Sejarah Abad Pra Islam
Melanjutkan artikel sebelumnya, kali ini kita
akan berselancar ke masa lampau, dimana Islam mengarungi lautan cobaan dari
mula masa awal sampai mempunyai kekuasaan meliputi berbagai negara, hingga
perpecahan menjadi kedinastian akibat dari perkembangan politik.
Petra,
kota yang dibangun di jazirah arab sebelum kemunculan Islam.
Prasasti Kaum saba
Kaum saba’ adalah masyarakat kuno
yang menghuni daerah barat daya Arab, sebelum kemunculan Islam. Sepertinya, sejak
lampau telah ada orang yang bertempat tinggal
di Jazirah Arab, kemungkinan melalui jalur Sinai dari Mesir. Tidak banyak diketahui mengenai orang-orang ini,
karena tidak banyak kegiatan Arkeologi yang dilakukan di Jazirah Arab modern,
yang kini menjadi negara Arab Saudi, Yaman, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Kemungkinan orang-orang ini memiliki peradaban awal yang cukup berkembang.
Bagian Barat
daya di Jazirah Arab memperoleh lebih banyak curah hujan daripada bagian Utara
dan Timur, sehingga di daerah ini lebih banyak orang yang bercocok tanam.
Meskipun demikian, tetap saja di daerah ini tidak terdapat terlalu banyak air,
sehingga orang membangun bendungan besar untuk menyimpan air untuk irigasi. Mereka
juga membangun istana-istana besar, meskipun tidak banyak yang bertahan pada
masa kini. Ratu Bilqis, yang dalam Al Quran disebutkan pernah mengunjungi Nabi
Sulaiman, kemungkinan adalah penguasa kerajaan daerah ini dan hidup sekitar
tahun 900 SM.
Karena
kurangnya air, di daerah Utara dan Timur sebagian besar orang tidak bertani
ataupun beternak. Mereka menjadi pengembala, dan mengembalakan domba di Jazirah
Arab, dan berkelana dari padang rumput yang satu ke padang padang rumput
lainnya bersama domba-domba mereka. Banyak dari gembala ini ikut terlibat pula
dalam perdagangan. Orang Asia Barat melakukan kegiatan jual-beli dengan orang
India. Beberapa pedagang menggunakan jalur laut dari India mengelilingi Jazirah
Arab menuju Laut Merah, beberapa lainnya melalui darat dan menjelajahi Jazirah
Arab dengan kafilah yang ditarik kuda, keledai, atau unta.
Nabi Muhammad
lahir pada tahun 570 M di kota dagang Mekah,
Semenanjung Arabia. Orang tua beliau adalah keluarga pedagang, bukan termasuk
keluarga penguasa Mekah, tapi juga bukan keluarga yang miskin. Akan tetapi, Nabi
Muhammad sendiri tumbuh dalam keadaan miskin, karena kedua orang tuanya telah
meninggal ketika beliau masih berusia muda. Beliau diasuh oleh kakeknya, dan
beliau tumbuh menjadi seorang pedagang.
Setelah dewasa,
beliau menikahi seorang janda bernama Khadijah, yang suami pertamanya merupakan
seorang pedagang. Mereka menikah pada saat Nabi Muhammad berusia 25 tahun. Saat
itu Khadijah telah berusia mendekati umur 40 tahun (menurut sebagian ulama).
Ketika berusia
40 tahun, Nabi Muhammad mengutarakan bahwa beliau didatangi oleh Malaikat
Jibril, yang memberitahukan nya bahwa hanya ada satu Tuhan, dan bahwa menyembah
berhala adalah perbuatan batil dan salah. Nabi Muhammad juga menyebutkan bahwa Malaikat
Jibril mewahyukan nya ayat-ayat suci Al Qur’an.
Pada awalnya,
orang Mekah merasa bahwa dakwah beliau tidak berpengaruh apapun. Namun, seiring
waktu berjalan, dukungan kepada Nabi Muhamamad pun semakin besar terutama dari kaum
bawah (rakyat). Akhirnya, Nabi Muhamamad mulai secara terang-terangan menyeru
orang Mekah untuk berhenti menyembah berhala, setelah melalui dakwah dari pintu
ke pintu orang terdekat beliau.
Akhirnya
bergejolaklah kemarahan orang Quraisy dan menganiaya serta mencoba membunuh
Nabi Muhammad dan menyiksanya, dan bahkan membunuh para pengikutnya kaum Muslimin.
Tidak tahan dengan tekanan orang Quraisy, sejumlah orang Muslim menyelamatkan
diri ke Ethiopia. Nabi Muhamamad sendiri pergi ke kota Madinah di dekat Mekah,
sebuah kota pertanian yang dihuni oleh beragam suku Arab bersama dengan banyak orang
Yahudi dan Kristen yang berpengaruh. Perjalanan Nabi Muhammad ke Madinah
dilakukan pada tahun 622 M (berhijrah), tahun tersebut menjadi tahun awal penetapan
waktu dalam kalender Islam (Hijriah).
Gua Khira
(tempat pertama kali Nabi Muhammad menerima wahyu)
Meskipun gagal
meyakinkan orang Yahudi untuk memeluk Islam, namun disanalah beliau mulai
memiliki banyak pengikut. Pada tahun 630 M, beliau memimpin kaum Muslim
menaklukan Mekah. Setelah itu, memperoleh kemenangan lainnya melawan suku-suku
Arab. Pada akhirnya banyak suku Arab yang mempercayai Nabi Muhammad dan
mengikuti ajarannya. Nabi Muhammad meninggal pada tahun 8 Juni 632 M pada usia
63 tahun.
Setelah kepulangan
beliau (Nabi Muhammad) pada tahun 632 M, kepemimpinan Islam dan suku-suku Arab
yang baru saja dipersatukan, dilanjutkan oleh mertuanya (dari istri keduanya)
Abu Bakar ra. Abu Bakar menjadi khalifah selama dua tahun dan beliau berhasil mempersatukan seluruh Jazirah Arab
dalam naungan Islam.
Terjadi
pemberontakan oleh suku-suku Arab setelah sepeninggalan Nabi Muhammad, yang
disebut Perang Riddah. Dengan meninggalnya beliau saw, banyak suku yang merasa
bahwa tak ada lagi alasan bagi mereka untuk bersatu dan mereka ingin merdeka
sendiri. Kemudian Abu Bakar mengerahkan pasukannya dan berhasil memenangkan
konflik ini, membawa kembali suku-suku Arab tersebut ke dalam Kehalifahan
Islam.
Abu Bakar mewariskan
kekhalifahan kepada Umar bin Khattab pada tahun 634 M. Tidak lama setelah
menjadi khalifah, Umar ra melancarkan
serangan ke Kekaisaran Romawi Bizantium dan Persia Sassania. Serangannya kala
itu banyak yang berhasil. Orang Arab, yang telah banyak bertempur demi Romawi
dan Sassania, mengetahui bahwa kedua kekaisaran itu tak lagi memiliki pasukan
yang tangguh akibat konflik antara keduanya yang telah berlangsung selama
ratusan tahun. Sayyidina Umar ra terbunuh pada tahun 644 M dan digantikan oleh Khalifah
Utsman bin Affan.
Terdorong oleh
kemenangan-kemenangan awalnya, Utsman dan pasukannya menyiapkan kampanye penuh
dan pada tahun 651 M, mereka berhasil merebut sebagian besar Asia Barat, mulai
dari pesisir Laut Tengah hingga Iran Timur.
Wilayah
terluas Kekhalifahan Rasyidin
Khalifah Utsman
wafat pada tahun 656 M dan digantikan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Di
bawah kepemimpinan Khalifah Ali, pasukan Arab menyerbu Mesir dan Afrika Utara.
Meskipun beliau Khalifah Ali runtuh dan wafat pada tahun 661 M, pasukan nya
terus melanjutkan serangan dan berhasil menyeberangi Selat Gibraltar untuk
kemudian menyerang Spanyol pada tahun 710 M. Keempat orang khalifah tersebut
dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin dan pemerintahan Islam pada masa mereka
disebut Kekhalifahan Rasyidin.
Kairouan adalah
kota yang oleh banyak Muslim dianggap sebagai kota Islam tersuci keempat, didirikan
pada akhir tahun 600 M. Ketika orang Arab memasuki Afrika Utara, mereka
membangun banyak benteng kecil untuk berjaga-jaga dari serangan musuh, terutama
di sepanjang pesisir. Benteng-benteng ini disebut Ribats. Banyak peninggalan dari
benteng itu masih ada hingga saat ini.
Dinasti Umayyah
Setelah
wafatnya Khalifah Ali, mulai muncul perseturuan keagamaan dan politik antara
pengikut golongan Islam konservatif yang
disebut Sunni, dengan pengikut Ali yang lebih radikal yang disebut Syi'ah.
Golongan Sunni menang dan mendirikan Kekhalifahan Umayyah, yang beribukota di
Damaskus, Suriah.
Wilayah
terluas Dinasti Umayyah
Di Yerusalem,
Umayyah membangun Kubah Shakhrah (Masjid Kubah Batu), salah satu masjid besar
pertama. Mereka, mulai membangunnya pada tahun 687 M dan menyelesaikannya pada
tahun 691 M.
Kubah Shakhrah
Gerakan Dinasti
Umayyah pada akhirnya harus terhenti di beberapa tempat. Di Barat, pasukan
Romawi berhasil menghalau serangan pasukan Muslim terhadap Konstantinopel pada
tahun 674-678 M dan kemudian pada tahun 717 M. Raja bangsa Frank, Charles
Martel, kakek Charlemagne, memukul mundur serangkaian serbuan pasukan Muslim di
Prancis pada tahun 732 M. Di Timur, Kekhalifahan Islam berhadapan dengan
Tiongkok Dinasti Tang, yang juga sedang meluaskan wilayahnya. Meskipun pasukan
Arab memenangkan pertempuran besar melawan Tiongkok pada tahun 751 M di dekat
Samarkand di Asia Tengah, perbatasan antara kedua negara ini tidak mengalami
banyak perubahan.
Dinasti Abbasiyyah
Pada tahun 750 M
Kekhalifahan Umayyah digantikan oleh Kekhalifahan Abbasiyah, yang membunuh
semua anggota dinasti Umayyah, kecuali satu orang. Abbasiyah kurang tertarik
pada pesisir Laut Tengah dibandingkan Umayyah, dan mereka lebih berfokus pada
dataran Irak dan Iran, dan tidak terlalu memperhatikan daerah pesisir seperti
Israel, Suriah, Lebanon, dan Mesir. Pada tahun 762 M, Abbasiyah memindahkan
ibukota dari Damaskus di Suriah ke Baghdad di Irak.
Baghdad dengan
cepat menjadi kota yang besar dan maju, yang dihuni oleh para penutur bahasa
Aram, Arab, dan Persia. Banyak kelompok orang berbeda yang tinggal di sana, di
antaranya orang Arab, Persia, Yahudi, dan Yunani. Beberapa agama disembah di
sana, selain mayoritas Islam, ada pula penganut Kristen, Yahudi, dan Zoroaster.
Pada sekitar tahun 800 M Baghdad kemungkinan di tempati oleh hampir setengah
juta orang (separuh penduduk Roma pada masa Kekaisaran Romawi) dan menjadi kota
terbesar di dunia di luar Tiongkok.
No comments:
Post a Comment