Sejarah Zionis Dajjalis Wahabi
(Sekutu Kafir)
Gemparnya abad ini dengan seiring
melesatnya popularitas kaum wahabi yang membawa kedok aswaja sebagai
tameng. SIKAP WAHHABI yang keras permusuhannya kepada kaum
muslimin yang berbeda paham. Itulah sebabnya kenapa ajaran Wahhabi penuh
kontradiksi di berbagai lini keilmuan, dan kontradiksi itu akan semakin jelas
manakala dihadapkan dengan paham Ahlussunnah Waljama’ah. Walaupun begitu,
ironisnya mereka tanpa risih mengaku-ngaku sebagai kaum ASWAJA. Atas klaim sebagai
ASWAJA itu,
Fakta Kelahiran
Wahhabism
Pertama kali
statement tentang stigma Wahhabi di cetuskan adalah oleh seorang bernama MR.
Hempher, dia adalah mata-mata kolonial Inggris yang secara aktif menyemai dan
membidani kelahiran sekte WAHHABI.Tujuannya adalah untuk menghancurkan kekuatan
ajaran Islam dari dalam, dengan cara menyebarkan isu-isu kafir-musyrik
dan bid’ah.
Dengan adanya
fakta ini, maka mulai terbongkar sikap keras Wahhabi yang kental permusuhannya
kepada kaum muslimin yang berbeda paham. Itulah sebabnya kenapa ajaran Wahhabi
penuh kontradiksi di berbagai lini keilmuan, dan akan kontras terlihat dihadapkan
dengan paham Ahlussunnah Waljama’ah.
Dalam hal ini
sebelum kita mengkomentari sesuatu yang tidak kita ketahui, ada baiknya kita
mengenal terlebih dahulu sejarah politik Islam dan musuh bebuyutan kita negara
kafir yang sudah jadi rahasia umum menjadi lawan kita sejak dulu yaitu Amerika
dan Inggris sekutunya.
Para Wahhabi
ini, tanpa risih mengaku-ngaku sebagai kaum ASWAJA. Atas klaim sebagai ASWAJA
itu, pasti ada pertanyaan yang muncul, sejak kapan WAHHABI berubah menjadi
Ahlussunnah Waljama’ah?. Jelas wajar saja banyak timbul pertanyaan awamul
muslimin, bagaimana tidak tetap tidak dapat dipungkiri mereka memakai kedok
aswaja dan memakai pakaian aswaja. Namun jelas identitas mereka tidak akan
samar, dan pasti akan ketahuan dari keilmuan mereka yang menyalhi aturan bagi
orang yang berilmu dan mengetahui sejarah keislaman, utamanya para Aswaja dan
ulama
Berdirinya
Aliran Saudi Wahhabi
Dalam sebuah tulisan
yang bertajuk Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud oleh Dr.
Abdullah Mohammad Sindi, menyajikan tinjauan ulang tentang sejarahWahabisme,
peran Pemerintah Inggris di dalam perkembangannya, dan hubungannya dengan peran
keluarga kerajaan Saudi. “Salah satu sekte Islam yang paling kaku dan
paling reaksioner saat ini adalah Wahabi,” demikian tulis Dr. Abdullah
Mohammad Sindi dalam pembukaan artikelnya tersebut. Dan dia menambahkan, bahwa
sebagimana kita tahu bahwa Wahabi adalah ajaran resmi Kerajaaan Saudi Arabia..
Sejak kelahiran
keduanya, Wahabisme dan keluarga Kerajaan Saudi telah menjadi satu kesatuan utuh
yang tak terpisahkan. Wahabisme lah yang telah menciptakan kerajaan Saudi
secara tidak langsung menurut sejarah politik Islam Arab Saudi, dan sebaliknya
keluarga Saud membalas jasa itu dengan menyebarkan paham Wahabi ke seluruh
penjuru dunia. “One could not have existed without the other”, Sesuatu tidak
dapat terwujud tanpa bantuan sesuatu yang lainnya.
Istana Saud
memberi perlindungan dan mempromosikan Wahabisme ke seluruh penjuru dunia, dan
Wahhabisme memberi legitimasi bagi Istana Saud. Keduanya tak terpisahkan,
karena keduanya saling mendukung satu sama lain dan kelangsungan hidup keduanya
bergantung saling bergantung karena kekuasaan politik Arab terdapat pada
dukungan Kaum Wahabi ini.
Tidak seperti
negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme memperlakukan perempuan sebagai warga
kelas tiga, membatasi hak-hak mereka seperti menyetir mobil, bahkan pada dekade
lalu membatasi pendidikan mereka.
Juga tidak
seperti di negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme melarang perayaan Maulid
Nabi Muhammad Saw, melarang kebebasan berpolitik dan secara konstan mewajibkan
rakyat untuk patuh secara mutlak kepada pemimpin-pemimpin mereka, melarang mendirikan
bioskop sama sekali, menerapkan hukum Islam hanya atas rakyat jelata, dan
membebaskan hukum atas kaum bangsawan, kecuali karena alasan politis, mengizinkan
perbudakan sampai tahun ’60. Mereka juga menyebarkan mata-mata atau agen
rahasia yang selama 24 jam memonitor demi mencegah munculnya gerakan anti kerajaan.
Wahabisme juga
sangat tidak toleran terhadap paham Islam lainnya, seperti terhadap Syi’ah dan
Sufisme (Tasawuf). Wahabisme juga menumbuhkan rasialisme Arab pada pengikut
mereka. Tentu saja rasialisme bertentangan dengan konsep Ummah Wahidah di dalam
Islam.
Wahhabisme juga
memproklamirkan bahwa hanya dia sajalah, ajaran yang paling benar dari semua
ajaran-ajaran Islam yang ada dengan kedok sunnah, dan siapapun yang menentang
Wahabisme dianggap telah melakukan BID’AH dan KAFIR!.
LAHIRNYA AJARAN
WAHABI:
Di sebuah dusun
terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd inilah mulai muncul ajaran Wahhabi
ini, sekitar pertengahan abad 18 di Dir’iyyah. Kata Wahabi sendiri diambil dari
nama pendirinya, Muhammad Ibn Abdul Wahhab. Beliau ini lahir di Najd, di sebuah
dusun kecil Uyayna. Ibn Abdul-Wahhab adalah seorang mubaligh yang fanatik, dan
telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu bersamaan)
dan mempunyai 18 orang anak.
Sebelum menjadi
seorang Mubaligh, Ibn Abdul Wahhab secara ekstensif mengadakan perjalanan untuk
keperluan bisnis, pelesiran, dan memperdalam agama ke Hijaz, Mesir, Siria,
Irak, Iran, dan India.
Hempher
mata-mata Inggris
Walaupun Ibn
Abdul Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan Inggrislah
yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa Ibn
Abdul Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan
Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki.
Seluk beluk dan rincian tentang konspirasi Inggeris dengan Ibn Abdul Wahhab ini
dapat Anda temukan di dalam memoar Mr. Hempher : “Confessions of a British
Spy”.
Ini akan
menjadi polemik, karena fakta ini berasal dari orang Inggris yang notabennya
adalah orang kafir menurut kita yang tak dapat dipercaya. Namun, hal ini
diperkuat bukan hanya atas pernyataan Hempher ini saja, melainkan fakta sejarah
yang berbicara dan hal itu, sudah menjadi rahasia umum bagi kaum Arab, dan
Islam sedunia. Karena inni bukan hal baru bagi para ulama, sehingga tanggapan
mereka sudah tak terkejut dengan keberadaan mereka sekarang ini yag baru
menyebar luas di masyarakat awam.
Selama di
Basra, Iraq, Ibn Abdul Wahhab muda terjatuh dalam pengaruh dan kendali seorang
mata-mata Inggris yang dipanggil dengan nama Hempher yang sedang menyamar
(undercover), salah seorang mata-mata yang dikirim London untuk negeri-negeri
Muslim (di Timur Tengah), dengan tujuan menggoyang Kekhalifahan Utsmaniyyah dan
menciptakan konflik di antara sesama kaum Muslim. Hempher pura-pura menjadi
seorang Muslim, dan memakai nama Muhammad, dan dengan cara yang licik, ia
melakukan pendekatan dan persahabatan dengan Ibn Abdul Wahhab dalam waktu yang
relatif lama.
Hempher, yang
memberikan Ibn Abdul-Wahhab uang dan hadiah-hadiah lainnya, mencuci-otak Ibn
Abdul Wahhab dengan meyakinkannya bahwa : Orang-orang Islam mesti dibunuh,
karena mereka telah melakukan penyimpangan yang berbahaya, mereka kaum Muslim, telah
keluar dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar, mereka semua telah melakukan
perbuatan-perbuatan bid’ah dan syirik. Sehingga suka muncul pernyatan Wahhabi
yang mana menghalalkan darah muslim, dengan ujaran kebencian.
Hempher juga
membuat-buat sebuah mimpi liar (wild dream) dan mengatakan bahwa dia bermimpi
Nabi Muhammad Saw mencium kening (di antara kedua mata) Ibn Abdul Wahhab, dan
mengatakan kepada Ibn Abdul Wahhab, bahwa dia akan jadi orang besar, dan
meminta kepadanya untuk menjadi orang yang dapat menyelamatkan Islam dari
berbagai bid’ah dan takhayul.
Setelah
mendengar mimpi liar Hempher, Ibn Abdul Wahhab jadi kegirangan (wild with joy)
dan menjadi terobsesi, merasa bertanggung jawab untuk melahirkan suatu aliran
baru di dalam Islam yang bertujuan memurnikan dan mereformasi Islam.
Di dalam
memoarnya, Hempher menggambarkan Ibn Abdul Wahhab sebagai orang yang berjiwa “Sangat
tidak stabil” (extremely unstable), “Sangat kasar” (extremely rude), Berakhlak
bejat (morally depraved), Selalu gelisah (nervous), Congkak (arrogant), dan Dungu
(ignorant) mudah diperdaya.
Hempher, yang
memandang Ibn Abdul Wahhab sebagai seorang yang bertipikal bebal/dungu (typical
fool), juga mengatur pernikahan mut’ah bagi Ibn Abdul Wahhab dengan 2 wanita
Inggris yang juga mata-mata yang sedang menyamar. Maka jika para wahabi ini
ditanya sejarah tentang pendiri dan dimana makam nya, pasti akan kalangkabut
dan bahkan ada yang sampai marah.
Wanita pertama
adalah seorang wanita beragama Kristen dengan panggilan Safiyya. Wanita ini
tinggal bersama Ibn Abdul Wahhab di Basra. Wanita satunya lagi adalah seorang
wanita Yahudi yang punya nama panggilan Asiya. Mereka menikah di Shiraz, Iran.
KERAJAAN SAUDI
WAHHABI PERTAMA (1744-1818)
Setelah kembali
ke Najd dari perjalanannya, Ibn Abdul Wahhab mulai “Berrdakwah” dengan
gagasan-gagasan liarnya di Uyayna. Bagaimana pun, karena “Dakwah” nya yang
keras dan kaku, dia diusir dari tempat kelahirannya. Dia kemudian pergi
berdakwah di dekat Dir’iyyah, di mana sahabat karibnya, Hempher dan beberapa
mata-mata Inggeris lainnya yang berada dalam penyamaran ikut bergabung
dengannya.
Dia juga tanpa
ampun membunuh seorang pezina penduduk setempat di hadapan orang banyak dengan
cara yang sangat brutal, menghajar kepala pezina dengan batu besar, tanpa
melalui proses prosedur penghukuman, tapi denagn keji main hakim sendiri.
Bahkan tidak benar menurut hukum Islam sendiri.
Hukum Islam
tidak mengajarkan hal seperti itu, beberapa hadis menunjukkan cukup dengan
batu-batu kecil. Para ulama Islam (Ahlus Sunnah) tidak membenarkan tindakan Ibn
Abdul Wahhab yang sangat berlebihan seperti itu.
Sebagaimana
kita ketahui, termasuk ayah kandung dan saudaranya sendiri Sulaiman Ibn Abdul
Wahhab pun menentang kejahilannya, yang kita ketahui keduanya adalah
orang-orang yang benar-benar memahami ajaran Islam.Walaupun banyak orang yang
menentang ajaran Ibn Abdul Wahhab yang keras dan kaku serta
tindakan-tindakannya, dengan kekuasaan uang Hempher mata-mata Inggris ini berhasil
membujuk Syeikh Dir’iyyah, Muhammad Saud untuk mendukung pergerakan Ibn Abdul Wahhab
yang dikendalikan olehnya.
Sebagai alat
politik dan agama, pada 1744, Al Saud menggabungkan kekuatan dengan Ibn Abdul Wahhab
dan membangun sebuah aliansi politik, agama dan perkawinan. Dengan aliansi ini,
keluarga Saud dan Ibn Abdul Wahhab melahirkan Wahhabisme yang sampai saat ini
ada.
Setiap kepala
keluarga Al Saud beranggapan bahwa mereka menduduki posisi Imam Wahhabi
(pemimpin agama) dengan adanya penggabungan ini. Sementara itu, setiap kepala
keluarga Wahhabi memperoleh wewenang untuk mengontrol ketat setiap penafsiran
agama (religious interpretation).
Mereka adalah
orang-orang bodoh, yang melakukan kekerasan, menumpahkan darah, dan teror untuk
menyebarkan paham Wahabi (Wahhabism) di Jazirah Arab. Sebagai hasil aliansi
Saudi-Wahhabi pada 1774, sebuah kekuatan angkatan perang kecil yang terdiri
dari orang-orang Arab Badui terbentuk melalui bantuan para mata-mata Inggeris
yang melengkapi mereka dengan uang dan persenjataan.
Sampai pada
waktunya, angkatan perang ini pun berkembang menjadi sebuah ancaman besar yang
pada akhirnya melakukan teror di seluruh Jazirah Arab sampai ke Damaskus
(Suriah), dan menjadi penyebab munculnya Fitnah Terburuk di dalam Sejarah Islam
(Pembantaian atas Orang-orang Sipil dalam jumlah yang besar). Dengan cara ini,
angkatan perang ini dengan kejam telah mampu menaklukkan hampir seluruh Jazirah
Arab untuk menciptakan Negara Saudi Wahhabi yang pertama.
Pada 1801
gerakan Saudi-Wahhabi ini mengejutkan dunia, dengan tindakan brutal
menghancurkan dan menodai kesucian makam Imam Husein bin Ali (cucu Nabi
Muhammad Saw) di Karbala, Irak. Mereka juga tanpa ampun membantai lebih dari
4.000 orang di Karbala dan merampok lebih dari 4.000 unta yang mereka bawa
sebagai harta rampasan. Sebagai contoh, untuk perjuang apa yang mereka sebut
sebagai syirik dan bid’ah yang dilakukan oleh kaum Muslim. Silahkan cek
knbenaran sejarahnya.
Sekali lagi pada
tahun 1810, mereka, kaum Wahabi dengan kejam membunuh penduduk tak berdosa di
sepanjang Jazirah Arab. Mereka menggasak dan menjarah banyak kafilah peziarah
dan sebagian besar di kota-kota Hijaz, termasuk 2 kota suci Makkah dan Madinah.
Mereka
membubarkan para peziarah di Mekah, dan menyerang serta menodai Masjid Nabawi
di Madinah, membongkar makam Nabi, dan menjual serta membagi-bagikan
peninggalan bersejarah dan permata-permata yang mahal.
Para teroris
Saudi-Wahhabi ini telah melakukan tindak kejahatan yang menimbulkan kemarahan
kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk Kekhalifahan Utsmaniyyah di Istanbul.
Sebagai
penguasa yang bertanggung jawab atas keamanan Jazirah Arab dan penjaga
masjid-masjid suci Islam, Khalifah Mahmud II memerintahkan sebuah angkatan
perang Mesir dikirim ke Jazirah Arab untuk menghukum klan Saudi-Wahhabi.
Tahun1818,
angkatan perang Mesir yang dipimpin Ibrahim Pasha (Putra penguasa Mesir)
menghancurkan Saudi-Wahhabi dan meratakan sekaliggus dengan tanah ibu kota
Dir’iyyah. Imam kaum Wahhabi saat itu, Abdullah Al Saud dan dua pengikutnya
dikirim ke Istanbul dengan dirantai dan di hadapan orang banyak, mereka dihukum
pancung. Sisa klan Saudi-Wahhabi ditangkap di Mesir.
Periode ke II Kerajaan
Saudi Wahhabi (1843-1891)
Walaupun kebrutalan
fanatis Wahabisme berhasil dihancurkan pada tahun 1818, namun dengan bantuan
Kolonial Inggris, mereka dapat bangkit kembali. Setelah pelaksanaan hukuman
mati atas Imam Abdullah Al Saud di Turki, sisa-sisa klan Saudi Wahhabi
memandang saudara-saudara Arab dan Muslim mereka sebagai musuh yang
sesungguhnya (their real enemies) dan sebaliknya mereka menjadikan Inggris dan
Barat sebagai sahabat sejati mereka.” Demikian tulis Dr. Abdullah Mohammad Sindi”
Pada saat
ketika Inggris menjajah Bahrain pada tahun 1820 dan mulai mencari jalan untuk
memperluas area jajahannya, Dinasti Saudi Wahhabi menjadikan ini suatu
kesempatan yang baik untuk memperoleh perlindungan dan bantuan Inggris.
Pada tahun 1843,
Imam Wahhabi Faisal Ibn Turki Al Saud melarikan diri dari penjara Cairo dan
kembali ke Najd. Ia kemudian mulai melakukan kontak dengan Pemerintah Inggris.
Pada tahun 1848, dia mengemis bantuan pada Residen Politik Inggeris (British Political
Resident) di Bushire agar mendukung perwakilannya di Trucial Oman. Pada tahun 1851,
Faisal kembali memohon bantuan dan dukungan Pemerintah Inggeris.
Pada tahun
1865, Pemerintah Inggris mengirim Kolonel Lewis Pelly untuk mendirikan sebuah
kantor perwakilan Pemerintahan Kolonial Inggris di riyadh dengan perjanjian
(fakta) bersama Dinasti Saudi Wahhabi.
Untuk
mengesankan dan meyakinkan Kolonel Lewis Pelly, bagaimana bentuk fanatisme dan
kekerasan Wahhabi, Imam Faisal mengatakan bahwa perbedaan besar dalam strategi
Wahhabi antara perang politik dengan
perang agama adalah bahwa nantinya tidak akan ada kompromi, dan hendak membunuh
semua orang .
Tanda tangan
persahabatan pun dijalin pada tahun 1866 oleh Dinasti Saudi Wahhabi dengan
menyetujui sebuah perjanjian “persahabatan” dengan Pemerintah Kolonial Inggris,
yang dibenci oleh semua kaum Muslim, karena kekejaman kolonialnya di dunia
Muslim. Perjanjian ini serupa dengan banyak perjanjian tidak adil yang selalu
dikenakan kolonial Inggris atas boneka-boneka Arab mereka lainnya di Teluk Arab
(sekarang dikenal dengan Teluk Persia).
Pihak Dinasti
Saudi Wahhabi menyetujui untuk bekerjasama/berkhianat dengan pemerintah
kolonial Inggris yaitu dengan memberikan
wewenang kepada pemerintah kolonial Inggris atas area yang dimilikinya sebagai
pertukaran atas bantuan pemerintah kolonial Inggris yang berupa uang dan
senjata.
Dinasti Saudi Wahhabi
telah menyulut kemarahan yang hebat bagi bangsa Arab dan Muslim lainnya, baik
negara-negara yang berada di dalam maupun yang diluar wilayah Jazirah Arab,
dengan melakukan perjanjian sekutu dengan musuh paling diwaspadai dan di benci
kelicikannya oleh bangsa Arab dan Islam.
Al Rasyid Al
Hail dari Arab bagian Tengah adalah seorang patriotik yang merupakan pengusa
Muslim yang sangat tersakiti dengan kelakukan dan pengkhianatan mereka. Dan
pada tahun 1891 dengan dukungan muslim Turki, Al-Rasyid menyerang Riyadh lalu
menghancurkan klan Saudi Wahhabi.
Bagaimanapun
juga para pengecut inisudah menyiapkan strategi untuk melarikan diri dan di antara mereka adalah Imam Abdul Rahman Al Saud
dan putranya yang masih remaja, Abdul Aziz. Dengan cepatnya mereka berdua
melarikan diri ke Kuwait yang dikontrol Kolonial Inggris, dan sekaligus untuk
mencari perlindungan dan bantuan Inggris.
Periode ke III
Saudi Wahhabi (SAUDI ARABIA) : Sejak 1902
Imam Abdul
Rahman dan putranya AbdulAziz sang Imam Wahhabi ini, menghabiskan waktu mereka
“menyembah-nyembah” tuan Inggris mereka dan memohon-mohon akan uang, persenjataan
serta bantuan untuk keperluan merebut kembali Riyadh ketika berada di Kuwait.
Namun, pada akhir penghujung tahun 1800, usia dan penyakit nya telah memaksa
Abdul Rahman untuk menurunkan kekuasaan Dinasti Saudi Wahhabi kepada putranya
Abdul Aziz, yang kemudian menjadi Imam Wahhabi yang baru.
Melalui
strategi licin kolonial Inggris di Jazirah Arab pada awal abad 20, yang dengan
cepat menghancurkan Kekhalifahan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya klan Al Rasyid
secara menyeluruh, kolonial Inggris langsung memberi sokongan kepada Imam baru
Wahhabi Abdul Aziz.
Pada tahun 1902
akhirnya Imam baru Wahhabi dapat merebut
Riyadh, dengan dibentengi dukungan material dan persenjataan dri kolonial
Inggris. Salah satu tindakan biadab pertama Imam baru Wahhabi ini setelah
berhasil menduduki Riyadh adalah menteror penduduknya dengan memaku kepala Al Rasyid
pada pintu gerbang kota. Abdul Aziz dan para pengikut fanatik Wahhabinya juga
membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati (Bukan kah ini sama dengan
kekejaman syi’ah saat perang Karbala dahulu). Naudzubillahi min dzalik.
Imam Wahhabi
Abdul Aziz dikenal sebagai Ibn Saud di Negara Barat, dan sangat dicintai oleh
majikan Inggrisnya. Banyak pejabat dan utusan Pemerintah Kolonial Inggris di
wilayah Teluk Arab sering menemui atau menghubunginya, dan dengan murah hati
mereka mendukungnya dengan uang, senjata dan para penasihat. Sir Percy Cox,
Captain Prideaux, Captain Shakespeare, Gertrude Bell, dan Harry Saint John
Philby (yang dipanggil “Abdullah”) adalah di antara banyak pejabat dan
penasihat kolonial Inggris yang secara rutin mengelilingi dan mendampingi Abdul
Aziz demi membantunya memberikan apa pun yang dibutuhkannya. Ini adalah
sejarah, bukan karena sebab mereka dekat dengan kultur luar saja.
Dengan senjata,
uang dan para penasihat dari Inggris, berangsur-angsur Imam Abdul Aziz dengan
bengis dapat menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji
Wahhabisme untuk mendirikan Kerajaan Saudi Wahhabi ke 3, yang saat ini disebut
Kerajaan Saudi Arabia. Namun tidak semua anggota kerajaan berfaham Wahhabi,
sehingga dalam intern kerajaan pun terjadi gejolak besar hingga sekarang,
terjadi saling rebut kekuasaan.
Abdul Aziz
beserta para pengikut fanatiknya melakukan pembantaian yang mengerikan,
khususnya di daratan suci Hijaz pada saat pendirian kembali kerajaan mereka.
Mereka mengusir penguasa Hijaz, Syarif yang merupakan keturunan Nabi Muhammad
Saw.
Pada bulam Mei
tahun1919, di Turbah saat hari menjelang tengah malam dengan cara pengecut dan
buas mereka menyerang angkatan perang Hijaz, membantai lebih dari 6.000 orang.
Dan sekali
lagi, pada bulan Agustus 1924, sama seperti yang dilakukan orang barbar,
tentara Saudi-Wahabi mendobrak memasuki rumah-rumah di Hijaz, kota Taif,
mengancam, mencuri uang dan persenjataan mereka, lalu memenggal kepala
anak-anak kecil dan orang-orang yang sudah tua, dan mereka pun merasa terhibur
dengan raung tangis dan takut kaum wanita. Banyak wanita Taif yang segara
meloncat ke dasar sumur air demi menghindari pemerkosaan dan pembunuhan yang
dilakukan tentara-tentara Saudi-Wahhabi yang bengis.
Tentara Saudi
Wahhabi ini juga membunuh para ulama dan orang-orang yang sedang melakukan
shalat di masjid; hampir seluruh rumah-rumah di Taif diratakan dengan tanah
tanpa pandang bulu mereka membantai hampir semua laki-laki yang mereka temui di
jalan-jalan; dan merampok apa pun yang dapat mereka bawa. Lebih dari 400 orang
tak berdosa ikut dibantai dengan cara mengerikan di Taif. Karena sekarang bukan
zaman perang yang dapat dilakukan seperti dahulu, maka sekarang mereka
menyerang dengan cara menyesatkan akidah untuk memecah belah kesatuan terutama
Indonesia yang menjadi negara terbesar Islam di dunia, sehingga dapat
diperdaya, yang menjadi awal pembukaan terjadinya peperangan ketika kita
terpecah. Ini lah ciri akhir zaman yang lambat laun menunjukan kebenarannya.
Cara seperti
ini juga dilakukan Imperialis Belanda ketika mereka menaklukkan
kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia lewat Snouck Hurgronje yang telah belajar
lama di Saudi Arabia dan mengirimnya ke Indonesia. Usaha Snouck berhasil
gemilang, seluruh kerajaan Islam jatuh di tangan Kolonial Belanda, kecuali
Kerajaan Islam Aceh.
Salah satu
provokasi Snouck yang menyamar sebagai seorang ulama Saudi adalah menyebarkan
keyakinan bahwa hadis Cinta pada Tanah Air adalah lemah!(Hubbul Wathan minal
Iman). Dengan penanaman keyakinan ini diharapkan Nasionalisme bangsa Indonesia
hancur, dan memang akhirnya banyak pengkhianat bangsa bermunculan.
Catatan
Penjelasan
Dr. Abdullah Mohammad
Sindi adalah seorang profesor Hubungan Internasional (Professor of
International Relations) berkebangsaan Saudi-Amerika. Beliau memperoleh titel
BA dan MA nya di California State University, Sacramento, dan titel Ph.D. nya
di the University of Southern California. Dia juga seorang profesor di King
Abdul Aziz University di Jeddah, Saudi Arabia. Dia juga mengajar di beberapa
universitas dan college Amerika termasuk di : the University of California di
Irvine, Cal Poly Pomona, Cerritos College, and Fullerton College. Dia penulis
banyak artikel dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggris. Bukunya antara lain :
The Arabs and the West. The Contributions and the Inflictions.
Catatan Kaki:
Banyak
orang-orang yang belajar Wahabisme (seperti di Jakarta di LIPIA) yang menjadi
para pemuja syekh-syekh Arab, menganggap bangsa Arab lebih unggul dari bangsa
lain. Mereka (walaupun bukan Arab) mengikuti tradisi ke Araban atau lebih
tepatnya Kebaduian (bukan ajaran Islam), seperti memakai jubah panjang,
menggunakan kafyeh, bertindak dan berbicara dengan gaya orang-orang Saudi.
Alexei
Vassiliev, Ta’reekh Al Arabiya Al Saudiya [History of Saudi Arabia], yang
diterjemahkan dari bahasa Russia ke bahasa Arab oleh Khairi Al Dhamin dan Jalal
Al-Maashta (Moscow: Dar Attagaddom, 1986), hlm. 108.
Wallahu a’lam
No comments:
Post a Comment