Wednesday, February 7, 2018

Kehancuran Masa Keemasan Peradaban Islam



KEHANCURAN MASA KEEMASAN PERADABAN ISLAM


Mungkin diantara banyak faktor yang mempengaruhi berakhirnya masa keemasan Islam, beberapa faktor ini saya rasa cukup mewakili keingintahuan kita terhadap faktor tersebut, diantaranya:
-         Pertama, adalah kritikan dari Imam Al Ghazali yang menentang pengaruh filsafat Yunani yang menjunjung tinggi logika dalam penalaran ilmu dalam peradaban Islam. Sekalipun Ibnu Rushd menyatakan, bahwa tidak ada kontradiksi terhadap ajaran agama. Namun, karena berbeda pandangan akhirnya terjadilah perbedaan yang mencolok. Sebenarnya Imam Al Ghazali takut akan adanya ketercampuran akidah dengan adat budaya Yunani yang kental dengan kekufuran. Akan tetapi, bukan tanpa alasan para ilmuwan menyatakan itu boleh, melainkan dengan dasar iman yang menggunakan akal juga dengan keimanan yang mana tak merubah kepercayaan mereka terhadap keberadaan Allah.  Akan tetapi, karena kuatnya pendirian masing-masing sehingga tak ada titik temu dan Imam Al Ghazali menyatakan perang terhadap pengaruh Filsafat Yunani, dengan maksud pemurnian ajaran agama. Namun, sebagaimana kitab sulam munawarak yang berisi filsafat ilmu, yang menunjang akal berfikir tanpa meniadakan ajaran Islam bahkan justru menunjang lebih mempercayai keberadaan Allah, dan bahkan sekarang menjadi salah satu dasar teori pokok dalam tata bahasa arab. Itu membuktikan tidak ada nya kontra indikasi yang bertentangan dengan ajaran Islam selama berfikir dengan batasan kaidah hukum agama yang telah sempurna saat ini (berbeda dengan dahulu yang masih dalam tahap pengembangan hukum dengan dasar sunnah. Seiring berkembangnya zaman dan banyaknya hal baru yang perlu di atur hukum agama, maka sesuai sunnah Rasulullah para ulama mengkategorikan hukum Ushul berdasarkan sunnah seperti hal haram dan halal, serta makruh, mubah dll.
-         Kedua, faktor lain yang turut mendorong runtuhnya era emas ini adalah serbuan dari bangsa Mongol yang akhirnya meluluh lantakkan Baghdad bersama dengan perpustakaan sekaligus pusat ilmu pengetahuan paling lengkap saat itu, yaitu Bayt Al Hikmah. 
Penghancuran ini sering dianggap sebagai titik balik penurunan dunia Islam di bidang pengetahuan. Akan tetapi, beruntungnya kita karena ratusan ribu manuskrip dari Bayt Al Hikmah sempat diselamatkan oleh Al-Tusi ke Observatorium Maragheh, Azerbaijan yang kemudian menjadi sumber referensi dan inspirasi para ilmuwan Eropa pada zaman Renaissance dan Enlightenment, dan menjadi peninggalan sejarah perjuangan agama kita.

Karena adanya diskriminasi sosial akibat kejadian pemboman WTC 11 september 2001, peradaban Islam mendapatkan tantangan besar, terutama stigma negatif dari penduduk dunia tentang terorisme yang disematkan pada agama Islam, dan konflik Timur Tengah yang menjadi perang urat syaraf antara Barat dan Islam, yang mana sampai saat ini terjadi.
Harusnya kita dapat melihat pada sejarah, agar kita dapat menghargai proses perjuangan para pahlawan ilmu dan agama, apalagi ummat Islam yang tak pernah menyembunyikan kebenaran (berbeda dengan teori Barat yang banyak pendustaan ilmu), seperti sekarang banyak yang ingin menghilangkan sejarah Islam dan riwayat Sunnah Rasul (Seperti kaum wahabi yang mencoba mendoktrin penyampaian keilmuan tanpa kejelasan dan cenderung meniadakan sebagian riwayat demi menunjang citra mereka naudzubillah).
Karena, bagaimanapun Islam mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan dunia ini dari segala sisi. Namun sayangnya, karena kurangnya pemahaman terhadap esensi dari materi sejarah dan makna perjuangan, yang mana sebenarnya bisa membangun kembali perdamaian, malah menjadikan hambatan bagi pemikiran kita terhadap persatuan. Ini hanya lah teori yang mana terlepas dari takdir Allah yang menghendaki semua ini terjadi. Karena dilihat dari segi ajaran agama, tentunya bagaimana bumi tidak hancur dan mengalami kekacauan jika pengisi buminya sudah banyak tak ingat akan sang pencipta dan bahkan cenderung merusak keutuhan bumi, dan ini lah takdir yang mana tak dapat kita rubah kecuali berusaha.
Pada dasarnya, peradaban inilah yang menjadi jembatan peralihan dari ilmu filsafat Yunani Klasik yang abstrak, menuju subjek yang lebih konkrit dengan penalaran observasi dan pendekatan empiris. Peradaban inilah yang mulai meraba-raba kaidah-kaidah metode penelitian ilmiah sampai akhirnya disempurnakan oleh para ilmuwan Eropa yang memegang tongkat estafet ketiga yang juga sempat jatuh bangun, karena pengaruh Gereja Katolik Roma yang melarang perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dark Age. Sampai akhirnya lahirlah para pahlawan baru ilmu pengetahuan (Ilmu darigama) utamanya di Eropa yang kembali menggebrak dunia dengan pemahaman yang baru seperti Galileo Gelilei, Copernicus, Darwin, Newton, hingga Einstein.
Sedikit catatan, kenapa banyak perbedaan dalam ajaran filsafat Islam dan Barat?, tidak lain adalah dasar keimanan kita yang kembali merujuk pada Al Quran dan sunnah sebagai rujukan pertama dalam hal akal maupun batin. Karena, pada dasarnya kita mempunyai akal fikiran yang mana menjadi fitrah kita yang harus dimanfaatkan dengan benar, sehingga keberadaan ilmu filsafat menunjang akal kita dalam bersosialisasi dan berfikir jernih. Akan tetapi, tetap sebagaimana seorang muslim merujuk pada aturan Al Quran dan Hadis, maka kita mempunyai batasan akal yang tentunya dikembalikan pada Al Quran’.
Maka, ada bahasa perbandingan dalam penelaahan hukum Al Quran dan sunnah yang menjadi hujjah atau dalil seorang muslim dalam beristinbat hukum yang sesuai akal, dan yang tak mampu akal mencapainya, maka akan di kembalikan secara otomatis pada ke Maha Tahuan Allah swt (Alias kembali ke Qur’an). Contoh mana kala tak ada dalil yang menyatakan dengan jelas bentuk wujud Allah yang tak dapat di terka akal kita, maka kita merujuk pada Al Qur’an yang mana Allah berfirman “Tak ada sesuatu apapun yang manyamai Allah” (Laesa kamislihi saiuun). Sehingga, akal kita dapat menyimpulkan sesuai sunnah Rasulullah saw tentang sifat Allah yang tak dapat disamakan dengan apapun. Karena mustahil bagi sang Pencipta mempunyai kesamaan dengan bentuk fisik dan sifat mahluknya.
Sehingga para ulama memberikan defenisi had terhadap mahluk yaitu dengan bahasa Maa siwaa allahu fahuwa alamun sesuatu selain dzat allah adalah alam, dan sungguh akal kita ketahui bahwa alam itu adalah mahluk (ciptaan) beserta isinya. Maka apapun yang dinamakan mahluk seperti alam semesta, angin, manusia, binatang, tak ada satupun yang akan menyamai dzat Allah dalam bentuk apapun. Adapun hadis yang menyatakan keberadaan Allah ada pada diri kita atau mahluknya itu adalah sebuah majaz atau perumpamaan bahasa yang mempunyai makna bahwa keberadaan Allah dapat kita rasakan dan kita cermati serta hayati dengan adanya kita sebagai mahluk di muka bumi atas dasar kehendak Allah semata yang bersedia memberikan nikmat hidup kepada kita.
Sebagaimana yang selalu kita pelajari dari guru kita dalam tauhid (Keesaan), “wa daliilu ala wujudillahi Ta’ala” ialah “wujuudu hadihil mahluqoti”, yaitu bahwa ciri dari wujud nya Allah itu adalah keberadaan kita sebagai mahluk ciptaan NYA. Wujud disini bukan lah wujud seperti kita (bentuk, atau warna dan lain sebagainya).
Wujud disini adalah sifat khusus yang berbeda dengan sifat umum, dan hanya terdapat pada Allah saja. Jadi, berbeda dengan pengertian wujud secara umum dalam bahasa kalam. Sehingga kita hanya dapat mengenal Allah melalui sifat NYA saja (yang mana tak ada kesamaan dengan mahluk) secara dasar.
Sehingga para ulama mengambil garis besar sebagaimana rujukan Al Qur’an yang mana Allah memberikan bahasa isyarat seperti (Laesa kamislihi saiuun atau Allahu Latiifun khobir atau Allahu samiiun basiir) tentang keberadaan NYA. Dan sifat yang ada pada Allah adalah sifat yang khusus semuanya dan tak ada satupun yang dapat menyamainya (mustahil).
Meskipun melenceng dari pembahasan sejarah, akan tetapi berguna untuk kita terhadap cara pandang para ulama dahulu dengan benar. Sehingga, tidak terjadi perpecahaan dan tidak ada sunnah dan bahasa Al Qur’an yang bertentangan dengan akal kita yang mana menyamakan Allah dengan mahluk, seperti hal Allah mempunyai kaki meliputi besarnya arsy, yang mana itu mustahil makna nya. Karena makna lafad pada Allah adalah makna khusus bukan umum seperti yang saya sampaikan diatas.
Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat Perlunya ada pelurusan tentang tawassul, karena banyaknya saudara kita yang ...