Pendiri Ajaran Tauhid
Alhamdulillah kita panjatkan puji
dan syukur kepada Allah swt dan tak lupa shalawat dan salam senantiasa tercurah
limpah kepada nabi kita Muhammad saw, keluarga, sahabat, para tabi’in atba’u
tabi’in hingga sampai pada kita semua sebagai ummatnya amin ya rabbal a’lamiin.
Dengan adanya akidah aswaja ini yang mengajarkan ketauhidan dalam hati kita
terhadap allah swt, menjadikan hati kita teguh akan Keagungan Allah Swt.
Imam Abu Al
Hasan Al Asya’ari
Nama lengkap
beliau adalah Abu Al Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Bisyr Ishaq Al Asy’ari Al
Yamani Al Bashri. Beliau Imam Al Asy’ari adalah kabilah yang berasal dari
Yaman, tapi beliau lahir dan besar di Bashrah Iraq. Abu Al Hasan Al Asy’ari
lahir di Basrah tahun 260 H, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad sampai
beliau wafat tahun 324H.
Beliau adalah
seorang pemikir muslim dan pendiri paham Asy’ariah. Sebelum mendirikan faham
Asy’ari, beliau sempat berguru pada seorang Mu’tazilah terkenal yaitu Abi Ali
Al Jubba’i yang mana beliau juga adalah ayah tiri dri Imam Asy’ari sendiri. Namun,
pada tahun 299 H, beliau Imam Asy’ari mengumumkan keluar dari faham Mu’tazilah sebab
keraguannya terhadap paham Mu’tazilah yang bertentangan dengan akal, nurani,
serta tak berdasar pada kaidah sunnah yang beliau fahami, sehingga berdirilah
Ahli Sunnah Wal Jamaah yang kemudian dikenal sebagai thariqah Asy’ariah (Dengan
sebutan nama pendirinya).
Keberadaan
faham beliau yang bijak dan sesuai dengan makna Keesaan Allah yang disampaikan
Alqur’an, sehingga banyak tokoh Islam yang mendukung pemikiran-pemikiran
beliau, salah satunya yang terkenal adalah Imam besar Al-Ghazali,
terutama di bidang ilmu Kalam, Tauhid dan Ushuludin. Dan perlu diingat sebuah
thariqoh itu adalah jalan atau cara pandang dalam melakukan ibadah sesuai
pemikiran sunnah dan dasar Alqur’an. Bukan suatu ajaran baru, melainkan suatu
jalan menunaikan ibadah wajib dan sunnah serta aqidah berdasarkan Alqur’an dan
sunnah, yang mengikuti jalan kesholehan pendiri thariqat. Yang biasanya
dinamakan sesuai dengan nama pendirinya.
Dan tentunya
sesuai sunnah, contoh hal Imam Al Ghazali saja mendukung beliau, yang mana kita
tahu bahkan beliau selalu menentang keberadaan faham modernisasi. Lalu, kenapa
beliau tidak menentang faham Imam Asy’ari yang bahkan berhubungan langsung
dengan katauhidan yang sensitif. Dan tentu dengan segala jalur penelitian dan
rido para ulama sebuah thariqoh yang benar itu berjalan. Sebagaimana pernyataan
kaum Assya’ri terhadap Keesaan Allah, sesuai dengan Alqur’an dan rujukan hadis,
maka keberadaannya dibiarkan dan didukung bahkan oleh ulama besar Islam.
Berbeda dengan
jalan wahabiyun yang menyamakan Keesaan Allah dengan mahluk, layaknya kaum
mujasimah dan khawarij (kaum yang pemikirannya keluar dari jalan Islam), bukan
sebutan khusus untuk kaum yang keluar dari barisan Sayyidina Ali karena alasan
politik (zaman sahabat). Itu, bukanlah sebuah thariqoh melainkan kesesatan. Meskioun
mereka berdalih atas nama sunnah, tapi pemikiran mereka yang dangkal menjadikan
kesesatan yang bahaya. Apalagi, setiap penjelasan mereka hanya berdasar satu
sudut pandang dari satu pertanyaan, dan menjawab dengan murod kalam yang dapat
bertentangan dengan akal dan bahkan sunnah sendiri. Seperti contoh bertentangan
nya alasan mereka membid’ahkan dengan satu riwayat tanpa melihat riwayat lain.
Seperti riwayat yang pernah saya bahas dalam artikel lain, semisal contoh
tentang membaca alquran di makam dn bershalawat dimesjid sembari menunggu shalat
dll.
Walaupun ada
juga ulama yang menentang pamikirannya karena mungkin terlalu berani menyatakan
sifat Allah yang mana belum ada satupun yang mengkajinya, tetapi banyak
masyarakat muslim yang mengikuti pemikirannya juga karena sesuai dengan isi
dari Alqur’an yang mana Allah swt banyak menguraikan pernyataan dan isyarat
tentang ciri Keesaan NYA. Orang-orang yang mengikuti dan mendukung pendapat dan
faham beliau dinamakan pengikut “Asy’ariyyah”, bahkan tidak sedikit nama nama
mereka dinisbatkan kepada nama imamnya (Al-Asy’ari).
Diantaranya
pengarang kitab ini ”Al’Aqaid Ad Diniyyah”, Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf
sangat menyenangi, jika namanya dinisbatkan kepada nama Abu Hasan Al Asy’ari. Saya
beri contoh atu pemahaman para Asy’ariah misal pernyataan Allah yang mana bahwa
dzat Allah adalah tak ada satu pun yang menyamai NYA (Asyura 11), dan ayat pertama
dari surat Al Ikhlas yang menyatakan bahwa Allah adalah Satu (Esa). Sehingga,
berarti tak mungkin ada yang menyamai Allah, ataupun Allah (mustahil) mempunyai
sifat yang sama dengan mahluk yang tidak Esa atau mempunyai jumlah lebih dari
satu. Sehingga jika Allah sama dengan mahluk, kita berfikir bahwa Allah sama
dengan mahluk, sehingga berfikir dan berkhayal fikir kita tentang hal tersenut
sehhingga timbul kesyirikan dalam hati dan fikiran. Maka, makna yang pantas dari
pernyataan tersebut adalah yang sesuai dengan sifat yang wajib ada pada Dzat
Allah yaitu Mukholafatu lil Hawadis dan sifat Wahdaniyah, meskipun kita tidak
mengakui sampai mati, dan tak ada dalil khususnya serta firman Allah yang
menyatakan langsung. Akan tetapi, kenyataan dan isyarat pernyataan Kalamullah,
juga akal kita yakin bahwa sifat
tersebut harus ada dan pasti ada sesuai pernyataan Allah dalam Alqur’an, dan
dengan tujuan mempermudah mengenal ciri keberadaan Allah, bukan untuk menyaingi
atau membandingi Al qur’an, tetapi untuk menunjang kita mengerti akan isyarat
Allah terhadap keberadaan NYA. Maka hanya orang yang tak berfikir lah yang
mengkafirkan dan membid’ah dolalahkan para Asy’ari ini.
Dalam hal
penggolongan kata yang dipilih, hanya beda pengucapan saja dengan pernyataan Alqur’an,
tapi tidak ada sedikitpun perubahan terhadap esensi dan makna khusus kalam
Allah tersebut (Ini hal yang perlu anda ingat!), tidak mungkin kita menyebut
sifat ke Kulhuwallahu ahadan bukan?, lebih baik dan pas secara bahasa dan
pengucapan dengan menyebut ke wahdaniyatan atau ke Esaan, yang mana kalimat ini
menyatakan ketauhidan kepada Allah dan tak ada kesyirikan dalam hal apapun
termasuk fikir, hati, dan ucapan kita dengan dalil surat Al Ikhlas tersebut. Adapun
Asmaul Husna 99 adalah nama istimewa dan khusus hanya disematkan pada Allah dan
ke 99 nama tersebut, terkandung dalam esensi sifat 20. Contoh hal beliau
menyebutkan sifat wahdaniyat wajib, sebagaimana pernyataan surat Al Ikhlas 1
“Qul huwa Allahu ahad”, atau wajibnya sifat mukhalafatul lil hawadis dengan
pernyataan surat As Syura 11 “Laesa kamislihi saiuun”. Maka jelas sudah apa
yang menjadi dasar kita, sehingga tak ada pemikiran yang bertentangan dengan
kenyataan yang dituturkan Alqur’an.
Secara nyata
juga jelas perbedaan nama dengan sebuah sifat. Anda juga harus bisa membedakan,
hingga tidak mudah tertipu dengan silat lidah kata yang dilakukan oknum, seakan
paling benar. Tapi jelas Alqur’an saja dengan jelas membantah pernyataan
mereka. Anda tak perlu jauh sampai ke dalam ilmu lain, anda cukup membandingkan
pernyataan mereka dengan Alqur’an jika mengenai sifat wujud Allah dan yang
berhubungan keberadaan Allah. Maka pasti akan terlihat kejanggalan yang
bertentangan, dan juga sekaligus akan membongkar keseatan mereka langsung
dengan Kalamullah.
Karena secara
hukum bahasa dan juga ilmu, sifat adalah “al qoimu ddaimu bidatihi taala”, atau
ssuatu yang mutlak tanpa kita sebut juga secara otomatis ada dan pasti
bersandar dan ada pada Dzat Allah Sang Pencipta seperti Sifat Ketuhanan. Maka
jelas berbeda antara nama dengan sifat. Contoh Allahu Ahad, Allah adalah nama
Sang Pencipta atau Rabb kita, dan Ahadun adalah satu Sifat yang menyatakan
Keesaan yang pasti ada dan mustahil tidak ada dalam hak Sang Pencipta. Jadi
jelas asmaul husna secara otomatis masuk kedalam essensi sifat 20. Jadi, sifat
Ahad ini adalah sifat khusus, jika dinisbatkan kepada Allah yang mempunyai
makna Keesaan atau Ketunggalan yang tak ada yang dapat menyamai NYA, berbeda
dengan sifat umum yang disematkan kepada mahluk. Maka ulama tauhid menyatakan
sifat 20 telah mencakup atau mengandung kekhususan Asmaul Husna serta dalil
akli (sesuai akal dan rujukan sunnah) dan naklinya (sesuai rujukan Alqur’an).
Insyallah
tentunya para sobat lebih pintar untuk mengerti dan faham daripada yang saya
sampaikan tersebut.
Di Asia
mayoritas penduduk muslim banyak yang mengikuti faham Imam Abu Hasan Al Asy’ari,
yang diserasikan dengan faham ilmu Tauhid yang dikembangkan oleh Imam Abu
Manshur Al Maturidi terutama pelajaran yang menyangkut pengenalan sifat-sifat
Allah yang terkenal dengan nama “sifat 20”. Pelajaran ini banyak diajarkan di
pesantren-pesantren klasik, bahkan modern di seluruh Indonesia. Bahkan juga di
sekolah-sekolah formal pada umumnya seperti Jamiat Khair (dahulu) yang
dipelopori oleh Habib Utsman bin Yahya dan Habib Ali Al Habsyi. Kecuali bagi
kaum yang tak mau mengakui Keesaan Allah.
Imam Abu
Manshur Al Maturidi
Abu Manshur
Muhammad bin Muhammad Al Maturidi As Samarqandi berasal diri daerah Maturid di
Samarqand Uzbekistan. Dikatakan bahwa beliau lahir pada masa pemerintahan
Khalifah Al Mutawakil Al Abbasi, dan diperkirakan beliau lebih muda dari Abu Al
Hasan Al Asy’ari sekitar 20 tahun.
Abu Manshur Al
Maturidi sama dengan Abu Al Hasan Al Asy’ari adalah seorang pemikir muslim dan
pendiri faham Ahli Sunnah Wal Jama’ah dengan dalil-dalil yang diambil dari Al Qur’an
dan Sunnah Nabi saw dan juga bersendarkan kepada dalil Aqli dan naqli. sehingga
dia diberi julukan “Imam Al Huda” atau “Imam Al Mutakalimin”. Abu
Mansur Al Maturidi dan Abu Al Hasan merupakan tokoh tokoh pertama yang
mendirikan faham Ahli Sunnah Wal Jama’ah terutama dalam ilmu yang bersangkutan
dengan Aqidah dan mengenal Allah.
Pemikiran Abu
Manshur berkisar sekitar ilmu Ta’wil Al Qur’an, Usul Fiqih, Ilmu Kalam, Tauhid
dll. Setelah beliau menerapkan pemikirannya kepada masyarakat, beliau mulai
mencatatnya dan meluncurlah setelah itu beberapa kitab beliau terutama tentang
ilmu Akidah. Diantara kitab kitab beliau yang terkenal adalah “At Tauhid”, “Ar
Rad ‘Ala Al Qaramithah”, “Bayan Wahmi Al Mu’tazilah” dan masih banyak lagi
kitab kitab beliau yang bertujuan untuk mempertahankan akidah Ahli Sunnah Wal
Jama’ah.
Telah disebut
dalam beberapa marja’ bahwa Abu Manshur Al Maturidi wafat pada tahun 332H di
Samarqand dan makamnya sangat dikenal masyarakat setempatdan menjadi tempat
ziarah bagi kaum muslimin.
Wallahu’alam
No comments:
Post a Comment