Wednesday, February 7, 2018

Pendiri Ajaran Tauhid



Pendiri Ajaran Tauhid
 
Alhamdulillah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt dan tak lupa shalawat dan salam senantiasa tercurah limpah kepada nabi kita Muhammad saw, keluarga, sahabat, para tabi’in atba’u tabi’in hingga sampai pada kita semua sebagai ummatnya amin ya rabbal a’lamiin. Dengan adanya akidah aswaja ini yang mengajarkan ketauhidan dalam hati kita terhadap allah swt, menjadikan hati kita teguh akan Keagungan Allah Swt.
Imam Abu Al Hasan Al Asya’ari
Nama lengkap beliau adalah Abu Al Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Bisyr Ishaq Al Asy’ari Al Yamani Al Bashri. Beliau Imam Al Asy’ari adalah kabilah yang berasal dari Yaman, tapi beliau lahir dan besar di Bashrah Iraq. Abu Al Hasan Al Asy’ari lahir di Basrah tahun 260 H, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad sampai beliau wafat tahun 324H.
Beliau adalah seorang pemikir muslim dan pendiri paham Asy’ariah. Sebelum mendirikan faham Asy’ari, beliau sempat berguru pada seorang Mu’tazilah terkenal yaitu Abi Ali Al Jubba’i yang mana beliau juga adalah ayah tiri dri Imam Asy’ari sendiri. Namun, pada tahun 299 H, beliau Imam Asy’ari mengumumkan keluar dari faham Mu’tazilah sebab keraguannya terhadap paham Mu’tazilah yang bertentangan dengan akal, nurani, serta tak berdasar pada kaidah sunnah yang beliau fahami, sehingga berdirilah Ahli Sunnah Wal Jamaah yang kemudian dikenal sebagai thariqah Asy’ariah (Dengan sebutan nama pendirinya).
Keberadaan faham beliau yang bijak dan sesuai dengan makna Keesaan Allah yang disampaikan Alqur’an, sehingga banyak tokoh Islam yang mendukung pemikiran-pemikiran beliau, salah satunya yang terkenal adalah Imam besar Al-Ghazali, terutama di bidang ilmu Kalam, Tauhid dan Ushuludin. Dan perlu diingat sebuah thariqoh itu adalah jalan atau cara pandang dalam melakukan ibadah sesuai pemikiran sunnah dan dasar Alqur’an. Bukan suatu ajaran baru, melainkan suatu jalan menunaikan ibadah wajib dan sunnah serta aqidah berdasarkan Alqur’an dan sunnah, yang mengikuti jalan kesholehan pendiri thariqat. Yang biasanya dinamakan sesuai dengan nama pendirinya.
Dan tentunya sesuai sunnah, contoh hal Imam Al Ghazali saja mendukung beliau, yang mana kita tahu bahkan beliau selalu menentang keberadaan faham modernisasi. Lalu, kenapa beliau tidak menentang faham Imam Asy’ari yang bahkan berhubungan langsung dengan katauhidan yang sensitif. Dan tentu dengan segala jalur penelitian dan rido para ulama sebuah thariqoh yang benar itu berjalan. Sebagaimana pernyataan kaum Assya’ri terhadap Keesaan Allah, sesuai dengan Alqur’an dan rujukan hadis, maka keberadaannya dibiarkan dan didukung bahkan oleh ulama besar Islam.
Berbeda dengan jalan wahabiyun yang menyamakan Keesaan Allah dengan mahluk, layaknya kaum mujasimah dan khawarij (kaum yang pemikirannya keluar dari jalan Islam), bukan sebutan khusus untuk kaum yang keluar dari barisan Sayyidina Ali karena alasan politik (zaman sahabat). Itu, bukanlah sebuah thariqoh melainkan kesesatan. Meskioun mereka berdalih atas nama sunnah, tapi pemikiran mereka yang dangkal menjadikan kesesatan yang bahaya. Apalagi, setiap penjelasan mereka hanya berdasar satu sudut pandang dari satu pertanyaan, dan menjawab dengan murod kalam yang dapat bertentangan dengan akal dan bahkan sunnah sendiri. Seperti contoh bertentangan nya alasan mereka membid’ahkan dengan satu riwayat tanpa melihat riwayat lain. Seperti riwayat yang pernah saya bahas dalam artikel lain, semisal contoh tentang membaca alquran di makam dn bershalawat dimesjid sembari menunggu shalat dll.
Walaupun ada juga ulama yang menentang pamikirannya karena mungkin terlalu berani menyatakan sifat Allah yang mana belum ada satupun yang mengkajinya, tetapi banyak masyarakat muslim yang mengikuti pemikirannya juga karena sesuai dengan isi dari Alqur’an yang mana Allah swt banyak menguraikan pernyataan dan isyarat tentang ciri Keesaan NYA. Orang-orang yang mengikuti dan mendukung pendapat dan faham beliau dinamakan pengikut “Asy’ariyyah”, bahkan tidak sedikit nama nama mereka dinisbatkan kepada nama imamnya (Al-Asy’ari).
Diantaranya pengarang kitab ini ”Al’Aqaid Ad Diniyyah”, Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf sangat menyenangi, jika namanya dinisbatkan kepada nama Abu Hasan Al Asy’ari. Saya beri contoh atu pemahaman para Asy’ariah misal pernyataan Allah yang mana bahwa dzat Allah adalah tak ada satu pun yang menyamai NYA (Asyura 11), dan ayat pertama dari surat Al Ikhlas yang menyatakan bahwa Allah adalah Satu (Esa). Sehingga, berarti tak mungkin ada yang menyamai Allah, ataupun Allah (mustahil) mempunyai sifat yang sama dengan mahluk yang tidak Esa atau mempunyai jumlah lebih dari satu. Sehingga jika Allah sama dengan mahluk, kita berfikir bahwa Allah sama dengan mahluk, sehingga berfikir dan berkhayal fikir kita tentang hal tersenut sehhingga timbul kesyirikan dalam hati dan fikiran. Maka, makna yang pantas dari pernyataan tersebut adalah yang sesuai dengan sifat yang wajib ada pada Dzat Allah yaitu Mukholafatu lil Hawadis dan sifat Wahdaniyah, meskipun kita tidak mengakui sampai mati, dan tak ada dalil khususnya serta firman Allah yang menyatakan langsung. Akan tetapi, kenyataan dan isyarat pernyataan Kalamullah, juga  akal kita yakin bahwa sifat tersebut harus ada dan pasti ada sesuai pernyataan Allah dalam Alqur’an, dan dengan tujuan mempermudah mengenal ciri keberadaan Allah, bukan untuk menyaingi atau membandingi Al qur’an, tetapi untuk menunjang kita mengerti akan isyarat Allah terhadap keberadaan NYA. Maka hanya orang yang tak berfikir lah yang mengkafirkan dan membid’ah dolalahkan para Asy’ari ini.
Dalam hal penggolongan kata yang dipilih, hanya beda pengucapan saja dengan pernyataan Alqur’an, tapi tidak ada sedikitpun perubahan terhadap esensi dan makna khusus kalam Allah tersebut (Ini hal yang perlu anda ingat!), tidak mungkin kita menyebut sifat ke Kulhuwallahu ahadan bukan?, lebih baik dan pas secara bahasa dan pengucapan dengan menyebut ke wahdaniyatan atau ke Esaan, yang mana kalimat ini menyatakan ketauhidan kepada Allah dan tak ada kesyirikan dalam hal apapun termasuk fikir, hati, dan ucapan kita dengan dalil surat Al Ikhlas tersebut. Adapun Asmaul Husna 99 adalah nama istimewa dan khusus hanya disematkan pada Allah dan ke 99 nama tersebut, terkandung dalam esensi sifat 20. Contoh hal beliau menyebutkan sifat wahdaniyat wajib, sebagaimana pernyataan surat Al Ikhlas 1 “Qul huwa Allahu ahad”, atau wajibnya sifat mukhalafatul lil hawadis dengan pernyataan surat As Syura 11 “Laesa kamislihi saiuun”. Maka jelas sudah apa yang menjadi dasar kita, sehingga tak ada pemikiran yang bertentangan dengan kenyataan yang dituturkan Alqur’an.
Secara nyata juga jelas perbedaan nama dengan sebuah sifat. Anda juga harus bisa membedakan, hingga tidak mudah tertipu dengan silat lidah kata yang dilakukan oknum, seakan paling benar. Tapi jelas Alqur’an saja dengan jelas membantah pernyataan mereka. Anda tak perlu jauh sampai ke dalam ilmu lain, anda cukup membandingkan pernyataan mereka dengan Alqur’an jika mengenai sifat wujud Allah dan yang berhubungan keberadaan Allah. Maka pasti akan terlihat kejanggalan yang bertentangan, dan juga sekaligus akan membongkar keseatan mereka langsung dengan Kalamullah.
Karena secara hukum bahasa dan juga ilmu, sifat adalah “al qoimu ddaimu bidatihi taala”, atau ssuatu yang mutlak tanpa kita sebut juga secara otomatis ada dan pasti bersandar dan ada pada Dzat Allah Sang Pencipta seperti Sifat Ketuhanan. Maka jelas berbeda antara nama dengan sifat. Contoh Allahu Ahad, Allah adalah nama Sang Pencipta atau Rabb kita, dan Ahadun adalah satu Sifat yang menyatakan Keesaan yang pasti ada dan mustahil tidak ada dalam hak Sang Pencipta. Jadi jelas asmaul husna secara otomatis masuk kedalam essensi sifat 20. Jadi, sifat Ahad ini adalah sifat khusus, jika dinisbatkan kepada Allah yang mempunyai makna Keesaan atau Ketunggalan yang tak ada yang dapat menyamai NYA, berbeda dengan sifat umum yang disematkan kepada mahluk. Maka ulama tauhid menyatakan sifat 20 telah mencakup atau mengandung kekhususan Asmaul Husna serta dalil akli (sesuai akal dan rujukan sunnah) dan naklinya (sesuai rujukan Alqur’an).
Insyallah tentunya para sobat lebih pintar untuk mengerti dan faham daripada yang saya sampaikan tersebut.
Di Asia mayoritas penduduk muslim banyak yang mengikuti faham Imam Abu Hasan Al Asy’ari, yang diserasikan dengan faham ilmu Tauhid yang dikembangkan oleh Imam Abu Manshur Al Maturidi terutama pelajaran yang menyangkut pengenalan sifat-sifat Allah yang terkenal dengan nama “sifat 20”. Pelajaran ini banyak diajarkan di pesantren-pesantren klasik, bahkan modern di seluruh Indonesia. Bahkan juga di sekolah-sekolah formal pada umumnya seperti Jamiat Khair (dahulu) yang dipelopori oleh Habib Utsman bin Yahya dan Habib Ali Al Habsyi. Kecuali bagi kaum yang tak mau mengakui Keesaan Allah.
Imam Abu Manshur Al Maturidi
Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Al Maturidi As Samarqandi berasal diri daerah Maturid di Samarqand Uzbekistan. Dikatakan bahwa beliau lahir pada masa pemerintahan Khalifah Al Mutawakil Al Abbasi, dan diperkirakan beliau lebih muda dari Abu Al Hasan Al Asy’ari sekitar 20 tahun.  
Abu Manshur Al Maturidi sama dengan Abu Al Hasan Al Asy’ari adalah seorang pemikir muslim dan pendiri faham Ahli Sunnah Wal Jama’ah dengan dalil-dalil yang diambil dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw dan juga bersendarkan kepada dalil Aqli dan naqli. sehingga dia diberi julukan “Imam Al Huda” atau “Imam Al Mutakalimin”. Abu Mansur Al Maturidi dan Abu Al Hasan merupakan tokoh tokoh pertama yang mendirikan faham Ahli Sunnah Wal Jama’ah terutama dalam ilmu yang bersangkutan dengan Aqidah dan mengenal Allah.
Pemikiran Abu Manshur berkisar sekitar ilmu Ta’wil Al Qur’an, Usul Fiqih, Ilmu Kalam, Tauhid dll. Setelah beliau menerapkan pemikirannya kepada masyarakat, beliau mulai mencatatnya dan meluncurlah setelah itu beberapa kitab beliau terutama tentang ilmu Akidah. Diantara kitab kitab beliau yang terkenal adalah “At Tauhid”, “Ar Rad ‘Ala Al Qaramithah”, “Bayan Wahmi Al Mu’tazilah” dan masih banyak lagi kitab kitab beliau yang bertujuan untuk mempertahankan akidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
Telah disebut dalam beberapa marja’ bahwa Abu Manshur Al Maturidi wafat pada tahun 332H di Samarqand dan makamnya sangat dikenal masyarakat setempatdan menjadi tempat ziarah bagi kaum muslimin.
Wallahu’alam

No comments:

Post a Comment

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat

Tawassul, Manakib dan Sya’ir sebelum Melaksanakan Shalat Perlunya ada pelurusan tentang tawassul, karena banyaknya saudara kita yang ...