2017

Panggilan Sayyidina Bagi Rasulullah



Bantahan Bidah Menyebut Nama Nabi dengan Awalan Maulana dan Sayyidina

Sebagian oknum membid’ahkan panggilan Maulana atau sayyidina didepan nama Nabi, dengan alasan bahwa Nabi sendiri menganjurkan agar kita tidak mengagungkan dimuka nama beliau. Memang kelompok ini mudah sekali membid’ahkan sesuatu amalan, tanpa melihat motif makna yang dimaksud bid’ah itu apa. Bahkan, mereka hanya berbekal pengertian secara lafad saja yang mana secara makna dan standar kebahasaan arab salah dan tak lengkap.
Dewasa ini, ramai oknum yang menyembunyikan ilmu hadis dengan hanya membuat kesimpulan dengan satu hadis yang dianggap menguntungkannya secara pribadi. Karena terlihat sebagaimana ia menerangkan satu hadis, tanpa melihat hadis lain yang berkaitan, dan menjadikannya bahan rujukan dengan sangat tidak bijak. Sehingga, banyak orang yang menganggap benar tapi sebenarnya mereka telah dibohongi dengan ilmu yang tak mereka ketahui.
Anda lihat langsung dan tela’ahi secara benar kebohongan mereka. Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam risalahnya yang berjudul Dalailul Mahabbah wa Ta’dimul Maqom fii Sholati wassalam An Sayyidil Annam. Dengan tegas mengatakan : menyebut nama Rasul saw dengan tambahan Sayyidina(Jungjunan) didepannya, merupakan suatu keharusan bagi muslim yang mencintai beliau. Sebab, kata tersebut menunjukan kemuliaan martabat dan derajat beliau, serta penghormatan kita atas nikmat Allah yang diturunkan melalui kehadiran beliau di dunia. Maka dalam muqodimah setiap pertemuan baik selalu diawali dengan menyebut nama Allah, puji syukur, kemudian shalawat dan doa, dengan urutan yang sudah pasti.
Bahkan ulama, melarang kita menyebut beliau dengan nama langsung atau dengan memanggil layaknya kita memanggil orang lain seperti biasanya. Larangan itu, tidak berarti lain kecuali untuk menjaga kehormatan dan lemuliaan rasul saw. Maka anda harus juga tahu, ada ayat Allah yang menyebutkan demikian juga.
Janganlah kalian menyebut rasul (Muhammad), seperti kalian memanggil sesama orang diantara kalian (Qs An Nur:63)”.
Coba anda lihat sendiri, makna tafsir nya adalah jangan lah kalian menyebut nama rasulullah dengan hanya nama nya saja, seperti “Hai Muhammad” atau dengan nama julukan nya saja “Hai Aba Qasim”. Tapi, hendaklah kita menyebutnya penuh dengan rasa hormat dengan menyebut  kemuliaannya.
Jadi, tidak pantas bagi kita menyebut nama beliau tanpa menunjukan rasa hormat layaknya kaum kafir dan hasad. Karena, hal demikian merupakan ketidak adaban kita terhadap Kekasih Allah dan Jungjunan kita, jelas firman Allah saja menyerukan demikian, kenapa kita dilarang dengan mengatasnamakan sunnah yang bahkan mereka sembunyikan sebagian kebenarannya dengan amat rapi untuk membuat kita sesat?.
Menurut Ibnu Jarir , dalam menafsirkan ayat tersebut Qatadah menyebutkan, dengan ayat itu (An Nur:63), Allah melarang kita melakukan ketidaksopanan terhadap Nabi. Dengan kata lain, memerintah kita untuk mengagungkan Nabi sebagaimana kedudukannya di hadapan Allah, ummat dan agama.
Al Iklil fii istinbhatit Tanzil Imam As Suyuti menyatakan dengan turunnya ayat tersebut, Allah melarang kita memanggil beliau dengan namanya saja, tapi harus menyebut beliau dengan Ya Rasulullah atau Ya Nabi Allah (dengan rasa hormat). Dan kenyataannya, hal tersebut berlaku sampai sekarang setelah beliau wafat sekalipun. Nah, lalu bagaimana dengan kita yang sebatas ummat akhir jaman. Masihkah kita tak merasa hormat pada beliau?, sementara Seruan Allah dan Riwayat Para Imam Besar, menyatakan larangan terhadap ketidak sopanan seperti yang sering dilakukan oknum yang mengaku sunnah itu.
Dalam kitab Fathul Bari syarh Shohihil Bukhori juga menegaskan demikian. Dengan menyebutkan riwayat Ibnu Abbas ra yang diriwayatkan Ad dhahhak, bahwa sebelum ayat itu turun, kaum muslimin menyebut Nabi saw dengan panggilan hai Muhammad, hai Ahmad, hai Abu Qasim dan sebagainya. Dengan turunnya ayat tersebut, maka mereka mengganti panggilannya dengan Ya Rasulullah dan Ya Nabiyallah. Hampir semua ulama Islam dan ulama fiqih berbagai madhab berpendapat sama, agar tidak boleh memanggil Nabi dengan sebutan sebagaimana sebelum diturunkannya ayat tersebut(memanggil nama tanpa hormat). Agar ada batas kesopanan antara ummat kepada Jungjunan. Supaya tidak hadir hati yang tidak sopan dan merasa dekat dengan nabi, padahal mereka hanya membuat diri mereka menjadi sombong.
Dalam QS Al araf 159, Al Fath 8-9, Al Insyiraah 4 dan lainnya. Allah memuji akan(puji qadim a'lal hadis)kaum muslimin yang bersikap hormat dan memuliakan Rasulullah saw, bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang yang beruntung. Nah, apa kita sekarang termasuk orang yang beruntung yang punya rasa hormat?, atau malah menjadi orang celaka yang tak hormat  karena merasa diri dekat dengan Rasul?.
Dalam Aali Imran 39,  Allah menyebut Nabi Yahya as dengan predikat sayyid: “ Allah memberikan kabar gembira kepadamu (Hai Zakariya) akan kelahiran seorang putramu, Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang dari) Allah, seorang sayyid (terkemuka, panutan), (sanggup) menahan diri (dari hawa nafsu) dan nabi dari keturanan orang-orang shaleh”.
Jika kata Sayyid dapat digunakan untuk menyebut Nabi Yahya, kemudian para pemimpin, dan lainnya, apalagi untuk Nabi Muhammad saw sebagai Jungjunan kita. Nah, apakah sekarang anda sudah ada pencerahan tentang bagaimana kaum munafik seperti mereka menyembunyikan kebenaran ilmu? yang bahkan berasal dari Al Qur'an, yang dikatakan menjadi landasan mereka dalam hal perilaku dan sunnah?  Silahkan anda tentukan sendiri, dan cari kebenarannya.
Bahkan salah satu dari pelopor kaum mereka yang bersekolah di madinah mendapat cap pemfitnah dari ulama madinah sendiri yang dengan jelas menyebutkan namanya dalam sebuah berita acara menanggapi isu wahabi yang sedang melanda Indonesia. Sungguh hanya racun lah yang mereka sampaikan dengan mengatas namakan sunnah, dengan tidak menyampaikan sebagian bukti yang menjadi landasan asas para kaum muslimin yang lainnya. Dengan sebuah tujuan pembodohan dan pencucian otak, agar kita merasa benar dengan kekeliruan yang ada, tanpa memandang peranan ulama yang sesungguhnya.
Nah disini, wajiblah bagi seorang yang mengetahui kebenaran, agar mencegahnya merusak Islam dengan cara mengadu domba orang awam. Bahkan pada kenyataan nya, bukanlah ulama yang tak mau diajak bermusyawarah. Padahal mereka selalu menantang “menunjukan dalilnya mana”. Tapi, ketika mereka didatangi para ulama mereka justru malah kocar kacir, dan bahkan tak dapat membela pernyataan mereka sendiri, dan bahkan menyebut bahwa itu salah faham. Inikah kah ahlak ahlu sunnah?, bahkan pernyataan mereka jelas tak bersandarkan pada rujukan ilmu

Sunday, December 24, 2017

Cerita Ilmu Laduni Dongeng Santri

ILMU LADUNI 


Di kalangan ulama, kita sering mendengar tentang cerita motivasi yang orang biasa fikir itu aneh. Bagi orang yang beriman itu adalah sebuah pecutan hebat dalam emosi jiwanya. Saya sebagai seorang santri sangat miris melihat akhlak para pemuda islam indonesia yang tak bisa dicontoh dan tidak enak dipandang mata.
Maka dari itu, saya ingin memberikan sebuah cerita motivasi yang insyaallah benar-benar bermanfaat dan memang ada kejadian tersebut. Suatau hari, ketika saya sedang mengaji di Ponpes Miftahul Anwar, Kp. Panyeuseupan, Ds. Sukaluyu, Kec. Sukawening  Cibatu-Garut, di tengah-tengan ajengan yang sedang bilaghah kepada santrinya, beliau menceritakan suatu kisah yang seru dan juga mengharukan.
Dan inilah kisahnya. Diceritakan ada seorang Kyai yang mempunyai anak laki-laki yang agak istimewa. Dia tidak bisa mengaji dan berceramah dan mengaji kitab kuning yang biasanya itu menjadi standar bekal agar kita ( Para Santri ), dapat berlaku adil dan beribadah dengan benar dengan cara yang teliti dan bijaksana, itupun berlaku dalam cara berdakwah yang harus hati-hati dalam penyampaian bila ada sebuah perbandingan hadis.
Setiap hari ia mengaji dengan serius dan tekun, tapi tetap saja hanya membaca Al-Qur’an sajalah yang ia bisa. Sementara itu ia tertekan dengan keadaan yang mengharuskannya dapat menguasai semua ilmu tersebut. Suatu waktu, Kyai ( ayah nya ) memanggil dan memberikan sebuah ungkapan yang membuatnya berfikir keras.
 “ Kyai : Nak, kemarilah.”
“ Si anak : Ya ayah ( Jawabnya ).”
“ Kyai : Coba engkau fikirkan, apa yang terjadi jika ayahmu ini tiada?.”
“ Si Anak : Apa yang ayah katakan? ( Sambil heran dan kaget mendengarnya ).”
“ Kiyai : Aku khawatir jika tubuh ku ini melemah dan tak dapat lagi pergi pengajian dan mendidik para santri.”
“ Si Anak : Janganlah ayah berkata demekian, sungguh aku tak ingin mendengar ucapan itu dari mu ( Sambil berlinang ).”
“ Kiyai  : Aku ini kian hari kian tua nak, saat ini aku malah ingin lebih dekat dengan Allah karena sungguh aku telah lalai karena dunia ini.”
“ Si anak :  Sudahlah janganlah ayah berkata seperti itu, aku sungguh sedih mendengarnya.”
“ Kiyai : Sungguh aku tak pernah mengajarkan mu meratap seperti itu, biarkanlah aku ( Sambil menatap pilu anaknya ). Karena sungguh aku hanyalah mahluk dan hanyalah sebentar aku di dunia ini. Sekarang, cobalah engkau belajar keluar pondok agar kau dapat pengalaman dan  bisa menggantikan ku mengurus para santri.”
“ Si Anak : ( Dengan berat ia menjawab ). Baiklah ayah, kalau demikian keinginanmu. Aku akan melaksanakannya. Semoga Allah mencurahkan rahmat NYA kepadaku.

“ Kiyai : Pergilah nak, akan aku doa kan selalu apa yang engkau emban ini menjadi rido Allah untuk mu nak.”
“ Si Anak : Besok pagi, aku akan berangkat ke pondok sebarang pulau ayah ( jawab nya dengan nada sendu )”
“ Kiyai : Bawalah bekal dan uang yang ada dalam kantong ini, bacalah Basmallah dan ribuan sayap malaikat akan memayungi mu.”
“ Si Anak : Amin.”
“ Kiyai : Tidurlah, biar nanti aku persiap kan bekalmu. Berpamitlah dulu pada ibu mu jangan lupa minta doanya.”
“ Si Anak : Aku akan persiapkan sendiri, biarlah ayah berbaring dan jangan berkata seperti tadi lagi.”
“ Kiyai : Baiklah nak, Assalamualaikum.”
Keesokan harinya ia pun berangkat setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan ia terus berfikir dan berdoa, sambil berkeluh kepada Allah.
“ Si Anak : Uuuuuhh,, Ya Allah mudah-mudahan aku mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dengan segala keterbatasan ku ini. Ya Allah ,Sembuhkanlah ayah ku, lindungilah ibu ku dan panjang kan lah umur mereka dan ampunilah segala dosanya.”
Ditengah perjalanan yang ia jalani, sebentar dia beristirahat di sebuah gubug kecil, bisa di sebut tajug atau mushola. Sambil melepaskan penat dan lelah, ia pun berbaring sejenak di tempat itu. Tiba-tiba ia mendengar seperti seorang kakek tua yang sedang beribadah.
” Si Anak : Astagfirulloh al’adhim, untung ada yang shalat, kalau tidak aku akan tenggelam dalam kelelahanku.”
Singkat cerita, setelah mereka mengerjakan beribadah, mereka pun akhirnya berbincang-bincang seputar kehidupannya.
“ Si Anak : Wahai kakek, sungguh saat ini aku ingin berkeluh-kesah terhadap diriku ini.”
“ Si Kakek : Apa yang sebenarnya mengganggu fikiran mu itu?.”
“ Si Anak : Sesungguhnya, aku srdang berkelana mencari ilmu agar dapat berbakti dan meneruskan perjuangan ayahku.”
“ Si Kakek : Sungguh mulia apa yang engkau lakukan itu.”
“ Si Anak : Ya, begitulah seharusnya seorang anak, dan sebagai hamba yang beriman.”
“ Si Kakek : Kalau begitu kebetulan, cobalah kau mengaji bersama anak-anak ku.”
“ Si Anak : Dimana tempat nya kek?”
“Si kakek : Ikuti saja aku nanti juga tahu. ( Kata Si Kakek sambil melangkahkan kaki ).”
“ Si Kakek : Pegang saja pundakku dan pejamkan matamu, dan jangan pula kau menengok kiri  kanan mu."
“ Si Anak : Baik kek. ( Ia menjawab dengan rasa penasaran ).”
Si anak merenung sambil bertanya-tanya, tentang alasan mengapa harus seperti itu. Sepanjang perjalanan ia terus penasaran dan mulai bertanya meskipun dengan mata tertutup.
” Si Anak : Kek, kenapa aku harus menutup mata dan tak boleh menengok?.”
“ Si Kakek : Sudahlah jangan banyak bertanya dulu, nanti juga tahu sendiri.”
“ Si Anak : Baiklah kalo seperti itu. ( sambil bertanya dan gemetar )
Kemudian, beberapa saat kemudian tibalah mereka di sebuah gerbang besar dari sebuah padepokan. Dan ternyata didalam nya ada banyak orang yang bercadar wanitanya, dan berjubah para lelakinya. Dengan aneh nya si anak tersebut  memandang ke arah sekitar.
“ Si Anak : Sebenarnya kakek ini siapa ?”
“ Si Kakek : Masuklah dulu, nanti juga tahu. Nah besok subuh hari, kau mulailah belajar bersama yang lain.”
“ Si Anak : Baiklah kek ( sambil dipenuhi rasa penasaran )”
Subuhpun tiba, terlihatlah barisan para santri yang sudah rapih bersila dengan membawa kitab kuning dan Al Qur’an. Ia pun duduk di salah satu barisan para santri yang bersila di tengah. Karena rasa penasaran ia pun bertanya pada teman disampingnya yang perawakan nya gagah, tampan dan harum.
“ Si Anak : Apa saya boleh bertanya kawan?”
“ Si Teman : Iya, apa ada yang bisa saya bantu mas?”
“ Si Anak : kok belum pada mengaji?”
“ Si Teman : Belum mas, kita lagi sorogan aja dulu dalam hati dan mengingat pelajaran yang lalu, sebelum ajengan datang ( Ujar nya ).”
“ Si Anak : Memangnya siapa Kiyainya?, dan dimana beliau?”
“ Si Teman : Orang yang bersama mas lah yang kami tunggu, ia lah ajengan di pesantren ini.”
“ Si Anak : Massya Allah, ternyata beliau itu Kiyainya? ( Sambil terpelanga ).
“ Si Teman : Benar mas, itu dia baru naik ke atas mimbar.”
Setelah mengetahui bahwa si kakek tersebut adalah Kiyai yang memimpin pesantren tersebut, ia selalu terkagum-kagum dan senang hati karena telah bertemu dengan Si kakek. Singkat cerita, ia pun mengaji berbagai ilmu pengetahuan tentang Islam dan juga mentadabbur Al Qur’an dengan teliti dengan cara mengkaji Al Quran dengan rujukan hadist dan ketelitian dari kitab kuning para ulama. Hari demi hari ia habiskan waktu dengan mengaji dan berkumpul bersama santri lain belajar tentang makna kehidupan. Tak terasa sudah tiga bulan ia berada di pesantren. Tiba-tiba, pada malam hari sang Kiyai menyuruhnya menghadap.
Tanpa ragu ia pun menghadap dengan rasa penasaran. Kemudian ia bertanya.
“ Si Anak : Ada apa gerangan Kiyai memanggil saya? ( Jawabnya dengan merendah ).”
“ Si Kakek : Selama ini kau telah banyak mengaji denganku, dan tentunya sudah banyak yang kau dapat bukan?.”
“ Si Anak : Tentu Kiyai, tapi saya rasa belumlah cukup pemahaman saya.”
“ Si Kakek : Aku dengar ayah mu sakit parah sekarang. Dan dia merindukanmu, Alangkah baik nya jika kau sekarang kembali, janganlah engkau banyak bertanya kurasa sudah cukup kau menimba ilmu disini.”
“ Si Anak : Baiklah Kiyai, saya akan kembali ( Meskipun dengan rasa tak puas karena masih ingin belajar ).
“ Si Kakek : Bukalah mulut mu jangan banyak tanya!.”
Ia pun membuka mulutnya, dan ia kaget ketika ia di sembur dengan ludahnya sang Kiyai sebanyak tiga kali.
“ Si Kakek : Cuah, cuah, cuah.”
Meskipun dengan rasa jijik dan aneh ia terdiam sambil menganga. Lalu kemudian, Kiyai itu menyuruh menelannya. “Lancarlah apa yang ingin kau ucap”. Seru sang Kiyai.
“ Si Kakek : Nah, sekarang akan aku antar ke tempat semula kita bertemu. Dan masih dengan syarat yang sama.”
Merekapun akhir nya kembali ke tempat semuka mereka bertemu pertama. Dan seusainya tiba di tempat tersebut sang Kiyai itu bermandat kepadanya.
“ Si Kakek : Nah, sekarang kau sudah sampai. Gunakanlah ilmu dan sampaikanlah dengan bijak dan janganlah engkau menghina ulama.”
“ Si Anak : Baiklah kek.”
Sekejap mata memandang tiba-tiba kakek itu pun hilang bagaikan asap tertiup angin kencang.
“ Si Anak : Apa yang sebenarnya terjadi?, ia bergumam dalam hatinya.
Terus ia berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia belumlah dapat menemukan jawabannya. Akhirnya, setelah sepanjang hari ia berjalan, sampailah ia di rumahnya.
“ Si Anak : Assalamualaikum.”
Dengan rasa haru ia memberi salam setelah menahan rasa rindu yang cukup lama.
“ Orang rumah : Waalaikumussalam.”
Mereka terperanga sambil bercucuran airmata, dan segera memeluk si anak sambil melepas rindu dan haru;
“ Ibu : Dari mana saja kau tak memberi kabar selama ini nak?, ( sambil terus berlinang air mata ).
“ Si Anak : Kenapa ibu menangis?, aku hanya beberapa bulan saja merantau, tak lama juga aku di sana,”
“ Ibu : Tak lama bagaimana kau ini?, sudah 3 tahun kau tak pulang dan tak ada kabar. Kenapa kau ini tega pada ibu mu!.”
Si Anak : Apa?”
Sambil teraneh aneh ia bertanya. Dan kemudian datanglah ayahnya yang sudah semakin parah sakitnya.
“ Si Ayah : Anak ku dari mana saja kau nak? Aku hanya menyuruhmu menimba ilmu, bukannya meninggalkan kami tanpa kabar.”
“ Si Anak : Sudahlah ayah dan ibu janganlah menangis, toh aku kan sudah ada disini.”
Kemudian mereka menghabiskan waktu bercakap cakap dan melepas rindu.
Keesokan harinya, Si ayah ternyata ada jadwal pengajian dengan para santri. Akan tetapi, dengan keadaannya sekarang ia tak mampu untuk melaksanakannya. Lalu tiba-tiba si anak menyodorkan diri kepada ayahnya, agar dia yang menggantikan beliau mengaji. 
" Si Anak : Ayah tenang saja, dan duduk lah sambil bersantai agar keadaannya lebih baik."
Alangkah terkejutnya si ayah dengan rasa tak percaya.
" Si Ayah : Yang benar saja kau nak?, jangan bergurau kau!."
Sambil menenteng kitab Johar Maknun, yang notaben kitabnya mememrlukan pemahaman yang tinggi dan cakap, ia melangkah dengan tenang ke atas mimbar. Dan mulai, menyampaikan apa yang ayahnya ingin sampai kan sesuai dengan bab yang selanjutnya akan dibahas. Alangkah terkejutnya semua Mustami mendengar tausiah yang dibawakannya begitu cakap, layaknya ulama yang sudah berilmu tinggi. Dalam hati mereka terbesit rasa penasaran yang amat dalam, bagaimana bisa ia yang baru tiga tahun sudah bisa seperti itu. Padahal untuk mencapai pemahaman demikian perlulah waktu yang lama, bahkan mencapai berpuluh tahun untuk menguasainya.
Akhhir dari kisah ini ditutup dengan akhir yang bahagia dan mengejutkan tentunya. Ia pun meneruskan jihad ayah nya yang kini telah tua renta dan sakit. dari sini kita bissa mengambil kesimpulan untuk tidak pernah menyerah dan putus asa, serta tetap beriman dan berbakti kepada Allah dan orang tua.
Semoga bermanfaat dalam menambah semangat beribadah kawan-kawan.
Kalo ada artikel lagi harap di pantau terus ya.

Mengqhodo Shalat Asas Islam

MENGQODHO SHALAT
Serukan lah Kebenaran
Senandung Sunnah
 
Qodho/penggantian shalat yang tertinggal karena sebab yang tak mungkin di tolak badan, telah menjadi hal lazim dikalangan sebagian muslim karena berdasarkan Al Q’uran, sunnah dan ijma para ulama. Akan tetapi. sebagian muslim yang lain membid’ah kan/mengharamkan nya. Mereka berpegang pada wejangan Ibnu Hazm dan Ibnu taimiyah yaitu, tidak sah orang yang tertinggal shalat dengan sengaja untuk menggantinya/mengqhodonya pada shalat yang lain. Mereka harus menambah shalat2 sunat untuk menutupi kekurangannya. Tapi, pendapat Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyah ini terbantah oleh Hadist serta Ijma(kesepakatan) para Ulama pakar diantaranya, imam hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan yang lainnya tentang kewajiban qodho bagi yang meninggalkan shalat baik dengan sengaja maupun tidak sengaja.
HR Bukhori, Muslim dari Anas bin Malik ra:
“Siapa yang lupa (melaksanakan) suatu shalat atau tertidur dari (melaksanakan)nya, maka kifaratnya(tebusannya) adalah melakukannya  jika ia ingat”.
Ibnu Hajar al Asqolany dalam Al Fath !!:71, ketika menerangkan makna hadis ini berkata “ Kewajiban mengqodho shalat atas orang yang sengaja meninggalkannya itu lebih utama, karena hal itu termasuk sasaran Khitab (perintah) untuk melaksanakan shalat dan ia harus melakukannya”.
Maksud dari beliau adalah, kalau perintah Rasullullah bagi orang yang ketinggalan shalat karena lupa dan tertidur itu harus di qodho, apalagi untuk shalat yang disengaja ditinggal itu malah lebih utama mengqodhonya. Maka bagaimana dan darimana dalilnya orang yang mengatakan bahwa shalat yang sengaja atau tidak sengaja tertinggal itu tidak wajib/ tidak sah untuk di qodho. Ini membuktikan bahwa begitu wajibnya shalat bagi muslim.
Begitu juga hadis itu menunjukan bahwa orang  yang tertinggal shalat karena tertidur atau lupa, itu tidak berdosa karena dalam keadaan yang tidak disadari dan tak dapat dicegah untuk tidak terjadi. Tapi, orang yang sengaja meninggalkan shalat dengan sadar tidak atas dasar lupa dan ketiduran, maka dosa besar baginya dan tetap wajib mengqhodo nya dengan rasa penyesalan yang amat sangat karena lalai dalam beribadah.
Hr.Bukhori, Muslim dari Ummu salamah;
Rasulullah saw setelah shalat dzuhur tidak sempat shalat sunnah dua rakaat, beliau langsung membagi-bagikan harta sampai terdengar adzan shalat ashar. Setelah shalat ashar beliau shalat dua rakaat ringan, sebagai ganti/qodho shalat dua rakaat setelah dzuhur tersebut.
HR.Tarmidzi dan abu daud (dikutip dari At taj 1:539):
Rasulullah Saw bersabda “ Barang siapa terttidur atau terlupa dari mengerjakan shalat witir, maka lakukanlah jika ia ingat atau setelah terbangun”.
HR.Muslim dan An Nasai dari Aisyah ra ( at taj 1:539):
Rasulullah saw bila terhalang shalat malam karena tidur atau sakit, maka beliau menggantikannya dengan shalat 12 rakaat diwaktu siang.
Jadi, jelas bila Rasul saja mengganti shalat sunnah muakad yang tidak dikerjakan pada waktunya itu dengan mengqodho nya pada waktu lain, maka lebih utama shalat wajib yang tertinggal untuk menggantinya. Jika orang yang beriman sudah merasa bahwa shalat sunnah saja sudah seperti fardu, maka apalagi fardu yang sangat wajib. Ini adalah indikasi tingkah rasul yang tidak difahami atau bahkan tidak dipublikasikan dengan sengaja oleh oknum tertentu.
HR.Muslim dari Abu Qatadah :
Apa kifarat (tebusan) terhadap apa yang kita lakukan dengan mengurangi kesempurnaan shalat kita (at tafrith fi ash sholah)? Lalu Rasulullah Saw bersabda : “ Bukankah aku sebagai teladan bagi kalian?, selanjutnya beliau bersabda “ Sebetulnya jika karena tidur (atau lupa) berarti tidak ada tafrith (kelalaian atau kekurangan dalam pelaksanaan ibaah, maknanya juga tidak berdosa). Dinamakan tafrith (kekurangan dalam ibadah) itu, bila seorang tidak melakukan shalat sampai datang lagi waktu shalat lainnya (dengan sengaja tidak shalat). Imam Muslim, Abu Hurairah meriwayatkan demikian begitu juga Imran bin Husain dan Imam Bukhori.
Dalam hadis ini menyimpulkan bahwa orang yang lalai itu adalah orang yang dengan sengaja meninggalkan shalat., bukan orang yang lupa atau tertidur karena tidak sengaja. Dan tak adapula larangan atau pengharaman terhadap Qodho, karena nabi juga mengisyaratkan pembolehannya terlaksana.
HR.Bukhori dalam bab orang yang melaksanakan shalat bersama orang lain berjamaah setelah waktunya lewat. Imam Muslim 1:438 juga meriwayatkan.
Jabir bin Abdullah ra :
 Umar bin Khatab pernah datang pada hari (peperangan) Khandaq setelah matahari terbenam. Dia mencela orang kafir Quraisy, kemudian berkata “wahai Rasulullah, aku masih melakukan shalat ashar hingga (ketika itu) matahari hampir terbenam”. Maka Rasul menjawab “Demi Allah aku tidak (belum) melakukan shalat ashar itu”. Lalu kami berdiri (dan pergi) ke Bith han, Beliau berwudu untuk (melaksanakan) shalat, dan kami pun berwudu untuk melakukannya. Beliau melakukan shalat ashar setelah matahari terbenam, kemudian Beliau Saw melakukan shalat magrib.
Begitu juga dalam kitab fiqih 4 madhab  bab 25 shalat qodho menulis ; para ulama ittifak termasuk Imam Maliki, Imam syafii, Imamhanafi dan lainnya menyatakan bahwa barang siapa ketinggalan shalat fardu, maka ia wajib menggantinya/mengqodhonya, baik shalatnya itu ditinggalkannya karena sengaja, lupa ataupun ketiduran. Adapun perselisihan antara para imam terdapat pada apakah ada kewajiban qodho atas orang yang gila, pingsan atau mabuk, dan bukan untuk orang yang waras.
Dengan ini jelaslah sudah bagi para kaum pencela dan pembidah orang, semoga menjadi manfaat agar bertabayyun ttidak hanya berdasar pada satu sumber dan lemah pula keilmuannya. Apalagi dalam masalah tauhid akan bertentangan dengan hukum Al Quran jika tidak bijak dalam mencerna ilmu, dan akan menjafdi mudhorot besar bagi keutuhan umat Islam dan menjadi kemerosotan ahlak dan pembodohan ilmu serta akidah. Hingga ada kewajiban bagi yang berilmu dan ulama mencegahnya dengan jalan syariat. Adapun ketegasan para ulama jangan disalah artikan sebagai anarkisme, karena ini sudah merusak akidah, maka pembelaan kita pun sudah dalam tahap jihad, yang tindakan tegas menjadi kebolehan yang amat boleh.
Nah sekarang anda boleh lihat selintas video acara silaturahmi santri dengan guru nya nieeeee...
Biar jadi orang yang lebih taadzub terhadap ilmu dan ulama.
😀😀😀😀😀😀😀😀

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat Perlunya ada pelurusan tentang tawassul, karena banyaknya saudara kita yang ...