Bantahan
Bidah Menyebut Nama Nabi dengan Awalan Maulana dan Sayyidina
Sebagian oknum membid’ahkan
panggilan Maulana atau sayyidina didepan nama Nabi, dengan alasan bahwa Nabi
sendiri menganjurkan agar kita tidak mengagungkan dimuka nama beliau. Memang kelompok
ini mudah sekali membid’ahkan sesuatu amalan, tanpa melihat motif makna yang
dimaksud bid’ah itu apa. Bahkan, mereka hanya berbekal pengertian secara lafad
saja yang mana secara makna dan standar kebahasaan arab salah dan tak lengkap.
Dewasa ini, ramai
oknum yang menyembunyikan ilmu hadis dengan hanya membuat kesimpulan dengan satu
hadis yang dianggap menguntungkannya secara pribadi. Karena terlihat sebagaimana
ia menerangkan satu hadis, tanpa melihat hadis lain yang berkaitan, dan
menjadikannya bahan rujukan dengan sangat tidak bijak. Sehingga, banyak orang
yang menganggap benar tapi sebenarnya mereka telah dibohongi dengan ilmu yang
tak mereka ketahui.
Anda lihat langsung dan
tela’ahi secara benar kebohongan mereka. Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam
risalahnya yang berjudul Dalailul Mahabbah wa Ta’dimul Maqom fii Sholati
wassalam An Sayyidil Annam. Dengan tegas mengatakan : menyebut nama Rasul saw
dengan tambahan Sayyidina(Jungjunan) didepannya, merupakan suatu keharusan bagi muslim yang mencintai beliau.
Sebab, kata tersebut menunjukan kemuliaan martabat dan derajat beliau, serta
penghormatan kita atas nikmat Allah yang diturunkan melalui kehadiran beliau di
dunia. Maka dalam muqodimah setiap pertemuan baik selalu diawali dengan
menyebut nama Allah, puji syukur, kemudian shalawat dan doa, dengan urutan yang
sudah pasti.
Bahkan ulama, melarang
kita menyebut beliau dengan nama langsung atau dengan memanggil layaknya kita
memanggil orang lain seperti biasanya. Larangan itu, tidak berarti lain kecuali
untuk menjaga kehormatan dan lemuliaan rasul saw. Maka anda harus juga tahu,
ada ayat Allah yang menyebutkan demikian juga.
“Janganlah kalian menyebut rasul (Muhammad), seperti kalian
memanggil sesama orang diantara
kalian (Qs An Nur:63)”.
Coba anda lihat
sendiri, makna tafsir nya adalah jangan lah kalian menyebut nama rasulullah
dengan hanya nama nya saja, seperti “Hai
Muhammad” atau dengan nama julukan nya saja “Hai Aba Qasim”. Tapi, hendaklah kita menyebutnya penuh dengan rasa
hormat dengan menyebut kemuliaannya.
Jadi, tidak pantas bagi
kita menyebut nama beliau tanpa menunjukan rasa hormat layaknya kaum kafir dan
hasad. Karena, hal demikian merupakan ketidak adaban kita terhadap Kekasih Allah dan Jungjunan kita, jelas
firman Allah saja menyerukan demikian, kenapa kita dilarang dengan
mengatasnamakan sunnah yang bahkan mereka sembunyikan sebagian kebenarannya
dengan amat rapi untuk membuat kita sesat?.
Menurut
Ibnu Jarir , dalam menafsirkan ayat tersebut Qatadah menyebutkan, dengan ayat itu (An Nur:63), Allah melarang kita
melakukan ketidaksopanan terhadap Nabi. Dengan kata lain, memerintah kita untuk
mengagungkan Nabi sebagaimana kedudukannya di hadapan Allah, ummat dan agama.
Al
Iklil fii istinbhatit Tanzil Imam As Suyuti menyatakan
dengan turunnya ayat tersebut, Allah melarang kita memanggil beliau dengan
namanya saja, tapi harus menyebut beliau dengan Ya Rasulullah atau Ya Nabi
Allah (dengan rasa hormat). Dan kenyataannya, hal tersebut berlaku sampai
sekarang setelah beliau wafat sekalipun. Nah, lalu bagaimana dengan kita yang
sebatas ummat akhir jaman. Masihkah kita tak merasa hormat pada beliau?,
sementara Seruan Allah dan Riwayat Para Imam Besar, menyatakan
larangan terhadap ketidak sopanan seperti yang sering dilakukan oknum yang
mengaku sunnah itu.
Dalam kitab Fathul Bari syarh Shohihil Bukhori juga
menegaskan demikian. Dengan menyebutkan riwayat Ibnu Abbas ra yang diriwayatkan Ad dhahhak, bahwa sebelum ayat itu turun, kaum muslimin menyebut Nabi saw dengan panggilan hai Muhammad,
hai Ahmad, hai Abu Qasim dan
sebagainya. Dengan turunnya ayat tersebut, maka mereka mengganti panggilannya
dengan Ya Rasulullah dan Ya Nabiyallah.
Hampir semua ulama Islam dan ulama fiqih berbagai madhab berpendapat sama, agar
tidak boleh memanggil Nabi dengan sebutan sebagaimana sebelum diturunkannya
ayat tersebut(memanggil nama tanpa hormat). Agar ada batas kesopanan antara ummat kepada Jungjunan. Supaya
tidak hadir hati yang tidak sopan dan merasa dekat dengan nabi, padahal mereka
hanya membuat diri mereka menjadi sombong.
Dalam QS Al araf 159, Al Fath 8-9, Al Insyiraah 4
dan lainnya. Allah memuji akan(puji qadim a'lal hadis)kaum muslimin yang bersikap
hormat dan memuliakan Rasulullah saw, bahkan menyebut mereka sebagai
orang-orang yang beruntung. Nah, apa kita sekarang termasuk orang yang
beruntung yang punya rasa hormat?, atau malah menjadi orang celaka yang tak
hormat karena merasa diri dekat dengan Rasul?.
Dalam Aali Imran 39, Allah menyebut Nabi Yahya as dengan predikat
sayyid: “ Allah memberikan kabar
gembira kepadamu (Hai Zakariya) akan kelahiran seorang putramu, Yahya, yang
membenarkan kalimat (yang datang dari) Allah, seorang sayyid (terkemuka, panutan), (sanggup) menahan diri (dari hawa
nafsu) dan nabi dari keturanan
orang-orang shaleh”.
Jika kata Sayyid dapat
digunakan untuk menyebut Nabi Yahya, kemudian para pemimpin, dan lainnya,
apalagi untuk Nabi Muhammad saw sebagai Jungjunan kita. Nah, apakah sekarang
anda sudah ada pencerahan tentang bagaimana kaum munafik seperti mereka
menyembunyikan kebenaran ilmu? yang bahkan berasal dari Al Qur'an, yang dikatakan
menjadi landasan mereka dalam hal perilaku dan sunnah? Silahkan anda tentukan sendiri, dan cari
kebenarannya.
Bahkan salah satu dari
pelopor kaum mereka yang bersekolah di madinah mendapat cap pemfitnah dari
ulama madinah sendiri yang dengan jelas menyebutkan namanya dalam sebuah berita
acara menanggapi isu wahabi yang sedang melanda Indonesia. Sungguh hanya racun
lah yang mereka sampaikan dengan mengatas namakan sunnah, dengan tidak
menyampaikan sebagian bukti yang menjadi landasan asas para kaum muslimin yang
lainnya. Dengan sebuah tujuan pembodohan dan pencucian otak, agar kita merasa
benar dengan kekeliruan yang ada, tanpa memandang peranan ulama yang
sesungguhnya.
Nah disini, wajiblah
bagi seorang yang mengetahui kebenaran, agar mencegahnya merusak Islam dengan
cara mengadu domba orang awam. Bahkan pada kenyataan nya, bukanlah ulama yang
tak mau diajak bermusyawarah. Padahal mereka selalu menantang “menunjukan dalilnya
mana”. Tapi, ketika mereka didatangi para ulama mereka justru malah kocar
kacir, dan bahkan tak dapat membela pernyataan mereka sendiri, dan bahkan
menyebut bahwa itu salah faham. Inikah kah ahlak ahlu sunnah?, bahkan
pernyataan mereka jelas tak bersandarkan pada rujukan ilmu


