Friday, December 29, 2017

Panggilan Sayyidina Bagi Rasulullah



Bantahan Bidah Menyebut Nama Nabi dengan Awalan Maulana dan Sayyidina

Sebagian oknum membid’ahkan panggilan Maulana atau sayyidina didepan nama Nabi, dengan alasan bahwa Nabi sendiri menganjurkan agar kita tidak mengagungkan dimuka nama beliau. Memang kelompok ini mudah sekali membid’ahkan sesuatu amalan, tanpa melihat motif makna yang dimaksud bid’ah itu apa. Bahkan, mereka hanya berbekal pengertian secara lafad saja yang mana secara makna dan standar kebahasaan arab salah dan tak lengkap.
Dewasa ini, ramai oknum yang menyembunyikan ilmu hadis dengan hanya membuat kesimpulan dengan satu hadis yang dianggap menguntungkannya secara pribadi. Karena terlihat sebagaimana ia menerangkan satu hadis, tanpa melihat hadis lain yang berkaitan, dan menjadikannya bahan rujukan dengan sangat tidak bijak. Sehingga, banyak orang yang menganggap benar tapi sebenarnya mereka telah dibohongi dengan ilmu yang tak mereka ketahui.
Anda lihat langsung dan tela’ahi secara benar kebohongan mereka. Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam risalahnya yang berjudul Dalailul Mahabbah wa Ta’dimul Maqom fii Sholati wassalam An Sayyidil Annam. Dengan tegas mengatakan : menyebut nama Rasul saw dengan tambahan Sayyidina(Jungjunan) didepannya, merupakan suatu keharusan bagi muslim yang mencintai beliau. Sebab, kata tersebut menunjukan kemuliaan martabat dan derajat beliau, serta penghormatan kita atas nikmat Allah yang diturunkan melalui kehadiran beliau di dunia. Maka dalam muqodimah setiap pertemuan baik selalu diawali dengan menyebut nama Allah, puji syukur, kemudian shalawat dan doa, dengan urutan yang sudah pasti.
Bahkan ulama, melarang kita menyebut beliau dengan nama langsung atau dengan memanggil layaknya kita memanggil orang lain seperti biasanya. Larangan itu, tidak berarti lain kecuali untuk menjaga kehormatan dan lemuliaan rasul saw. Maka anda harus juga tahu, ada ayat Allah yang menyebutkan demikian juga.
Janganlah kalian menyebut rasul (Muhammad), seperti kalian memanggil sesama orang diantara kalian (Qs An Nur:63)”.
Coba anda lihat sendiri, makna tafsir nya adalah jangan lah kalian menyebut nama rasulullah dengan hanya nama nya saja, seperti “Hai Muhammad” atau dengan nama julukan nya saja “Hai Aba Qasim”. Tapi, hendaklah kita menyebutnya penuh dengan rasa hormat dengan menyebut  kemuliaannya.
Jadi, tidak pantas bagi kita menyebut nama beliau tanpa menunjukan rasa hormat layaknya kaum kafir dan hasad. Karena, hal demikian merupakan ketidak adaban kita terhadap Kekasih Allah dan Jungjunan kita, jelas firman Allah saja menyerukan demikian, kenapa kita dilarang dengan mengatasnamakan sunnah yang bahkan mereka sembunyikan sebagian kebenarannya dengan amat rapi untuk membuat kita sesat?.
Menurut Ibnu Jarir , dalam menafsirkan ayat tersebut Qatadah menyebutkan, dengan ayat itu (An Nur:63), Allah melarang kita melakukan ketidaksopanan terhadap Nabi. Dengan kata lain, memerintah kita untuk mengagungkan Nabi sebagaimana kedudukannya di hadapan Allah, ummat dan agama.
Al Iklil fii istinbhatit Tanzil Imam As Suyuti menyatakan dengan turunnya ayat tersebut, Allah melarang kita memanggil beliau dengan namanya saja, tapi harus menyebut beliau dengan Ya Rasulullah atau Ya Nabi Allah (dengan rasa hormat). Dan kenyataannya, hal tersebut berlaku sampai sekarang setelah beliau wafat sekalipun. Nah, lalu bagaimana dengan kita yang sebatas ummat akhir jaman. Masihkah kita tak merasa hormat pada beliau?, sementara Seruan Allah dan Riwayat Para Imam Besar, menyatakan larangan terhadap ketidak sopanan seperti yang sering dilakukan oknum yang mengaku sunnah itu.
Dalam kitab Fathul Bari syarh Shohihil Bukhori juga menegaskan demikian. Dengan menyebutkan riwayat Ibnu Abbas ra yang diriwayatkan Ad dhahhak, bahwa sebelum ayat itu turun, kaum muslimin menyebut Nabi saw dengan panggilan hai Muhammad, hai Ahmad, hai Abu Qasim dan sebagainya. Dengan turunnya ayat tersebut, maka mereka mengganti panggilannya dengan Ya Rasulullah dan Ya Nabiyallah. Hampir semua ulama Islam dan ulama fiqih berbagai madhab berpendapat sama, agar tidak boleh memanggil Nabi dengan sebutan sebagaimana sebelum diturunkannya ayat tersebut(memanggil nama tanpa hormat). Agar ada batas kesopanan antara ummat kepada Jungjunan. Supaya tidak hadir hati yang tidak sopan dan merasa dekat dengan nabi, padahal mereka hanya membuat diri mereka menjadi sombong.
Dalam QS Al araf 159, Al Fath 8-9, Al Insyiraah 4 dan lainnya. Allah memuji akan(puji qadim a'lal hadis)kaum muslimin yang bersikap hormat dan memuliakan Rasulullah saw, bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang yang beruntung. Nah, apa kita sekarang termasuk orang yang beruntung yang punya rasa hormat?, atau malah menjadi orang celaka yang tak hormat  karena merasa diri dekat dengan Rasul?.
Dalam Aali Imran 39,  Allah menyebut Nabi Yahya as dengan predikat sayyid: “ Allah memberikan kabar gembira kepadamu (Hai Zakariya) akan kelahiran seorang putramu, Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang dari) Allah, seorang sayyid (terkemuka, panutan), (sanggup) menahan diri (dari hawa nafsu) dan nabi dari keturanan orang-orang shaleh”.
Jika kata Sayyid dapat digunakan untuk menyebut Nabi Yahya, kemudian para pemimpin, dan lainnya, apalagi untuk Nabi Muhammad saw sebagai Jungjunan kita. Nah, apakah sekarang anda sudah ada pencerahan tentang bagaimana kaum munafik seperti mereka menyembunyikan kebenaran ilmu? yang bahkan berasal dari Al Qur'an, yang dikatakan menjadi landasan mereka dalam hal perilaku dan sunnah?  Silahkan anda tentukan sendiri, dan cari kebenarannya.
Bahkan salah satu dari pelopor kaum mereka yang bersekolah di madinah mendapat cap pemfitnah dari ulama madinah sendiri yang dengan jelas menyebutkan namanya dalam sebuah berita acara menanggapi isu wahabi yang sedang melanda Indonesia. Sungguh hanya racun lah yang mereka sampaikan dengan mengatas namakan sunnah, dengan tidak menyampaikan sebagian bukti yang menjadi landasan asas para kaum muslimin yang lainnya. Dengan sebuah tujuan pembodohan dan pencucian otak, agar kita merasa benar dengan kekeliruan yang ada, tanpa memandang peranan ulama yang sesungguhnya.
Nah disini, wajiblah bagi seorang yang mengetahui kebenaran, agar mencegahnya merusak Islam dengan cara mengadu domba orang awam. Bahkan pada kenyataan nya, bukanlah ulama yang tak mau diajak bermusyawarah. Padahal mereka selalu menantang “menunjukan dalilnya mana”. Tapi, ketika mereka didatangi para ulama mereka justru malah kocar kacir, dan bahkan tak dapat membela pernyataan mereka sendiri, dan bahkan menyebut bahwa itu salah faham. Inikah kah ahlak ahlu sunnah?, bahkan pernyataan mereka jelas tak bersandarkan pada rujukan ilmu
yang di pakai ulama Islam di dunia sebagai standar yang harus di lalui dalam bertabayyun ilmu hak. Jelaslah, mereka hanya mengutamakan hawa nafsu dan mempunyai misi tertentu yang tak dapat orang awam ketahui. karena itu sudah masuk ranah politik yang ingin menjatuhkan. Yang mana sudah maklum dan sudah diketahui oleh para ulama dan kalangan santri yang menjadi tameng agama Islam dalam menjaga Persatuan Islam dari jangkauan setan dalam bentuk fitnah dan lainnya.
Nah, semoga bermanfaat dan hendaklah berhati-hati, agar fikiran dan hati serta tingkah kita di ridhoi Allah swt. Dan dijauhkan dari fikiran setan yang menyamakan Allah dengan sesuatu hal apapun (Mujassimah) yang membuat kita berfikiran bahwa wujud Sang Pencipta memiliki kesamaan dengan wujud mahlukNya, yang sama sekali tak dapat di terima akal dan hati seorang beriman. Demikian lah sedikit informasi yang semoga bermanfaat.
Silahkan baca artikel lainnya, untuk menambah wawasan umum anda dalam dunia islam. nah ini ada sedikit video untuk pencerahan anda.

Wassalamua’laikum



 
 https://youtu.be/DNcPtrZ0wOs
 http://www.youtube.com/timedtext_cs_panel?tab=2&c=UC8G4K__pTj20BX1kzc37xfQ

No comments:

Post a Comment

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat Perlunya ada pelurusan tentang tawassul, karena banyaknya saudara kita yang ...