KEHANCURAN MASA KEEMASAN
PERADABAN ISLAM
Mungkin diantara banyak faktor
yang mempengaruhi berakhirnya masa keemasan Islam, beberapa faktor ini saya
rasa cukup mewakili keingintahuan kita terhadap faktor tersebut, diantaranya:
-
Pertama, adalah kritikan
dari Imam Al Ghazali yang menentang pengaruh filsafat Yunani yang menjunjung
tinggi logika dalam penalaran ilmu dalam peradaban Islam. Sekalipun Ibnu Rushd
menyatakan, bahwa tidak ada kontradiksi terhadap ajaran agama. Namun, karena
berbeda pandangan akhirnya terjadilah perbedaan yang mencolok. Sebenarnya Imam
Al Ghazali takut akan adanya ketercampuran akidah dengan adat budaya Yunani yang
kental dengan kekufuran. Akan tetapi, bukan tanpa alasan para ilmuwan menyatakan
itu boleh, melainkan dengan dasar iman yang menggunakan akal juga dengan
keimanan yang mana tak merubah kepercayaan mereka terhadap keberadaan Allah. Akan tetapi, karena kuatnya pendirian
masing-masing sehingga tak ada titik temu dan Imam Al Ghazali menyatakan perang
terhadap pengaruh Filsafat Yunani, dengan maksud pemurnian ajaran agama. Namun,
sebagaimana kitab sulam munawarak yang berisi filsafat ilmu, yang menunjang
akal berfikir tanpa meniadakan ajaran Islam bahkan justru menunjang lebih
mempercayai keberadaan Allah, dan bahkan sekarang menjadi salah satu dasar teori
pokok dalam tata bahasa arab. Itu membuktikan tidak ada nya kontra indikasi
yang bertentangan dengan ajaran Islam selama berfikir dengan batasan kaidah
hukum agama yang telah sempurna saat ini (berbeda dengan dahulu yang masih
dalam tahap pengembangan hukum dengan dasar sunnah. Seiring berkembangnya zaman
dan banyaknya hal baru yang perlu di atur hukum agama, maka sesuai sunnah
Rasulullah para ulama mengkategorikan hukum Ushul berdasarkan sunnah seperti
hal haram dan halal, serta makruh, mubah dll.
-
Kedua, faktor lain yang turut mendorong runtuhnya era
emas ini adalah serbuan dari bangsa Mongol yang akhirnya meluluh lantakkan
Baghdad bersama dengan perpustakaan sekaligus pusat ilmu pengetahuan paling
lengkap saat itu, yaitu Bayt Al Hikmah.
Penghancuran ini sering dianggap sebagai titik balik
penurunan dunia Islam di bidang pengetahuan. Akan tetapi, beruntungnya
kita karena ratusan ribu manuskrip dari Bayt Al Hikmah sempat diselamatkan
oleh Al-Tusi ke Observatorium Maragheh, Azerbaijan yang kemudian menjadi
sumber referensi dan inspirasi para ilmuwan Eropa pada zaman Renaissance
dan Enlightenment, dan menjadi peninggalan sejarah perjuangan agama
kita.
Karena adanya diskriminasi sosial
akibat kejadian pemboman WTC 11 september 2001, peradaban Islam mendapatkan
tantangan besar, terutama stigma negatif dari penduduk dunia tentang terorisme
yang disematkan pada agama Islam, dan konflik Timur Tengah yang menjadi perang
urat syaraf antara Barat dan Islam, yang mana sampai saat ini terjadi.
Harusnya kita dapat melihat pada
sejarah, agar kita dapat menghargai proses perjuangan para pahlawan ilmu dan
agama, apalagi ummat Islam yang tak pernah menyembunyikan kebenaran (berbeda
dengan teori Barat yang banyak pendustaan ilmu), seperti sekarang banyak yang
ingin menghilangkan sejarah Islam dan riwayat Sunnah Rasul (Seperti kaum wahabi
yang mencoba mendoktrin penyampaian keilmuan tanpa kejelasan dan cenderung
meniadakan sebagian riwayat demi menunjang citra mereka naudzubillah).
Karena, bagaimanapun Islam
mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan dunia ini dari segala sisi.
Namun sayangnya, karena kurangnya pemahaman terhadap esensi dari materi sejarah
dan makna perjuangan, yang mana sebenarnya bisa membangun kembali perdamaian, malah
menjadikan hambatan bagi pemikiran kita terhadap persatuan. Ini hanya lah teori
yang mana terlepas dari takdir Allah yang menghendaki semua ini terjadi. Karena
dilihat dari segi ajaran agama, tentunya bagaimana bumi tidak hancur dan
mengalami kekacauan jika pengisi buminya sudah banyak tak ingat akan sang
pencipta dan bahkan cenderung merusak keutuhan bumi, dan ini lah takdir yang
mana tak dapat kita rubah kecuali berusaha.
Pada dasarnya,
peradaban inilah yang menjadi jembatan peralihan dari ilmu filsafat Yunani
Klasik yang abstrak, menuju subjek yang lebih konkrit dengan penalaran
observasi dan pendekatan empiris. Peradaban inilah yang mulai
meraba-raba kaidah-kaidah metode penelitian ilmiah sampai akhirnya
disempurnakan oleh para ilmuwan Eropa yang memegang tongkat estafet
ketiga yang juga sempat jatuh bangun, karena pengaruh Gereja Katolik
Roma yang melarang perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dark Age. Sampai
akhirnya lahirlah para pahlawan baru ilmu pengetahuan (Ilmu darigama)
utamanya di Eropa yang kembali menggebrak dunia dengan pemahaman yang baru
seperti Galileo Gelilei, Copernicus, Darwin, Newton, hingga Einstein.
Sedikit
catatan, kenapa banyak perbedaan dalam ajaran filsafat Islam dan Barat?, tidak
lain adalah dasar keimanan kita yang kembali merujuk pada Al Quran dan sunnah
sebagai rujukan pertama dalam hal akal maupun batin. Karena, pada dasarnya kita
mempunyai akal fikiran yang mana menjadi fitrah kita yang harus dimanfaatkan
dengan benar, sehingga keberadaan ilmu filsafat menunjang akal kita dalam bersosialisasi
dan berfikir jernih. Akan tetapi, tetap sebagaimana seorang muslim merujuk pada
aturan Al Quran dan Hadis, maka kita mempunyai batasan akal yang tentunya
dikembalikan pada Al Quran’.
Maka, ada
bahasa perbandingan dalam penelaahan hukum Al Quran dan sunnah yang menjadi
hujjah atau dalil seorang muslim dalam beristinbat hukum yang sesuai akal, dan
yang tak mampu akal mencapainya, maka akan di kembalikan secara otomatis pada
ke Maha Tahuan Allah swt (Alias kembali ke Qur’an). Contoh mana kala tak ada
dalil yang menyatakan dengan jelas bentuk wujud Allah yang tak dapat di terka
akal kita, maka kita merujuk pada Al Qur’an yang mana Allah berfirman “Tak ada
sesuatu apapun yang manyamai Allah” (Laesa kamislihi saiuun). Sehingga, akal
kita dapat menyimpulkan sesuai sunnah Rasulullah saw tentang sifat Allah yang
tak dapat disamakan dengan apapun. Karena mustahil bagi sang Pencipta mempunyai
kesamaan dengan bentuk fisik dan sifat mahluknya.
Sehingga para
ulama memberikan defenisi had terhadap mahluk yaitu dengan bahasa Maa siwaa
allahu fahuwa alamun sesuatu selain dzat allah adalah alam, dan sungguh akal
kita ketahui bahwa alam itu adalah mahluk (ciptaan) beserta isinya. Maka apapun
yang dinamakan mahluk seperti alam semesta, angin, manusia, binatang, tak ada
satupun yang akan menyamai dzat Allah dalam bentuk apapun. Adapun hadis yang
menyatakan keberadaan Allah ada pada diri kita atau mahluknya itu adalah sebuah
majaz atau perumpamaan bahasa yang mempunyai makna bahwa keberadaan Allah dapat
kita rasakan dan kita cermati serta hayati dengan adanya kita sebagai mahluk di
muka bumi atas dasar kehendak Allah semata yang bersedia memberikan nikmat
hidup kepada kita.
Sebagaimana
yang selalu kita pelajari dari guru kita dalam tauhid (Keesaan), “wa
daliilu ala wujudillahi Ta’ala” ialah “wujuudu hadihil mahluqoti”,
yaitu bahwa ciri dari wujud nya Allah itu adalah keberadaan kita sebagai mahluk
ciptaan NYA. Wujud disini bukan lah wujud seperti kita (bentuk, atau warna dan
lain sebagainya).
Wujud disini
adalah sifat khusus yang berbeda dengan sifat umum, dan hanya terdapat pada
Allah saja. Jadi, berbeda dengan pengertian wujud secara umum dalam bahasa
kalam. Sehingga kita hanya dapat mengenal Allah melalui sifat NYA saja (yang
mana tak ada kesamaan dengan mahluk) secara dasar.
Sehingga para
ulama mengambil garis besar sebagaimana rujukan Al Qur’an yang mana Allah
memberikan bahasa isyarat seperti (Laesa kamislihi saiuun atau Allahu Latiifun
khobir atau Allahu samiiun basiir) tentang keberadaan NYA. Dan sifat yang ada
pada Allah adalah sifat yang khusus semuanya dan tak ada satupun yang dapat
menyamainya (mustahil).
Meskipun
melenceng dari pembahasan sejarah, akan tetapi berguna untuk kita terhadap cara
pandang para ulama dahulu dengan benar. Sehingga, tidak terjadi perpecahaan dan
tidak ada sunnah dan bahasa Al Qur’an yang bertentangan dengan akal kita yang
mana menyamakan Allah dengan mahluk, seperti hal Allah mempunyai kaki meliputi
besarnya arsy, yang mana itu mustahil makna nya. Karena makna lafad pada Allah
adalah makna khusus bukan umum seperti yang saya sampaikan diatas.
Wallahu a’lam
No comments:
Post a Comment