Sunday, December 24, 2017

Cerita Ilmu Laduni Dongeng Santri

ILMU LADUNI 


Di kalangan ulama, kita sering mendengar tentang cerita motivasi yang orang biasa fikir itu aneh. Bagi orang yang beriman itu adalah sebuah pecutan hebat dalam emosi jiwanya. Saya sebagai seorang santri sangat miris melihat akhlak para pemuda islam indonesia yang tak bisa dicontoh dan tidak enak dipandang mata.
Maka dari itu, saya ingin memberikan sebuah cerita motivasi yang insyaallah benar-benar bermanfaat dan memang ada kejadian tersebut. Suatau hari, ketika saya sedang mengaji di Ponpes Miftahul Anwar, Kp. Panyeuseupan, Ds. Sukaluyu, Kec. Sukawening  Cibatu-Garut, di tengah-tengan ajengan yang sedang bilaghah kepada santrinya, beliau menceritakan suatu kisah yang seru dan juga mengharukan.
Dan inilah kisahnya. Diceritakan ada seorang Kyai yang mempunyai anak laki-laki yang agak istimewa. Dia tidak bisa mengaji dan berceramah dan mengaji kitab kuning yang biasanya itu menjadi standar bekal agar kita ( Para Santri ), dapat berlaku adil dan beribadah dengan benar dengan cara yang teliti dan bijaksana, itupun berlaku dalam cara berdakwah yang harus hati-hati dalam penyampaian bila ada sebuah perbandingan hadis.
Setiap hari ia mengaji dengan serius dan tekun, tapi tetap saja hanya membaca Al-Qur’an sajalah yang ia bisa. Sementara itu ia tertekan dengan keadaan yang mengharuskannya dapat menguasai semua ilmu tersebut. Suatu waktu, Kyai ( ayah nya ) memanggil dan memberikan sebuah ungkapan yang membuatnya berfikir keras.
 “ Kyai : Nak, kemarilah.”
“ Si anak : Ya ayah ( Jawabnya ).”
“ Kyai : Coba engkau fikirkan, apa yang terjadi jika ayahmu ini tiada?.”
“ Si Anak : Apa yang ayah katakan? ( Sambil heran dan kaget mendengarnya ).”
“ Kiyai : Aku khawatir jika tubuh ku ini melemah dan tak dapat lagi pergi pengajian dan mendidik para santri.”
“ Si Anak : Janganlah ayah berkata demekian, sungguh aku tak ingin mendengar ucapan itu dari mu ( Sambil berlinang ).”
“ Kiyai  : Aku ini kian hari kian tua nak, saat ini aku malah ingin lebih dekat dengan Allah karena sungguh aku telah lalai karena dunia ini.”
“ Si anak :  Sudahlah janganlah ayah berkata seperti itu, aku sungguh sedih mendengarnya.”
“ Kiyai : Sungguh aku tak pernah mengajarkan mu meratap seperti itu, biarkanlah aku ( Sambil menatap pilu anaknya ). Karena sungguh aku hanyalah mahluk dan hanyalah sebentar aku di dunia ini. Sekarang, cobalah engkau belajar keluar pondok agar kau dapat pengalaman dan  bisa menggantikan ku mengurus para santri.”
“ Si Anak : ( Dengan berat ia menjawab ). Baiklah ayah, kalau demikian keinginanmu. Aku akan melaksanakannya. Semoga Allah mencurahkan rahmat NYA kepadaku.

“ Kiyai : Pergilah nak, akan aku doa kan selalu apa yang engkau emban ini menjadi rido Allah untuk mu nak.”
“ Si Anak : Besok pagi, aku akan berangkat ke pondok sebarang pulau ayah ( jawab nya dengan nada sendu )”
“ Kiyai : Bawalah bekal dan uang yang ada dalam kantong ini, bacalah Basmallah dan ribuan sayap malaikat akan memayungi mu.”
“ Si Anak : Amin.”
“ Kiyai : Tidurlah, biar nanti aku persiap kan bekalmu. Berpamitlah dulu pada ibu mu jangan lupa minta doanya.”
“ Si Anak : Aku akan persiapkan sendiri, biarlah ayah berbaring dan jangan berkata seperti tadi lagi.”
“ Kiyai : Baiklah nak, Assalamualaikum.”
Keesokan harinya ia pun berangkat setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan ia terus berfikir dan berdoa, sambil berkeluh kepada Allah.
“ Si Anak : Uuuuuhh,, Ya Allah mudah-mudahan aku mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dengan segala keterbatasan ku ini. Ya Allah ,Sembuhkanlah ayah ku, lindungilah ibu ku dan panjang kan lah umur mereka dan ampunilah segala dosanya.”
Ditengah perjalanan yang ia jalani, sebentar dia beristirahat di sebuah gubug kecil, bisa di sebut tajug atau mushola. Sambil melepaskan penat dan lelah, ia pun berbaring sejenak di tempat itu. Tiba-tiba ia mendengar seperti seorang kakek tua yang sedang beribadah.
” Si Anak : Astagfirulloh al’adhim, untung ada yang shalat, kalau tidak aku akan tenggelam dalam kelelahanku.”
Singkat cerita, setelah mereka mengerjakan beribadah, mereka pun akhirnya berbincang-bincang seputar kehidupannya.
“ Si Anak : Wahai kakek, sungguh saat ini aku ingin berkeluh-kesah terhadap diriku ini.”
“ Si Kakek : Apa yang sebenarnya mengganggu fikiran mu itu?.”
“ Si Anak : Sesungguhnya, aku srdang berkelana mencari ilmu agar dapat berbakti dan meneruskan perjuangan ayahku.”
“ Si Kakek : Sungguh mulia apa yang engkau lakukan itu.”
“ Si Anak : Ya, begitulah seharusnya seorang anak, dan sebagai hamba yang beriman.”
“ Si Kakek : Kalau begitu kebetulan, cobalah kau mengaji bersama anak-anak ku.”
“ Si Anak : Dimana tempat nya kek?”
“Si kakek : Ikuti saja aku nanti juga tahu. ( Kata Si Kakek sambil melangkahkan kaki ).”
“ Si Kakek : Pegang saja pundakku dan pejamkan matamu, dan jangan pula kau menengok kiri  kanan mu."
“ Si Anak : Baik kek. ( Ia menjawab dengan rasa penasaran ).”
Si anak merenung sambil bertanya-tanya, tentang alasan mengapa harus seperti itu. Sepanjang perjalanan ia terus penasaran dan mulai bertanya meskipun dengan mata tertutup.
” Si Anak : Kek, kenapa aku harus menutup mata dan tak boleh menengok?.”
“ Si Kakek : Sudahlah jangan banyak bertanya dulu, nanti juga tahu sendiri.”
“ Si Anak : Baiklah kalo seperti itu. ( sambil bertanya dan gemetar )
Kemudian, beberapa saat kemudian tibalah mereka di sebuah gerbang besar dari sebuah padepokan. Dan ternyata didalam nya ada banyak orang yang bercadar wanitanya, dan berjubah para lelakinya. Dengan aneh nya si anak tersebut  memandang ke arah sekitar.
“ Si Anak : Sebenarnya kakek ini siapa ?”
“ Si Kakek : Masuklah dulu, nanti juga tahu. Nah besok subuh hari, kau mulailah belajar bersama yang lain.”
“ Si Anak : Baiklah kek ( sambil dipenuhi rasa penasaran )”
Subuhpun tiba, terlihatlah barisan para santri yang sudah rapih bersila dengan membawa kitab kuning dan Al Qur’an. Ia pun duduk di salah satu barisan para santri yang bersila di tengah. Karena rasa penasaran ia pun bertanya pada teman disampingnya yang perawakan nya gagah, tampan dan harum.
“ Si Anak : Apa saya boleh bertanya kawan?”
“ Si Teman : Iya, apa ada yang bisa saya bantu mas?”
“ Si Anak : kok belum pada mengaji?”
“ Si Teman : Belum mas, kita lagi sorogan aja dulu dalam hati dan mengingat pelajaran yang lalu, sebelum ajengan datang ( Ujar nya ).”
“ Si Anak : Memangnya siapa Kiyainya?, dan dimana beliau?”
“ Si Teman : Orang yang bersama mas lah yang kami tunggu, ia lah ajengan di pesantren ini.”
“ Si Anak : Massya Allah, ternyata beliau itu Kiyainya? ( Sambil terpelanga ).
“ Si Teman : Benar mas, itu dia baru naik ke atas mimbar.”
Setelah mengetahui bahwa si kakek tersebut adalah Kiyai yang memimpin pesantren tersebut, ia selalu terkagum-kagum dan senang hati karena telah bertemu dengan Si kakek. Singkat cerita, ia pun mengaji berbagai ilmu pengetahuan tentang Islam dan juga mentadabbur Al Qur’an dengan teliti dengan cara mengkaji Al Quran dengan rujukan hadist dan ketelitian dari kitab kuning para ulama. Hari demi hari ia habiskan waktu dengan mengaji dan berkumpul bersama santri lain belajar tentang makna kehidupan. Tak terasa sudah tiga bulan ia berada di pesantren. Tiba-tiba, pada malam hari sang Kiyai menyuruhnya menghadap.
Tanpa ragu ia pun menghadap dengan rasa penasaran. Kemudian ia bertanya.
“ Si Anak : Ada apa gerangan Kiyai memanggil saya? ( Jawabnya dengan merendah ).”
“ Si Kakek : Selama ini kau telah banyak mengaji denganku, dan tentunya sudah banyak yang kau dapat bukan?.”
“ Si Anak : Tentu Kiyai, tapi saya rasa belumlah cukup pemahaman saya.”
“ Si Kakek : Aku dengar ayah mu sakit parah sekarang. Dan dia merindukanmu, Alangkah baik nya jika kau sekarang kembali, janganlah engkau banyak bertanya kurasa sudah cukup kau menimba ilmu disini.”
“ Si Anak : Baiklah Kiyai, saya akan kembali ( Meskipun dengan rasa tak puas karena masih ingin belajar ).
“ Si Kakek : Bukalah mulut mu jangan banyak tanya!.”
Ia pun membuka mulutnya, dan ia kaget ketika ia di sembur dengan ludahnya sang Kiyai sebanyak tiga kali.
“ Si Kakek : Cuah, cuah, cuah.”
Meskipun dengan rasa jijik dan aneh ia terdiam sambil menganga. Lalu kemudian, Kiyai itu menyuruh menelannya. “Lancarlah apa yang ingin kau ucap”. Seru sang Kiyai.
“ Si Kakek : Nah, sekarang akan aku antar ke tempat semula kita bertemu. Dan masih dengan syarat yang sama.”
Merekapun akhir nya kembali ke tempat semuka mereka bertemu pertama. Dan seusainya tiba di tempat tersebut sang Kiyai itu bermandat kepadanya.
“ Si Kakek : Nah, sekarang kau sudah sampai. Gunakanlah ilmu dan sampaikanlah dengan bijak dan janganlah engkau menghina ulama.”
“ Si Anak : Baiklah kek.”
Sekejap mata memandang tiba-tiba kakek itu pun hilang bagaikan asap tertiup angin kencang.
“ Si Anak : Apa yang sebenarnya terjadi?, ia bergumam dalam hatinya.
Terus ia berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia belumlah dapat menemukan jawabannya. Akhirnya, setelah sepanjang hari ia berjalan, sampailah ia di rumahnya.
“ Si Anak : Assalamualaikum.”
Dengan rasa haru ia memberi salam setelah menahan rasa rindu yang cukup lama.
“ Orang rumah : Waalaikumussalam.”
Mereka terperanga sambil bercucuran airmata, dan segera memeluk si anak sambil melepas rindu dan haru;
“ Ibu : Dari mana saja kau tak memberi kabar selama ini nak?, ( sambil terus berlinang air mata ).
“ Si Anak : Kenapa ibu menangis?, aku hanya beberapa bulan saja merantau, tak lama juga aku di sana,”
“ Ibu : Tak lama bagaimana kau ini?, sudah 3 tahun kau tak pulang dan tak ada kabar. Kenapa kau ini tega pada ibu mu!.”
Si Anak : Apa?”
Sambil teraneh aneh ia bertanya. Dan kemudian datanglah ayahnya yang sudah semakin parah sakitnya.
“ Si Ayah : Anak ku dari mana saja kau nak? Aku hanya menyuruhmu menimba ilmu, bukannya meninggalkan kami tanpa kabar.”
“ Si Anak : Sudahlah ayah dan ibu janganlah menangis, toh aku kan sudah ada disini.”
Kemudian mereka menghabiskan waktu bercakap cakap dan melepas rindu.
Keesokan harinya, Si ayah ternyata ada jadwal pengajian dengan para santri. Akan tetapi, dengan keadaannya sekarang ia tak mampu untuk melaksanakannya. Lalu tiba-tiba si anak menyodorkan diri kepada ayahnya, agar dia yang menggantikan beliau mengaji. 
" Si Anak : Ayah tenang saja, dan duduk lah sambil bersantai agar keadaannya lebih baik."
Alangkah terkejutnya si ayah dengan rasa tak percaya.
" Si Ayah : Yang benar saja kau nak?, jangan bergurau kau!."
Sambil menenteng kitab Johar Maknun, yang notaben kitabnya mememrlukan pemahaman yang tinggi dan cakap, ia melangkah dengan tenang ke atas mimbar. Dan mulai, menyampaikan apa yang ayahnya ingin sampai kan sesuai dengan bab yang selanjutnya akan dibahas. Alangkah terkejutnya semua Mustami mendengar tausiah yang dibawakannya begitu cakap, layaknya ulama yang sudah berilmu tinggi. Dalam hati mereka terbesit rasa penasaran yang amat dalam, bagaimana bisa ia yang baru tiga tahun sudah bisa seperti itu. Padahal untuk mencapai pemahaman demikian perlulah waktu yang lama, bahkan mencapai berpuluh tahun untuk menguasainya.
Akhhir dari kisah ini ditutup dengan akhir yang bahagia dan mengejutkan tentunya. Ia pun meneruskan jihad ayah nya yang kini telah tua renta dan sakit. dari sini kita bissa mengambil kesimpulan untuk tidak pernah menyerah dan putus asa, serta tetap beriman dan berbakti kepada Allah dan orang tua.
Semoga bermanfaat dalam menambah semangat beribadah kawan-kawan.
Kalo ada artikel lagi harap di pantau terus ya.

No comments:

Post a Comment

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat Perlunya ada pelurusan tentang tawassul, karena banyaknya saudara kita yang ...