ILMU LADUNI
Di kalangan ulama, kita sering mendengar tentang cerita
motivasi yang orang biasa fikir itu aneh. Bagi orang yang beriman itu adalah
sebuah pecutan hebat dalam emosi jiwanya. Saya sebagai seorang santri sangat
miris melihat akhlak para pemuda islam indonesia yang tak bisa dicontoh dan
tidak enak dipandang mata.
Maka dari itu, saya ingin memberikan sebuah cerita motivasi
yang insyaallah benar-benar bermanfaat dan memang ada kejadian tersebut. Suatau
hari, ketika saya sedang mengaji di Ponpes Miftahul Anwar, Kp. Panyeuseupan,
Ds. Sukaluyu, Kec. Sukawening
Cibatu-Garut, di tengah-tengan ajengan yang sedang bilaghah kepada
santrinya, beliau menceritakan suatu kisah yang seru dan juga mengharukan.
Dan inilah kisahnya. Diceritakan ada seorang Kyai yang
mempunyai anak laki-laki yang agak istimewa. Dia tidak bisa mengaji dan
berceramah dan mengaji kitab kuning yang biasanya itu menjadi standar bekal
agar kita ( Para Santri ), dapat berlaku adil dan beribadah dengan benar dengan
cara yang teliti dan bijaksana, itupun berlaku dalam cara berdakwah yang harus
hati-hati dalam penyampaian bila ada sebuah perbandingan hadis.
Setiap hari ia mengaji dengan serius dan tekun, tapi tetap
saja hanya membaca Al-Qur’an sajalah yang ia bisa. Sementara itu ia tertekan
dengan keadaan yang mengharuskannya dapat menguasai semua ilmu tersebut. Suatu
waktu, Kyai ( ayah nya ) memanggil dan memberikan sebuah ungkapan yang membuatnya berfikir keras.
“ Kyai : Nak,
kemarilah.”
“ Si anak : Ya ayah ( Jawabnya ).”
“ Kyai : Coba engkau fikirkan, apa yang terjadi jika ayahmu ini tiada?.”
“ Si Anak : Apa yang ayah katakan? ( Sambil heran dan kaget
mendengarnya ).”
“ Kiyai : Aku khawatir jika tubuh ku ini melemah dan tak
dapat lagi pergi pengajian dan mendidik para santri.”
“ Si Anak : Janganlah ayah berkata demekian, sungguh aku tak
ingin mendengar ucapan itu dari mu ( Sambil berlinang ).”
“ Kiyai : Aku ini kian hari kian tua nak, saat ini aku
malah ingin lebih dekat dengan Allah karena sungguh aku telah lalai karena
dunia ini.”
“ Si anak : Sudahlah
janganlah ayah berkata seperti itu, aku sungguh sedih mendengarnya.”
“
Kiyai : Sungguh aku tak pernah mengajarkan mu meratap seperti
itu, biarkanlah aku ( Sambil menatap pilu anaknya ). Karena sungguh aku
hanyalah mahluk dan hanyalah sebentar aku di dunia ini. Sekarang,
cobalah engkau
belajar keluar pondok agar kau dapat pengalaman dan bisa menggantikan
ku
mengurus para santri.”
“ Si Anak : ( Dengan berat ia menjawab ). Baiklah ayah,
kalau demikian keinginanmu. Aku akan melaksanakannya. Semoga Allah
mencurahkan rahmat NYA kepadaku.
“ Kiyai : Pergilah nak, akan aku doa kan selalu apa yang
engkau emban ini menjadi rido Allah untuk mu nak.”
“ Si Anak : Besok pagi, aku akan berangkat ke pondok
sebarang pulau ayah ( jawab nya dengan nada sendu )”
“ Kiyai : Bawalah bekal dan uang yang ada dalam kantong
ini, bacalah Basmallah dan ribuan sayap malaikat akan memayungi mu.”
“ Si Anak : Amin.”
“ Kiyai : Tidurlah, biar nanti aku persiap kan bekalmu.
Berpamitlah dulu pada ibu mu jangan lupa minta doanya.”
“ Si Anak : Aku akan persiapkan sendiri, biarlah ayah
berbaring dan jangan berkata seperti tadi lagi.”
“ Kiyai : Baiklah nak, Assalamualaikum.”
Keesokan harinya ia pun berangkat setelah berpamitan kepada
kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan ia terus berfikir dan berdoa, sambil
berkeluh kepada Allah.
“
Si Anak : Uuuuuhh,, Ya Allah mudah-mudahan aku mendapatkan
ilmu yang bermanfaat, dengan segala keterbatasan ku ini. Ya Allah
,Sembuhkanlah ayah ku, lindungilah ibu ku dan panjang kan lah umur
mereka dan ampunilah
segala dosanya.”
Ditengah perjalanan yang ia jalani, sebentar dia
beristirahat di sebuah gubug kecil, bisa di sebut tajug atau mushola. Sambil
melepaskan penat dan lelah, ia pun berbaring sejenak di tempat itu. Tiba-tiba
ia mendengar seperti seorang kakek tua yang sedang beribadah.
” Si Anak : Astagfirulloh al’adhim, untung ada yang shalat,
kalau tidak aku akan tenggelam dalam kelelahanku.”
Singkat cerita, setelah mereka mengerjakan beribadah, mereka
pun akhirnya berbincang-bincang seputar kehidupannya.
“ Si Anak : Wahai kakek, sungguh saat ini aku ingin
berkeluh-kesah terhadap diriku ini.”
“ Si Kakek : Apa yang sebenarnya mengganggu fikiran mu
itu?.”
“ Si Anak : Sesungguhnya, aku srdang berkelana mencari ilmu
agar dapat berbakti dan meneruskan perjuangan ayahku.”
“ Si Kakek : Sungguh mulia apa yang engkau lakukan itu.”
“ Si Anak : Ya, begitulah seharusnya seorang anak, dan sebagai hamba yang beriman.”
“ Si Kakek : Kalau begitu kebetulan, cobalah kau mengaji
bersama anak-anak ku.”
“ Si Anak : Dimana tempat nya kek?”
“Si kakek : Ikuti saja aku nanti juga tahu. ( Kata Si
Kakek sambil melangkahkan kaki ).”
“ Si Kakek : Pegang saja pundakku dan pejamkan matamu,
dan jangan pula kau menengok kiri kanan
mu."
“ Si Anak : Baik kek. ( Ia menjawab dengan rasa penasaran
).”
Si anak merenung sambil bertanya-tanya, tentang alasan
mengapa harus seperti itu. Sepanjang perjalanan ia terus penasaran dan mulai
bertanya meskipun dengan mata tertutup.
” Si Anak : Kek, kenapa aku harus menutup mata dan tak boleh
menengok?.”
“ Si Kakek : Sudahlah jangan banyak bertanya dulu, nanti
juga tahu sendiri.”
“ Si Anak : Baiklah kalo seperti itu. ( sambil bertanya dan
gemetar )
Kemudian, beberapa saat kemudian tibalah mereka di sebuah
gerbang besar dari sebuah padepokan. Dan ternyata didalam nya ada banyak orang
yang bercadar wanitanya, dan berjubah para lelakinya. Dengan aneh nya si anak
tersebut memandang ke arah sekitar.
“ Si Anak : Sebenarnya kakek ini siapa ?”
“ Si Kakek : Masuklah dulu, nanti juga tahu. Nah besok subuh
hari, kau mulailah belajar bersama yang lain.”
“ Si Anak : Baiklah kek ( sambil dipenuhi rasa penasaran
)”
Subuhpun tiba, terlihatlah barisan para santri yang sudah
rapih bersila dengan membawa kitab kuning dan Al Qur’an. Ia pun duduk di salah
satu barisan para santri yang bersila di tengah. Karena rasa penasaran ia pun
bertanya pada teman disampingnya yang perawakan nya gagah, tampan dan harum.
“ Si Anak : Apa saya boleh bertanya kawan?”
“ Si Teman : Iya, apa ada yang bisa saya bantu mas?”
“ Si Anak : kok belum pada mengaji?”
“ Si Teman : Belum mas, kita lagi sorogan aja dulu dalam
hati dan mengingat pelajaran yang lalu, sebelum ajengan datang ( Ujar nya ).”
“ Si Anak : Memangnya siapa Kiyainya?, dan dimana beliau?”
“ Si Teman : Orang yang bersama mas lah yang kami tunggu, ia
lah ajengan di pesantren ini.”
“ Si Anak : Massya Allah, ternyata beliau itu Kiyainya? ( Sambil terpelanga ).
“ Si Teman : Benar mas, itu dia baru naik ke atas mimbar.”
Setelah
mengetahui bahwa si kakek tersebut adalah Kiyai
yang memimpin pesantren tersebut, ia selalu terkagum-kagum dan senang
hati
karena telah bertemu dengan Si kakek. Singkat cerita, ia pun mengaji
berbagai
ilmu pengetahuan tentang Islam dan juga mentadabbur Al Qur’an dengan
teliti
dengan cara mengkaji Al Quran dengan rujukan hadist dan ketelitian dari
kitab
kuning para ulama. Hari demi hari ia habiskan waktu dengan mengaji dan
berkumpul bersama santri lain belajar tentang makna kehidupan. Tak
terasa sudah tiga bulan ia berada di pesantren. Tiba-tiba, pada
malam hari sang Kiyai menyuruhnya menghadap.
Tanpa ragu ia pun menghadap dengan rasa penasaran. Kemudian
ia bertanya.
“ Si Anak : Ada apa gerangan Kiyai memanggil saya? ( Jawabnya dengan merendah ).”
“ Si Kakek : Selama ini kau telah banyak mengaji denganku,
dan tentunya sudah banyak yang kau dapat bukan?.”
“ Si Anak : Tentu Kiyai, tapi saya rasa belumlah cukup
pemahaman saya.”
“ Si Kakek : Aku dengar ayah mu sakit parah sekarang. Dan dia
merindukanmu, Alangkah baik nya jika kau sekarang kembali, janganlah engkau
banyak bertanya kurasa sudah cukup kau menimba ilmu disini.”
“ Si Anak : Baiklah Kiyai, saya akan kembali ( Meskipun dengan
rasa tak puas karena masih ingin belajar ).
“ Si Kakek : Bukalah mulut mu jangan banyak tanya!.”
Ia pun membuka mulutnya, dan ia kaget ketika ia di sembur
dengan ludahnya sang Kiyai sebanyak tiga kali.
“ Si Kakek : Cuah, cuah, cuah.”
Meskipun dengan rasa jijik dan aneh ia terdiam sambil
menganga. Lalu kemudian, Kiyai itu menyuruh menelannya. “Lancarlah apa
yang ingin kau ucap”. Seru sang Kiyai.
“ Si Kakek : Nah, sekarang akan aku antar ke tempat semula
kita bertemu. Dan masih dengan syarat yang sama.”
Merekapun akhir nya kembali ke tempat semuka mereka bertemu
pertama. Dan seusainya tiba di tempat tersebut sang Kiyai itu bermandat
kepadanya.
“ Si Kakek : Nah, sekarang kau sudah sampai. Gunakanlah
ilmu dan sampaikanlah dengan bijak dan janganlah engkau menghina ulama.”
“ Si Anak : Baiklah kek.”
Sekejap mata memandang tiba-tiba kakek itu pun hilang
bagaikan asap tertiup angin kencang.
“ Si Anak : Apa yang sebenarnya terjadi?, ia bergumam dalam
hatinya.
Terus ia berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi
ia belumlah dapat menemukan jawabannya. Akhirnya, setelah sepanjang hari ia
berjalan, sampailah ia di rumahnya.
“ Si Anak : Assalamualaikum.”
Dengan rasa haru ia memberi salam setelah menahan rasa rindu
yang cukup lama.
“ Orang rumah : Waalaikumussalam.”
Mereka terperanga sambil bercucuran airmata, dan segera
memeluk si anak sambil melepas rindu dan haru;
“ Ibu : Dari mana saja kau tak memberi kabar selama ini
nak?, ( sambil terus berlinang air mata ).
“ Si Anak : Kenapa ibu menangis?, aku hanya beberapa bulan
saja merantau, tak lama juga aku di sana,”
“ Ibu : Tak lama bagaimana kau ini?, sudah 3 tahun kau tak
pulang dan tak ada kabar. Kenapa kau ini tega pada ibu mu!.”
Si Anak : Apa?”
Sambil teraneh aneh ia bertanya. Dan kemudian datanglah
ayahnya yang sudah semakin parah sakitnya.
“ Si Ayah : Anak ku dari mana saja kau nak? Aku hanya
menyuruhmu menimba ilmu, bukannya meninggalkan kami tanpa kabar.”
“ Si Anak : Sudahlah ayah dan ibu janganlah menangis, toh
aku kan sudah ada disini.”
Kemudian mereka menghabiskan waktu bercakap cakap dan
melepas rindu.
Keesokan
harinya, Si ayah ternyata ada jadwal pengajian dengan para santri. Akan
tetapi, dengan keadaannya sekarang ia tak mampu untuk melaksanakannya.
Lalu tiba-tiba si anak menyodorkan diri kepada ayahnya, agar dia yang
menggantikan beliau mengaji.
" Si Anak : Ayah tenang saja, dan duduk lah sambil bersantai agar keadaannya lebih baik."
Alangkah terkejutnya si ayah dengan rasa tak percaya.
" Si Ayah : Yang benar saja kau nak?, jangan bergurau kau!."
Sambil
menenteng kitab Johar Maknun, yang notaben kitabnya mememrlukan
pemahaman yang tinggi dan cakap, ia melangkah dengan tenang ke atas
mimbar. Dan mulai, menyampaikan apa yang ayahnya ingin sampai kan sesuai
dengan bab yang selanjutnya akan dibahas. Alangkah terkejutnya semua
Mustami mendengar tausiah yang dibawakannya begitu cakap, layaknya ulama
yang sudah berilmu tinggi. Dalam hati mereka terbesit rasa penasaran
yang amat dalam, bagaimana bisa ia yang baru tiga tahun sudah bisa
seperti itu. Padahal untuk mencapai pemahaman demikian perlulah waktu
yang lama, bahkan mencapai berpuluh tahun untuk menguasainya.
Akhhir
dari kisah ini ditutup dengan akhir yang bahagia dan mengejutkan
tentunya. Ia pun meneruskan jihad ayah nya yang kini telah tua renta dan
sakit. dari sini kita bissa mengambil kesimpulan untuk tidak pernah
menyerah dan putus asa, serta tetap beriman dan berbakti kepada Allah
dan orang tua.
Semoga bermanfaat dalam menambah semangat beribadah kawan-kawan.
Kalo ada artikel lagi harap di pantau terus ya.
Semoga bermanfaat dalam menambah semangat beribadah kawan-kawan.
Kalo ada artikel lagi harap di pantau terus ya.

No comments:
Post a Comment